10 Keadaan Darurat Di Dunia

Konflik yang menghancurkan Kongo, Uganda dan Sudan, tiga keadaan darurat terbesar dunia, semakin kecil menarik perhatian media. Reuters Alertnet, situs berita isu kemanusiaan yang dikelola Yayasan Reuters, menanyai lebih dari 100 profesional bantuan kemanusiaan, tokoh media, akademisi dan aktivis mengenai kiris-krisis terlupakan.

 Di bawah ini berturut-turut adalah fakta-fakta penting dari 10 keadaan darurat di dunia.

– Pembunuhan di Kongo: Republik Demokratik Kongo terlanda kekerasan setelah pecah perang saudara yang menghancurkan antara 1998-2003 dan telah menewaskan hampir 4,0 juta orang.
Kekerasan meledak di kawasan timur negara ini sejak akhir tahun lalu dan darah tumpah di wilayah Ituri, menyebabkan sekitar 100.000 orang pergi mengungsi dari rumah-rumah mereka. Puluhan ribu wanita dan anak-anak menjadi korban perkosaan. Sekitar 3,3 juta orang kini di luar jangkauan kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan.

– Rakyat Uganda sudah menderita di bawah peperangan selama 18 tahun antara militer Uganda dengan pemberontak-pemberontak Tentara Perlawanan Tuhan (LRA). Sejumlah 20.000 anak-anak diculik oleh LRA dan dipaksa menjadi tentara anak-anak serta budak pemuas nafsu seks.
Sudah lebih 100.000 orang tewas sejak konflik pecah, dan 1,6 juta jiwa lainnya terusir dari rumah-rumah mereka ke kamp-kamp pengungsian menyedihkan.

– Perang saudara di Sudan selatan tercatat sebagai perang saudara terlama di Afrika, dan dalam dua tahun terakhir konflik baru di wilayah Darfur menambah panjang daftar penderitaan itu.
Puluhan ribu orang sudah tewas dan dua juta lainnya terusir, 4,0 juta orang kemungkinan segera butuh bantuan penyelamat kehidupan. Di selatan, persetujuan perdamaian yang rawan kini diberlakukan setelah perang saudara yang sudah berlangsung 21 tahun.

– Selain itu, wabah AIDS terbesar juga menyerang Afrika dengan dua pertiga dari total 40 juta penderita HIV/AIDS berada di benua hitam itu. Tiga puluh persen orang dewasa di Afrika sub-Sahara terinfeksi dan 14 juta anak-anak menjadi yatim-piatu oleh AIDS.

– Afrika Barat dalam kekacauan: Liberia, Pantai Gading dan Sierra Leone berjuang bagi perdamaian setelah terjadi berbagai konflik yang memaksa anak-anak untuk ikut berperang.

– Konflik Kolombia: hampir tiga juta orang terlantar setelah terjadi konflik di negara ini selama empat dekade. Penduduk sipil terlibat dalam pertempuran antara milisi bersenjatra dan tentara pemerintah yang dipicu oleh perang obat bius dan pelanggaran terhadap undang-undang. Sebanyak 35.000 orang tewas sejak dimulainya konflik itu pada 1990-an.

– Konflik Chechnya: puluhan ribu orang tewas dan ratusan ribu menjadi tuna wisma dalam koflik satu-dasawarsa di republik yang ingin memisahkan diri dari Rusia itu. Menurut sejumlah dokter, sebanyak 80 persen anak-anak menderita trauma.

– Krisis Haiti: kerusuhan politik dan keadaan tanpa hukum berlangsung di negara itu sehingga mengancam pemasokan makanan dan pelayanan kesehatan bagi ratusan ribu penduduknya. Sebanyak 55% warga Haiti hidup dengan pendapatan kurang dari US$1 sehari dan 42% anak-anak masih belum menikmati makanan empat sehat lima sempurna.

– Krisis di Nepal: Kira-kira 11.00 orang tewas dalam konflik selama sembilan tahun antara pemberontak Mao dan kerajaan yang konstitusional. Sebanyak 100.000-200.000 menjadi korban dan terputus tidak menerima bantuan dari dunia internasional.

– Sejumlah penyakit menular: Malaria dan TBC membunuh jutaan orang setiap tahun. Malaria membunuh satu anak Afrika setiap 30 detik, dan TBC membunuh kira-kira dua juta orang setahun di seluruh dunia, termasuk orang-orang yang terinfeksi dengan HIV. (*/tut)

Pembantaian Rwanda Dan Munculnya Islam DI Rwanda

Invasi Belanda Ke Pantai Barat Sumatera (1831)