9 Pertempuran Dahsyat yang Melibatkan Alexander Agung

Pertama-tama Aleksander berperang melawan Kekaisaran Persia yang dipimpin oleh Darius III, kemudian melawan suku-suku di India sampai sejauh Punjabi. Aleksander adalah salah satu komandan militer paling sukses sepanjang masa dan dipercaya tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran. Ketika dia meinggal dunia, dia telah menaklukan sebagian besa dunia yang diketahui oleh orang Yunani kuno.
Aleksander menjadi raja Makedonia setelah kematian ayahnya, Filipus II, yang telah menaklukan sebagian besar negara kota di daratan utama Yunani di bawah hegemoni Makedonia dalam sebuah federasi yang disebut Liga Korinthos. Setelah mengamankan kedaulatan Makedonia dengan menghentikan pemberontakan di Yunani selatan dan melakukan kampanye militer yang pendek namun berdarah melawan tetangga-tetangga Makedonia di utara, Aleksander bergerak ke timur menyerang Kekaisaran Persia Akhemeniyah, yang dipimpin oleh Raja Darius III, yang pada akhirnya berhasil dikalahkan oleh Aleksander. Daerah-daerah yang ditaklukan oleh Aleksander meliputi Anatolia, Suriah, Punisia, Yudea, Gaza, Mesir, Baktria dan Mesopotamia. Dia juga memperluas kekaisarannya sampai sejauh Punjabi di India.
Sebelum meninggal, Aleksander telah membuat rencana ekspansi militer dan perdagangan ke Jazirah Arab, setelahnya dia berniat menyerang ke barat ke Kartago, Romawi, dan Semenanjung Iberia. Akan tetapi, Diadokhoi, para penerus Aleksander, mengabaikan rencana-rencana tersebut. Sebaliknya, beberapa tahun setelah Aleksander wafat, para Diadokhoi malah saling berperang satu sama lain, dan mengakibatkan kekaisaran Aleksander terpecah menjadi beberapa kerajaan, yang terlibat dalam peperangan selama 40 tahun. Berikut adalah sembilan pertempuran dahsyat yang melibatkan Aleksander Agung.
1. Pertempuran Granikos – 334 SM
Pertempuran Sungai Granikos adalah pertempuran yang berlangsung pada bulan Mei tahun 334 SM (Sebelum Masehi) dan merupakan pertempuran besar pertama dan tiga pertempuran besar antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Persia. Terjadi di Asia Minor barat daya, di dekat situs Troya, di sinilah Aleksander mengalahkan pasukan satrap Persia di Asia Minor, termasuk sejumlah besar tentara bayaran dari Yunani yang dipimpin oleh Memnon dari Rodos.
Pertempuran terjadi di jalan dari Abydos ke Daskylium (dekat Ergili, Turki modern), di Sungai Granikos (Biga �ayi modern).
2. Pengepungan Miletos – 334 SM
Pengepungan Miletos adalah konflik naval pertama antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Akhemeniyah. Pengepungan kecil ini ditujukan terhadap para penghuni Miletos, sebuah kota di Ionia selatan, di Karia, yang kini terletak di provinsi Anatolia di Turki modern. Kota ini ditaklukan oleh putra Parmenion, Nikanor pada tahun 334 SM.
Pengepungan Halikarnassos adalah konflik antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Persia Akhemeniyah pada tahun 334 SM. Aleksander, yang tidak memiliki angkatan laut, terus-menerus terancam oleh angkatan laut Persia. Kapal-kapal perang Persia berusaha menyerang Aleksander, yang tidak memiliki satu kapal perang pun. Pada akhirnya, armada Persia berlayar ke Halikarnassos untuk menstabilkan pertahanan baru. Sementara itu, Ada dari Karia, mantan ratu Halikarnassos, digulingkan dari tahtanya oleh suatu pemberontakan. Darius lalu menunjuk Orontobates sebagai satrap di Karia, yang meliputi Halikarnassos dalam yuridiksinya. Ketika Aleksander mendatangi Halikarnassos pada tahun 334 SM, Ada, yang mengendalikan benteng Alinda, menyerahkan benteng itu pada Aleksander.
4. Pertempuran Issos – 333 SM
Pertempuran Issos adalah pertempuran yang terjadi di Anatolia selatan pada bulan November tahun 333 SM. Dalam pertempuran ini, pasukan Aleksander Agung dari Makedonia berhasil mengalahkan pasukan Darius III dari Kekaisaran Akhemeniyah.
Setelah pasukan Aleksander berhasil menyeberangi Hellespont (Dardanelles) dan mengalahkan satrap-satrap Persia yang dipimpin oleh tentara bayaran Yunani, Memnon dari Rodos, dalam Pertempuran Granikos yang terjadi sebelumnya, Darius secara langsung memimpin pasukan untuk menghadapi Aleksander. Dia mengumpulkan tentara dari penjuru kekaisaran dan bermanuver untuk memotong garis suplai Makedonia, memaksa Aleksander untuk melawan balik pasukan Persia. Pertempuran berlangsung di dekat mulut Sungai Pinaros dan sebelah selatan desa Issos.
5. Pengepungan Tyre – 332 SM
Pengepungan Tyre adalah pengepungan terhadap kota Tyre, sebuah basis pantai strategis di Laut Tengah. Pengepungan ini dilaksanakan oleh pasukan Aleksander Agung pada tahun 332 SM dalam kampanyenya melawan Kekaisaran Akhemeniyah (Persia). Pasukan Makedonia tidak meampu menaklukan kota itu dengan cara biasa karena kota itu terletak di sebuah pulau dan memiliki dinding sampai ke laut. Jadi Aleksander memblokade dan mengepung Tyre selama tujuh bulan.
Aleksander Agung memerintahka para insinyurnya untuk memanfaatkan reruntuhan kota kuno dan membangung jalan untuk mencapai dinding kota Tyre. Aleksander lalu mengerahkan mesin kepungnya untuk menyerang dari jalan yang telah dibuat itu dan juga memerintahkan kapal-kapal perangnya untuk menyerang lewat laut. Akhirnya pertahanan Tyre bisa ditembus oleh Aleksander. Dikatakan bahwa Aleksander sangat marah karena pengepungan Tyre ini menghabiskan banyak waktu dan prajuritnya. Dia pun menghancurkan setengah kota Tyre. Menurut Arrianus, Tyre kehilangan 8.000 prajurit sedangkan Makedonia kehilangan 400 prajurit. Aleksander mengampuni keluarga pemimpin kota itu namun 30.000 penduduk Tyre tidak luput dari murka Aleksander. Mereka dijadikan budak.
6. Pengepungan Gaza – 332 SM
Dalam Pengepungan Gaza, Aleksander Agung, dengan cara memanfaatkan mesin-mesin perang yang dia gunakan melawan Tyre, sukses mencapai tembok pertahannya. Setelah tiga kali menyerang dan gagal, benteng di Gaza berhasil direbut oleh Aleksander. Dalam pengepungan ini Aleksander terluka bahunya oleh sebuah panah, selain itu kakinya juga terluka. Bentengnya dibangun di atas bukit dan pertahanannya sangat kuat. ketika Aleksander mendekati Mesir, penduduk Gaza dan sekutu-sekutu Nabatea mereka tidak ingin kehilangan perdagangan yang menguntungkan yang dikendalikan oleh Gaza. Batis, komandan benteng Gaza, menolak menyerah pada Aleksander. Ketika Gaza ditakulkan, seluruh penduduk prianya dibunuh sedangkan penduduk wanita dan anak-anaknya dijadikan budak.
Berdasarkan sejarawan Romawi Quintus Curtius Rufus, Batis dibunuh oleh Aleksander seperti ketika Akhilles membunuh Hektor. Kaki Batis diikat dengan tali dan jasadnya diseret dengan kereta perang. Aleksander melakukannya karena merasa marah akibat penolakan Batis untuk berlutut dan perilaku Batis yang merendahkan.
Pertempuran Gaugamela (pengucapan /?g??g?’mi?l?/) (Ga???�??a) terjadi di Mesopotamia pada tahun 331 SM antara Aleksander Agung dari Makedonia dan Darius III dari Persia. Pertempuran berlangsung di dekat sebuah bukit berbentuk punuk unta, nama etimologi: Tel Gomel atau Tel Gahmal, yang diterjemahkan sebagai “Gunung Unta” dalam bahasa Ibrani, terjemahan lainnya “Kandang Unta” (Plutarch: “Rumah Unta”). Pertempuran dimenangkan oleh Makedonia.
8. Pertempuran Gerbang Persia – 330 SM
Pertempuran Gerbang Persia adalah konflik militer antara Aleksander Agung melawan Kekaisaran Akhemeniyah yang berlangsung di Gerbang Persia. Pasukan Akhemeniyah dikomandani oleh satrap Persis, Ariobarzanes, sedangkan pasukan Makedonia yang menyerang dipimpin oleh Aleksander Agung. Pada musim dingin tahun 330 SM, Ariobarzanes memimpin perlawanan terakhir dari militer Persia dalam menghadapi pasukan Aleksander. Pada akhirnya pasukan Aleksander berhasil menemukan jalan menuju garis belakang pasukan Persia berkat informasi dari tawanan perang.
9. Pertempuran Sungai Hydaspes – 326 SM
Pertempuran Sungai Hydaspes adalah pertempuran antara Aleksander yang Agung melawan Raja Puru pada 326 SM di tepian Sungai Hydaspes (Jhelum) di daerah Punjab dekat Bhera (Pakistan modern). Kerajaan Paurava yang dipimpin oleh Raja Puru terletak di Punja. Pertempuran ini adalah pertempuran besar terakhir yang dilakukan oleh Aleksander. Raja Puru dan pasukannya melawan pasukan Aleksander dengan sengit dan keras. Aleksander bahkan merasa kagum pada pasukan Raja Puru yang gagah berani.
Meskipun menang, pasukan Aleksander menjadi sangat kelelahan. Mereka pun menolak untuk pergi lebih jauh lagi di India. Akhirnya, setelah menaklukan beberapa klan India di sekitar sungai Indus dan mendirikan kota-kota yang akan berfungsi sebagai pos terdepan serta pusat perdagangan, Aleksander kembali ke Babilonia.
Sumber: http://id.wikipedia.org

Penaklukan Romawi di Britania

Rahbar: Semua Harus Posisikan Diri di Medan Perang Melawan Musuh