"Yerussalem adalah Bom Waktu yang Siap Meledak"

Yerusalem terjajah adalah kota seperti layaknya sebuah bom waktu yang terus berdetak dan siap meledak sewaktu-waktu. Dimana setiap serangan dari para ekstremis Yahudi terhadap situs suci umat Muslim tersebut akan memupuskan peluang tercapainya perdamaian dengan Palestina dan merusak stabilitas di seluruh dunia Muslim, hal tersebut disampaikan oleh duta besar Yordania, Pangeran Zeid Raad Zeid al-Hussein, kepada Washington Times dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pada hari senin.
Al-hussein mengatakan bahwa pemerintahan Obama tampaknya tidak terlalu menyadari situasi yang rawan di Yerusalem dan pentingnya kota tersebut bagi Palestina dan negara-negara Arab lainnya. Dia mengatakan bahwa pengabaian isu Yerusalem dan pemukiman Yahudi ilegal, sebagaimana yang diajukan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, akan memadamkan peluang kesepakatan damai.
Jumlah insiden antara pasukan keamanan Israel dan para pengunjuk rasa Palestina terus meningkat di kota yang diklaim Israel sebagai lokasi kuil Yahudi tersebu. Puluhan orang mengalami luka-luka dan ditangkap dalam beberapa pekan terakhir.
Mengacu pada bentrokan antara petugas keamanan Israel dan para pengunjuk rasa Arab di Yerusalem dalam beberapa minggu terakhir, duta besar Yordania tersebut menjelaskan kekhawatiran kerajaan Hasyimi tersebut mengenai peristiwa yang terus terjadi, karena akan mengarah pada peristiwa tahun 1969, yakni upaya pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh Denis Michael Rohan asal Australia.
Rohan adalah seorang penganut Kristen, yang kemudian ditangkap dan dinyatakan mengalami gangguan pada mental.
Rohan menyebut dirinya sebagai “utusan Tuhan” dan mengatakan bahwa dirinya melakukan pembakaran tersebut atas “bisikan suci”. Dia dimasukkan di rumah sakit jiwa dan kemudian dideportasi dari Israel.
“Kami khawatir bahwa dalam jangka pendek, ada kejadian semacam itu yang mungkin terulang lagi,” kata al-Hussein. “Hal itu akan membakar emosi secara berlebihan, (dan) konsekuensinya akan menjadi amat parah.”
Di memperingatkan bahwa AS tampaknya tidak menyadari konsekuensi serius yang diakibatkan dari kejadian semacam itu terhadap proses perdamaian, dan juga bagi seluruh kawasan Timur Tengah.
Ancaman serangan terhadap situs keagamaan seperti Masjid Al-Aqsa adalah hal yang benar-benar akan merusak dan membalikkan kebijakan AS,” kata Zeid. “Namun, tidak ada pembahasan mengenai hal ini di Washington. Ada sesuatu yang tidak benar.”
Diplomat Yordania tersebut mengatakan bahwa solusi dua negara akan menjadi hal yang tidak berguna jika pemerintah Israel terus bersikeras dan menolak untuk membahas status ibukota.
“Jika masalah Yerusalem terus dibiarkan berlarut-larut, jika masalah Yerusalem tidak dapat diselesaikan, maka tidak ada kesepakatan yang akan tercapai, bahkan jika mereka bernegosiasi mengenai tempat-tempat lain,” katanya. “Mengapa (rakyat Palestina) harus melakukan negosiasi? Tidak ada tujuan dibelakangnya. Apa keuntungan yang bisa diperoleh negara-negara Arab?”
“Jika tidak ada solusi dua negara karena masalah Yerusalem, apakah ada jalan lain?” tanya al-Hussein.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hanya mengajukan penundaan pembangunan pemukiman baru di Tepi Barat, dimana Israel akan diperbolehkan untuk membangun atau menyelesaikan 3.000 unit rumah. Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton tampaknya menyetujui hal tersebut dalam kunjungan terakhirnya ke Timur Tengah. Hal tersebut berlawanan dengan tuntutan awal pemerintah Obama agar Israel membekukan pembangunan pemukiman.
Sesaat setelah bertemu dengan Clinton pada bulan lalu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan pada bulan Januari tersebut. Para ajudannya mengatakan bahwa keputusan tersebut ada kaitannya dengan sikap memihak Clinton terhadap Israel dalam isu pemukiman Yahudi ilegal. (dn/jp/wt)
Sumber: http://suaramedia.com

Tipu Sultan, Sang Penguasa Zaman Kesultanan Mysore

Permainan Perang Jadi Gerbang Rencana Rusia di Polandia