"Amerika adalah Negara Pecandu Minyak yang Gila Perang"

Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, mengatakan bahwa segala bentuk krisis lingkungan yang melanda dunia berakar dari kapitalisme dan materialisme.
Berbicara di hadapan konferensi perubahan iklim yang disponsori PBB di Kopenhagen, Denmark, Ahmadinejad mengatakan bahwa ajaran kapitalisme membuat manusia mengacak-acak alam dan mendorong mereka untuk menguras sumber daya alam, lebih dari yang diperlukan.
“Pendekatan yang berorientasi keuntungan terhadap sumber daya yang ada di dunia harus dihindari,” kata Ahmadinejad.
Ahmadinejad menambahkan bahwa Iran mendukung penuh protokol Kyoto. Ia mendesak para pemimpin dunia untuk memegang teguh komitmen internasional. “Emisi yang ditimbulkan oleh efek rumah kaca telah menghantam keras planet bumi.”
Ahmadinejad menuding AS dan para sekutunya telah berupaya menghalang-halangi penggunaan teknologi canggih oleh negara-negara lain.
Ahmadinejad juga mengecam AS dan menyebut negara Paman Sam itu sebagai negara pecandu minyak yang gila perang.
“Selama sekitar satu abad lamanya, minyak telah menjadi komponen yang paling dasar dan strategis dalam kebijakan luar negeri AS, hal yang sama seperti yang dilakukan oleh para penguasa AS sebelumnya,” kata Ahmadinejad.
“Dalam periode tersebut, wilayah-wilayah penghasil minyak di dunia menjadi ajang peperangan dan petualangan militer yang mengarah pada dominasi negara asing dalam hal sumber energi,” tambah Ahmadinejad.
Ahmadinejad mengatakan bahwa AS telah melahap seperempat cadangan minyak dan energi dunia, meski penduduk negara tersebut hanya berjumlah lima persen dari penduduk dunia.
“Hampir 40 persen kendaraan bermotor di dunia bergerak di negara tersebut, (kendaraan bermotor tersebut digerakkan) dengan menjajah dan menguasai ladang minyak di negara-negara lain.”
Presiden Iran tersebut mengatakan bahwa semua negara harus diberikan kebebasan untuk mempergunakan sumber-sumber energi yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui untuk memerangi perubahan iklim, termasuk di dalamnya tenaga nuklir.
“Seluruh negara harus mendapatkan akses terhadap teknologi baru untuk memperkaya sumber energi masing-masing. Mempergunakan energi yang bersih dan dapat diperbaharui, seperti tenaga angin, matahari, gelombang laut, energi panas bumi dan energi nuklir,” kata Ahmadinejad.
Ahmadinejad mengecam Washington karena telah menghalang-halangi upaya Teheran untuk memerangi perubahan iklim dengan cara menentang program nuklir damai Iran.
“Para pemimpin Amerika dan para sekutunya menekankan bahwa (Iran hanya boleh) mempergunakan bahan bakar fosil. Mereka (AS dan para sekutunya) melakukan berbagai cara pemaksaan untuk mencegah pengembangan teknologi baru yang bertujuan untuk mendorong penggunaan energi yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui.”
Ahmadinejad menyerukan kepada negara-negara besar dunia, khususnya AS, untuk mengalihkan sebagian dana militernya untuk memerangi polusi yang semakin mengotori bumi.
“Anggaran militer AS hampir setara dengan gabungan anggaran militer sebagian besar negara di dunia, AS juga berperan aktif dalam semua konflik bersenjata dan peperangan di muka bumi ini,” kata Ahmadinejad.
Ahmadinejad mengatakan bahwa Iran siap untuk berbagi hasil penelitian dan pengalaman penggunaan energi ramah lingkungan dengan negara-negara lain.
Presiden Iran tersebut dijadwalkan untuk melakukan dialog dengan sejumlah pemimpin negara asing di sela-sela berlangsungnya konferensi perubahan iklim di Kopenhagen. (dn/an/sk)
Sumber: http://suaramedia.com

Taruhan 51:49 Tony Blair Berdampak Kematian Jutaan Warga Irak

Rusia Rampungkan Negosiasi "Burung" Mata-mata Dengan Israel