Aisyah, Putri Gaddafi: "Kami adalah Orang-orang yang Tidak Dapat Dikalahkan"

Dari kompleks ayahnya, yang pernah dihancurkan oleh bom AS persis 25 tahun yang lalu, putri Muammar Gaddafi mengirimkan pesan menantang Jumat pagi ini (15/4): “Libya tidak akan dikalahkan oleh serangan udara dan tidak akan kalah sekarang,” dia mengatakan kepada kerumunan massa pendukung Gaddafi yang sedang bersorak-sorai.
Putri Gaddafi, Aisya, berdiri sambil mengepalkan tangan kanannya ketika dia memimpin massa pro Gaddafi dari balkon lantai dua kompleks Bab Aziziyah yang rusak parah, yang pernah menjadi target serangan oleh pesawat-pesawat tempur AS pada tahun 1986. “Tinggalkan langit kami dengan bom anda,” katanya, merujuk pada serangan udara NATO yang melanda Tripoli hanya beberapa jam terjadi sebelumnya.

Gaddafi, berkuasa selama 42 tahun, telah menguji masyarakat internasional dengan penyelesaian masalah di medan perang. Pada hari Kamis kemarin (14/4), pasukannya mengepung kota Libya barat Misrata, di mana pemberontak di sana berada di posisi yang dekat dengan kawasan pelabuhan, satu-satunya link bagi mereka ke dunia luar.
Pemimpin Libya Gaddafi memiliki sejarah panjang dan bermasalah dengan Barat. Pada era 1980-an, ia dituduh sebagai sponsor kelompok militan, dan dinas rahasia Libya dituduh bertanggung jawab atas serangan bom 5 April 1986 terhadap sebuah tempat disko di Berlin yang menewaskan dua prajurit Amerika. Sepuluh hari kemudian, pesawat-pesawat tempur AS menyerang sasaran di Benghazi dan Tripoli, termasuk kompleks Gaddafi di Bab Aziziyah. Puluhan tewas dalam serangan itu. Gaddafi sendiri tidak pernah memperbaiki Bab Aziziyah, bahkan mengubahnya menjadi museum.
Ratusan orang turun ke jalan Kamis malam kemarin dan Jumat pagi ini, meneriakkan slogan-slogan pro-Gaddafi, seperti “Hanya Allah, Libya dan Muammar,” dan “Rakyat ingin Muammar sebagai pemimpin mereka.” Massa semakin bergembira ketika putri Gaddafi, Aisya muncul di balkon kompleks Bab Aziziyah memberi semangat.
“Biarkan saya kembali ke masa lalu ketika saya masih kecil, ketika saya berusia sembilan tahun, di rumah ini,” katanya. “Sebuah hujan rudal dan bom ditembakkan. Mereka mencoba membunuhku. Mereka menewaskan puluhan anak-anak Libya.” kata Aisyah dengan penuh semangat.
“Sekarang, setelah 25 tahun, rudal yang sama, bom yang sama, menghujani di kepala anak-anak kita,” katanya. “Kami adalah orang yang tidak dapat dikalahkan,” tambahnya.(fq/ap)
Sumber: http://www.eramuslim.com

Beberapa Catatan Tentang Perang Dunia I

Massa Anti dan Pro Gaddafi Bentrok di Depan Markas Liga Arab di Kairo