Amerika: Serangan di Irak Diperkirakan Meningkat Selama Ramadhan

AS memperkirakan serangan-serangan di Irak berlanjut semakin kuat ketika bulan suci Ramadhan dimulai minggu ini, seorang jenderal tingkat atas Amerika memperingatkan setelah ledakan di kota bagian selatan Basra berakibat pada salah satu akhir pekan yang paling mematikan dalam bulan-bulan terakhir.
Letnan Jenderal Robert W. Cone, deputi jenderal komando pasukan AS di Irak, dan rekan Irak mengatakan pada para reporter bahwa pasukan perlawanan juga kemungkinan besar mengambil keuntungan dari kurangnya pemerintahan Irak untuk meluncurkan serangkaian serangan yang mencolok yang bertujuan untuk mengurangi kepercayaan pada pasukan keamanan Irak.
“Kami telah melihat dalam beberapa hari terakhir sebuah peningkatan pada serangan-serangan di sini, khususnya serangan Basra yang kami lihat kemarin, yang melibatkan korban-korban yang signifikan dan juga menghasilkan kekhawatiran yang signifikan,” Cone, yang bertanggung jawab atas operasi untuk angkatan bersenjata Irak – AS.
Basra, pelabuhan laut utama dan penting untuk pembangunan ulang, dijadikan target bom.
Pejabat polisi Irak pada awalnya mengatakan bahwa ledakan di sebuah pasar yang ramai pada akhir pekan lalu adalah akibat dari sebuah generator yang meledak. Bagaimanapun juga, pada Minggu waktu setempat, ketika korban meningkat sampai sedikitnya 43 meninggal dan 185 terluka, banyak dari korban tersebut adalah wanita dan anak-anak, hal itu menjadi jelas bahwa bom pinngir jalan dan sebuah bom mobil bertanggung jawab atas ledakan tersebut.
Basra, kota terbesar kedua Irak dan ibu kota dari daerah minyak bagian selatan, pada umumnya telah melarikan kekerasan Baghdad sejak pasukan Irak menyingkirkan milisi Syiah dua tahun lalu.
“Secara tradisional, kami telah melihat sebuah peningkatan serangan pada bagian awal dan hanya mendekati Ramadhan,” Cone mengatakan.
Bulan suci Ramadhan, yang berputar berdasarkan penanggalan bulan, diumulai lebih awal pada Selasa waktu setempat.
Secara politik menghubungkan semangat keagamaan cenderunng menaik selama bulan tersebut, saat di mana para Muslim meyakini bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. Muslim yang taat menjauhkan diri dari makan atau minum bahkan air dari matahari terbit sampai matahari terbenam untuk meningkatkan kesabaran dan kerendahan hati.
Dengan temperatur yang melayang-layang sekitar 120 derajat dan kekurangan listrik yang parah, Ramadhan kali ini diperkirakan menjadi berat bagi sebagian warga Irak.
Upaya-upaya untuk membentuk sebuah pemerintahan lebih dari lima bulan setelah warga Irak ikut dalam pemilihan telah diperlama oleh ketidaksepakatan di antara partai-partai politik utama atas siapa yang seharusnya menjadi perdana menteri, dan sedikit perkembangan diharapkan sampai setelah Ramadhan berakhir pada Spetember. Pejabat Irak berpikir bahwa banyak dari serangan beberapa waktu terakhir ditujukan mendiskreditkan pemerintahan Irak yang berlangsung dengan menunjukkan bahwa pemerintahan tersebut tidak dapat mengendalikan keamanan.
“Situasi politik yang dilewati negara tersebut mendorong terorisme bekerja dengan semua bebannya untuk mengubah wacana proses politik,” Jenderal Ali Ghaidan, komando pasukan bawah tanah Irak, mengatakan pada reporter Senin waktu setempat.
“Tanpa sebuah pemerintahan yang berkuasa, hal itu akan menjadi sebuah waktu yang tepat jika musuh memiliki kapasitas yang akan mengupayakan melakukan banyak hal,” Cone mengatakan. “Apa yang mereka berusaha lakukan adalah menciptakan serangan yang mencolok � yang mereka tidak dapat pertahankan sangat lama namun apa yang mereka sedang lakukan adalah mengambil kesempatan mereka untuk menciptakan kesan ketidakstabilan.”
Bagaimanapun juga, keduanya, Cone dan Ghaidan mengatakan bahwa selama pasukan tempur Amerika yang tersisa ditarik bulan ini, Angkatan Darat Irak akan dapat mempertahankan keamanan.
Serangan, khususnya pada polisi Irak, telah bertambah kuat baru-baru ini. Pejabat Irak telah mengabarkan antara 300 dan 500 warga Irak terbunuh dalam serangan bulan Juli. Pejabat militer AS, yang tidak biasanya mengungkpakan jumlah korban, telah membantah angka tersebut, mengatakan bahwa kurang dari 200 meninggal dalam serangan, namun mereka tidak dapat menjelaskan ketidaksesuaian tersebut.
Juru bicara militer AS Mayor Jenderal Steve Lanza selama akhir pekan mengatakan bahwa al-Qaeda di Irak dan kelompok yang lain muncul untuk berusaha mendapatkan kembali tempat tumpuan di provinsi Anbar dan Baghdad setelah jaringan mereka telah secara signifikan terlemahkan oleh operasi AS dan Irak.
Di Ramadi, ibu kota Anbar, sebuah bom bunuh diri mobil di sebuah pompa bensin membunuh enam orang pada Minggu waktu setempat.
Pada senin waktu setempat di Baghdad, dua polisi lalu lintas dan seorang warga sipil terbunuh dalam sebuah pengeboman di dekat markas besar polisi di Ghazaliya, barat Baghdad. Seluruhnya, hampir 30 polisi lalu lintas dan kota dipercaya terbunuh dalam beberapa bulan terakhir. (ppt/kc)
Sumber: http://suaramedia.com

Tentara Bayaran di Sierra Leone – Studi Kasus Tentang Keterlibatan Tentara Bayaran Executif Outcomes (EO) dalam Penumpasan RUF dan Penjualan Senjata di Sierra Leone

Barat Pasok Senjata ke Milisi Pro Al-Qaeda di Pakistan