Bahan Bakar Revolusi Seluruh Dunia Arab

Mohamed Bouazizi tidak tahu, ketika ia membakar dirinya memicu revolusi “musim semi Arab”. Tetapi adakah pemuda itu kecewa dengan keadaan di negaranya?
Tindakan Bouazizi melakukan protes – membakar dirinya sendiri di depan gedung pemerintah di Sidi Bouzid, Tunisia – melahirkan gerakan demonstrasi massal di seluruh Tunisia, dan kemudian menjadi inspirasi gerakan revolusi ke seluruh dunia Arab dan Afrika Utara. Ini merupakan gerakan rakyat yang paling mendasar sepanjang sejarah Arab. Revolusi di dunia Arab dan Afrika Utara menjadi simbol baru bagi sebuah perubahan yang menyeluruh di abad 21 ini.
Peristiwa revolusi yang ada sekarang di dunia Arab dan Afrika Utara, di mulai dari hal-hal yang sederhana. Berangkat dari kehidupan keseharian. Seperti dituturkan oleh paman Bouazizi, Ridha, bahwa keponakannya adalah seorang penjual buah keliling. Ridha mengatakan, pemerintah sering meminta uang suap. Aparat sering mencuri barang (buah) dari dagangan mereka, tanpa mau membayar sepeserpun.
Kematian keponakannya, katanya, adalah akibat korupsi yang sudah mengakar di Tunisia. Korupsi, aparat yang rakus dan kejam, menyebabkan anak-anak muda Tunisia menjadi putus asa. Tetapi, mereka tidak ada jalan keluar, ketika menghadapi kondisi yang ada. Karena, pemerintah selalu menggunakan militer, polisi, dan aparat intelijen menghadapi rakyat yang putus asa itu, tutur Ridha.
“Karena, kekejaman tirani membuat Muhammad Bouazizi membakar diri,” katanya. Bouazizi tidak banyak pilihan. Setiap hari harus berhadapan dengan aparat (Trantib), yang merampas dagangannya, dan berulang-ulang. Sehingga, Bouazizi tidak lagi memiliki dagangan, dan tidak dapat menghidupi dirinya lagi. Inilah yang membuat Bouazizi menjadi putus asa. Sementara mau bekerja di bidang lain, tidak memiliki kemampuan, dan pendidikannya sangat rendah.
Tirani di Tunisia bukan sesuatu yang baru. Ia sudah berlangsung dalam waktu yang panjang. Semuanya menyebabkan rakyat menjadi menderita. Rakyat kehilangan hak-hak dasar kehidupan mereka. Tirani yang hanya bermodalkan aparat militer, polisi, dan intelijen, yang dididik untuk bertindak kejam dan biadab terhadap rakyat. Inilah bahan bakar yang menyulut revolusi di seluruh dunia Arab dan Afrika Utara.
Seluruh prototipe penguasa di dunia Arab dan Afrika Utara, sangat kejam, tamak, ambisius, dan hanya mengandalkan dukukungan militer, polisi, dan intelijen. Hanya dengan cara itu mereka mempertahankan kekuasaan berpuluh tahun. Sementara mereka membiarkan rakyatnya menjadi miskin dan hina.
Bagaimana Presiden Zine El Abidine Ben Ali, ketika menghadapi aksi protes oleh rakyatnya di seluruh negeri? Dengan kekerasan. Penguasa tiran itu, mengerahkan aparat militer, polisi, dan mukabarat (intelijen) untuk menghancurkan gerakan rakykat. kematian di mana-mana.
El Abidin menghadapi tuntutan rakyatnya, hanya dengan bedil dan senjata. Tidak menggunakan pendekatan lainnya, dan bersikap lebih persuasif (lunak), dan mengakomodasi keinginan rakyatnya. Tetapi, segalanya sudah terlambat dan tak berguna lagi.
El Abidin telah memupuk kebencian rakyatnya yang berlangsung puluhan tahun. Selama kekuasaannya yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman. Mula-mula rakyat yang marah, kecewa dan frustasi menjadi “the silent mayority”, dan tidak berbuat. Pemuda yang menganggur, tida memiliki pekerjaan apapun, mahalnya kebutuhan pokok yang tak terbeli, dan semakin beratnya beban kehidupan. Terus berlangsung.
Bouazizi yang mati syahid di usianya 26 tahun-seperti menjadi kekuatan yang “ajaib” mampu menggerakkan rakyat Tunisia. Kematian seperti meteor yang melesat di langit, dan pecah membawa kembang api, dan kemudian menjadi sebuah revolusi. Inilah awal sejarah revolusi di dunia Arab dan Afrika Utara, yang tanpa batas. Menjungkirkan semua tiran, yang sudah berkuasa berpuluh tahun dengan penuh kekejaman, ketamakan, serta ambisi yang pernah padam. Tak lagi yang taku dengan kematian. Moncong-moncong mereka hadapi, hanya demi sebuah perubahan, yang menjadi tujuan individu rakyat.
Kemudian, empat bulan waktu berjalan. Selanjutnya, kita melihat sekeliling dunia Arab dan Afrika Utara mendidih. Di mana aksi protes bagaikan badai gurun pasir, yang menyapu seluruh daratan Arab dan Afrika Utara, mulai ujung paling barat, ke Mauritania, Aljazair, Maroko, dan bagian timur ke Suriah, Yaman, Yordania, Iran, dan Oman. “Badai Gurun” revolusi itu bertiup sangat kencang dan dahsyat menyapu rezim-rezim diktator tanpa memberi waktu jeda.
Rakyat di dunia Arab dan Afrika Utara dapat melihat bagaimana Bouazizi dengan beraninya mengorbankan dirinya sendiri untuk melawan rezim di negara itu. Dengan membakar diri. Keberanian Bouazizi itu telah menghilangkan rasa takut anak-anak muda Arab dan Afrika Utara, dan mereka berani menghadapi para kaki tangan penguasa, tentara, polisi dan aparat intelijen, yang selama ini menjadi “hantu” bagi mereka.
Bouazizi adalah menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Anak muda yang drop out dari sekolah, dan ia ingin agar adiknya bisa sekolah. Semuanya karena kemisikinan. Kemiskinan hadir dalam kehidupan keluarganya, dan semuanya hanyalah karena kejahatan para tiran di negara. Pemuda itu hanya berbekal sebuah gerobak, dan berjualan buah di sekitar kota Tunis, dan mendapatkan uang dari dagangannya sebesar $ 10 dolar (Tunis) per hari. Peristiwa yang membuatnya putus asa, ketika seorang aparat datang, menghampirinya, kemuidan menghancurkan gerobak yang berisi buah-buahan miliknya. Perisitiwa itu berlangsung pada 17 Desember, 2010. Inilah awal mula pembrontakan anak-anak muda di dunia Arab dan Afrika Utara, yang sampai sekarang belum selesai.
Kisah Bouazizi yang menadapat “covered’ media, meledak mengalahkan ledakan sebuah rudal Nato. Kisah pemuda Tunisia yang membakar diri itu, hanya berakar dari ekses bangkrutnya sebuah negara, akibat negara berada di tangan seorang tiran, yang tidak becus mengelola negara, dan membiarkan rakyatnya menderita, tanpa akhir. Sementara itu, para pejabat, tentara, polisi, intelijen terus menerus mencengkeram mereka.
Disisi lain, para penguasa di negeri itu, hidup dengan bergelimang harta, hidup di Castil dan Istana, yang mewah di penggir pantai, yang berada di luar jangkauan imajinasi manusia. Mereka dengan sangat tega mengeruk kekayaan negara. Mereka dengan sangat tega menghabiskan uang negara, hanya untuk berbelanja di Paris, London, Itali, sambil isteri Presiden menggunakan jet pribadi yang sangat mewah. Anak-anaknya, keluarganya, sanak familinya, semuanya menjadi bagian dari kekuasaan. Karena itu, mereka yang menjadi kroni El Abidin, mereka juga menikmati “hak-hak istemewa”, dan tanpa batas.
Bouazizi pelopor dan inspirator yang penting, ketika seorang tiran sudah mencekik kehidupan mereka, dan anak muda itu menegaskan perlawanan dan perjuangan, tanpa lagi mempedulikan dirinya. Inilah simbol keberanian. Simbol perjuangan dan perlawanan yang tiada tara. Saat rakyat masih dicengkam ketakutan, ketidak berdayaaan, dan lemah dihadpan para tiran. Bouzizi mengawali dan memberikan contoh yang riil, bagaimana cara menghadapi rezim yang sangat jahat, dan telah menghancurkan negaranya.
Protes di dunia Arab dan Afrika karena didorong oleh tekad yang sama. Keberanian kolektif, dan hilangnya rasa takut. Tak adanya gunanya lagi memikirkan nasib, nyawa, dan kematian. JIka harus menemui kematian bagi seribu, satu juta rakyat, dan itu merupakan tuntutan untuk mengakhiri kejahatan rezim yang tiranik, maka itu harus dikorbankan. Demi masa depan. Keadilan. Sejarah masa depan. Kehidupan yang layak, sebagaimana kehidupan itu sendiri. Revolusi hanyalah salah satu cara. Bouazizi tidak lagi menangis, dan merendah, sesudah penindasan yang berlangsung bertahun-tahun. Pemuda itu, bertekad semuanya harus berakhir.
Mereka turun ke jalan. Mereka mengecam kejahatan para tiran. Mereka menuntut agar tiran itu segera pergi. Mereka memilih lebih baik ditembak mati oleh tentara, polisi, atau ditangkap aparat intelijen yang mengelilingi mereka, dibadingkan harus tetap hidup dibawah kekuasaan tiran yang sangat menghinakan. Mereka tak mau lagi hidup dibawah kekuasaan rezim yang sudah bangkrut secara moral.
Ada berbagai dari para tiran Arab dan Afrika terhadap rakyatnya. Negara-negara seperti Yaman, Suriah, Oman dan Jordan, menawarkan konsesi dan berjanji untuk membuat kehidupan rakyat lebih baik. Mencabut undang-undang darurat. Membagi kekayaan negara kepada rakyat. Seperti yang dilakukan Raja Abdullah, yang menggelontorkan puluhan miliar dolar kepada rakyatnya. Asal para raja dan tiran tetap berkuasa. Tetapi, rakyat di dunia Arab dan Afrika, tidak lagi buta dalam melihat penguasa mereka. Rakyat tidak mau lagi diiming-imingi dengan sekadar “permen”, yang tidak berguna bagi kehidupan mereka. Mereka menginginkan para penguasa itu, segera pergi dari kekuasaan dan negaranya.
Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menyatakan mengundurkan diri, tetapi semuanya belum pasti. Saleh melemah, karena kehilangan dukungan dari tentara, dan para jenderal. Kepala suku telah meninggalkannya. Pemimpin Suriah, Bashar al-Assad memilih cara seperti ayahnya Hafez al-Assad, yaitu dengan mengirimkan ribuan tentara dan pasukan lapis baja, ketika menghadapi rakyatnya. Pemimpin Libya Muammar Gadhafi, lebih-lebih lagi, ia menggunakan gas mustard (syaraf), yang sudah dilarang oleh konvensi Jenewa, ketika menghadapi tuntutan mundur rakyatnya. Gadhafi sudah berkuasa selama 42 tahun, dan masuk menolak untuk mundur.
Para tiran yang menolak pergi dan mundur dari jabatan kekuasaannya, sudah kehilangan momentum, dan sejarah akan mencatatnya sebagai tiran yang “bebal”, dan tidak mengerti arti dinamika kehidupan sejarah.
Mereka yang tetap ingin berkuasa dengan menggunakan cara-cara kotor, akhirnya nanti akan ditelan sejarah, dan dicatat sebagai penjahat perang, dan akan diadili di mahkamah kejahatan internasional. Beranikah mereka? Menanggung seperti yang dialami olem Rwanda atau Serbia (Slobodan Milosevik), dan sekarang harus mendekam di penjara Den Haaq, karena kejahatannya.
Bashar al-Assad mengulangi sejarah kelam ayahnya Hafez al-Assad yang membantai 10.000 lebih penduduk Hama, tahun l982. Meratakan kota Hama dengan tanah. Sekarang Bashar mengulangi pragmentasi sejarah yang pernah dilakukan oleh ayahnya Hafez, dan mengirimkan ribuan tentara dan tank lapis baja ke kota-kota yang berkecamuk, ketika rakyat marah, dan menginginkan dirinya mundur dari kekuasaannya.
Tetapi, para tiran lupa, dan menutup mata, bahwa sekarang rakyat tidak lagi takut akan kematian. Rakyat berbondong-bondong ke jalan ingin mencari kematian, kalau itu menjadi jalan menuju sebuah perubahan.
Mereka sudahm tidak sanggup lagi hidup lebih lama lagi dibawah para tiran, yang menghancurkan kehidupan mereka. Rakyat hanya melihat bayangan “Bouazizi”, yang terus nampak, sambil tersenyum melihat revolusi, yang bagaikan “Badai Gurun”, yang sekarang terus bergerak menyapu para tiran di dunia Arab dan Afrika. (mh)
Sumber: http://www.eramuslim.com

PBB: Israel Membantai 1.300 Anak-anak di Gaza Sejak Tahun 2000

Di Balik Detik-Detik Terakhir Hosni Mubarak