Bandingkan Libya dan Afghanistan, Fox Kobarkan Ketakutan

Liam Fox, Menteri Pertahanan Inggris, telah mengobarkan rasa takut akan sebuah peranan Inggris yang diperpanjang di Libya dengan membandingkan konflik di sana dengan konflik di Afghanistan, di mana pasukan Inggris telah bertempur selama hampir satu dekade.

Ucapan-ucapannya tersebut datang ketika Perancis dan Italia mengikuti peranan penting Inggris dan mengirimkan tim-tim penasihat militer ke Libya untuk mendukung para pemberontak yang telah berjuang melawan pasukan Kolonel Moammar Gaddafi.

Amerika mengumumkan bahwa pihaknya memberikan para pemberontak $25 juta peralatan militer, termasuk radio dan peralatan medis, namun tidak memiliki rencana untuk menyebarkan “pasukan AS di medan tempur”.

Inggris pekan ini mengirimkan 10 petugas militer senior ke Benghazi untuk membantu para pemberontak yang sangat kurang terorganisir menjadi sebuah pasukan tempur yang kredibel. Perancis dan Italia juga mengirimkan masing-masing 10 staf.

Misi militer telah memprovokasi peringatan bahwa Inggris sedang tersedot lebih dalam ke dalam sebuah konflik terbuka dengan tidak ada strategi keluar yang jelas.

Berbicara di Roma, Dr. Fox menyarankan bahwa cara terbaik untuk Inggris mengurangi keterlibatannya di Libya adalah mendukung para pemberontak. Ia mengatakan bahwa situasi di Libya “tidak begitu berbeda dari apa yang terjadi di Afghanistan, di mana kami telah memutuskan bahwa melatih pasukan keamanan sehingga Afghanistan sendiri dapat menjaga keamanan mereka adalah cara terbaik untuk bergerak maju.”

Pasukan Inggris telah disebarkan di Afghanistan sejak tahun 2001, dan para menteri telah mengatakan bahwa peranan mereka di sana akan berakhir sampai setidaknya tahun 2015. Para pejabat telah mengatakan bahwa misi Inggris di Libya dapat berlangsung beberapa bulan ketika negara tersebut menetap menjadi sebuah kebuntuan militer.

Banyak dari para pemberontak Libya “tidak memiliki pengalaman militer, merekat memiliki sedikit pemahaman tentang persenjataan atau taktik militer,” Dr. Fox mengatakan. “Cara terbaik yang di dalamnya kita dapat membantu mereka adalah memberikan mereka beberapa kemampuan teknis di dalam bagiamana mengorganisir diri mereka sendiri.”

Para menteri telah mengatakan bahwa personil Inggris tidak akan terlibat di dalam operasi pertempuran. Namun Bon Ainsworth, menteri pertahanan dari partai Buruh, mengatakan bahwa upaya-upaya untuk mendukung para pemberontak tidak akan cukup untuk memberikan keseimbangan kekuasaan ,berarti bahwa Inggris bisa saja terpaksa untuk menyebarkan pasukan di medan tempur.

“Bahayanya adalah kami melakukan cukup banyak untuk membuatnya tetap berlangsung, tidak cukup untuk menyelesaikannya,” ia mengatakan. “Inilah yang selalu menjadi resikonya. Di beberapa titik, pasukan medan tempur akan dibutuhkan.” David Cameron dikatakan menjadi “sangat tidak sabar” dengan situasi di Libya, dan menempatkan tekanan pada para menteri dan komandan untuk memunculkan gagasan yang kemungkinan akan memecah kebuntuan.

Banyak sumber mengatakan bahwa pimpinan dinas tersebut merasa waspada tentang tuntutan Perdana Menteri tersebut. “Ada kebutuhan untuk menjadi lebih sedikit memahami tentang apa yang mungkin dan yang tidak mungkin dengan sumber daya yang kami telah berikan,” ujar seorang sumber pertahanan.

Pada Rabu malam, para pejuang pemberontak terdampar di Misurata mengklaim bahwa mereka telah membunuh 50 pasukan setia kepada Kolonel Gaddafi dan menangkap 14 truk amunisi dalam salah satu dari kemenangan terbesar mereka atas serangan tersebut.

Dua pihak yang terlibat di dalam pertempuran sengit menuju timur kota tersebut, di mana pasukan rejim tersebut berusaha untuk mendobrak masuk dan memutus pasukan pemberontak dari dok-dok Ghasr Ahmad.

Seorang juru bicara untuk pemberontak mengatakan: “Kami menangkap 14 kendaraan penuh dengan amunisi dan empat senjata anti-pesawat yang dipasangkan pada kendaraan. Kematian pasukan Gaddafi lebih dari 50 orang dengan banyak yang ditahan. Tidak ada martir dari pihak kami, namun banyak yang terluka.” (ppt/tlg)

Sumber: http://suaramedia.com

Prancis Prihatin Ekspansi Perluasan Rumah Pemukim Yahudi di Yerusalem

Tinggalkan Tank, Pasukan AS Berjalan Kaki ke Afghanistan