Belajar Dari Jatuhya Diktator Tunisia

Adakah kejatuhan Presiden Tunisia, El Abidine Ben Ali, yang sudah berkuasa lebih dari 23 tahun itu, berdampak terhadap rejim-rejim diktator di Timur Tengah? El Abidine sekarang di bawah perlindungan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dan berada di Jeddah.
El Abidin harus meninggalkan Tunisia di malam hari, dan pergi meninggalkan Tunisia menuju Arab Saudi. Meminta suaka politik. Sebelumnya El Abidin berusaha meminta suaka kepada pemerintah Perancis, yang pernah menjajah negeri di Afrika Utara, tetapi penguasa Perancis membeirkan perlindungan, lalu menuju Arab Saudi.
Rata-rata penguasa yang diktator yang korup dan despotis hanyalah mengandalkan kekuatan militer, polisi dan aparat intelijen, yang menjaga dan melindunginya. Ini sudah menjadi sebuah aksiomatik, yang bersifat mutlak, di manapun rejim yang diktator, otokratis, dan despotik, hanya mengandalkan dukungan aparat militer, polisi dan intelijen. Karena hanya dengan cara kekerasan yang menggunakan bedil, penguasa itu dapat bertahan hidup di singgasana kekuasaannya.
El Abidin mulai berkuasa Nopember 1987, sesudah berhasil menggulingkan penguasa sekuler sebelumnya, Habib Bourguiba, yang berkuasa sejak Tunisia mendapatkan kemerdekaan dari Perancis. Penggulingan terhadap Bourgouiba itu tanpa darah. Bourguiba digulingkan oleh El Abidin yang pernah menjadi Dubes Tunisia di Rusia itu, November 7, 1987. Maka, sejak El Abidin berkuasa dan mengambil alih kekuasaan, mulai mengubah kebijakannya, yang lebih pro Barat, dan mendapatkan dukungan IMF.
Umumnya, para diktator yang berkuasa, selalu menciptakan sistem oligarki, yang terdiri sejumlah elite sipil dan militer yang berkuasa, dan menjadi pilar kekuaasaannya. Maka pemerintahan El Abidin ini, hanya dikendalikan sejumlah elite politik yang berada di sekeliling kekuasaan El-Abidin. Selanjutnya, El-Abidin membentuk kroni-kroni yang menguasai ekonomi dan industri Tunisia, yang terdiri dari sanak familinya, yang menguasai asset dan sumber alam Tunisia. Mereka terus membangun ‘kerajaan’ di Tunisia, dan menjadi orang-orang yang sangat kaya, di tengah-tengah kemelaratan rakyatnya yang massif.
Menghadapi kekecewaannya rakyatnya dengan cara yang sangat keras, menggunakan senjata, dan menghancurkan kekuatan oposisi dengan menghancurkan mereka, menangkap, menahan, dan bahkan tidak sedikit mereka yang dibunuh. Para penentang El Abidin, tak lain, para aktivis Islam, yang sangat menentang rejim diktator, yang otokratis, serta despotis, yang menyengsarakan rakyat. Perlawanan itu berlanjut, dari waktu ke waktu.
El Abidin sangat repressif dengan menggunakan aparat intelijen yang terus mematai-matai kehidupan rakyatnya dengan menyebar ketakutan yang luar biasa. Maka, hakekatanya El Abidin menjadi penjaga kepentingan Barat yang sekuler untuk menghadapi kelompok Islamis yang dipandang sangat berbaahaya bagi kepentingan Barat, di kawasan itu.
Tetapi, kehidupan rakyat semakin memburuk, kemiskinan semakin luas, harga-harga kebutuhan pokok semakin meningkat, pengangguran bertambah banyak, khususnya kaum muda, sementara itu asset negara terus menumpuk disekitar kroni-kroni El Abidin, yang tak lagi menyisakan bagi kepentingan rakyat. Rakyat benar-benar terkecik dengan segala kebijakan dan penguasaan yang dilakukan oleh rejim El Abidin.
El Abidin yang terpilih tahun 2009, sebagai Presiden Tunisia, untuk masa lima tahun mendatang, sekarang dia harus menyingkir ke Arab untuk mendapatkan suaka politik. Negeri yang pernah menjadi ‘tuannya’, dan menjajah puluhan tahun, seperti Perancis, tak memberikan jaminan suaka bagi diktator itu.
Tunisia sekarang penuh dengan kekacauan dan kegalauan, seluruh asset yang menjadi El Abidin di jarah, dirampok, dan dibakar oleh rakyatnya. Orang-orang dekatnya ikut melarikan diri meninggalkan Tunisia, mencari perlindngan politik.
Kelompok-kelompok pendukungnya militer, polisi, aparat intelijen mencari patron baru, siapa yang berkuasa di Tunisia? Tetapi, mereka sudah tidak lagi memiliki kemampuan menghadapi amarah rakyat, yang sudah dendam, akibat perlakuan El Abidin selama dia berkuasa.
Rakyat di Timur Tengah yang dikuasai para rejim diktator bersuka-ria dengan jatuhnya El Abidin dari Tunisia. Mereka menginginkan rejim-rejim diktator di Timur Tengah akan mengalami nasib seperti El Abidin. Karena mereka adalah para penguasa yang sangat jahat dan tamak, yang tidak segan-segan menghancurkan rakyatnya sendiri dengan berbagai kekerasan yang sifatnya biadab.
Penangkapan, penahanan, dan pembunuhan sudah lazim berlangsung di Tunisia, khususnya terhadap para aktivis Islam, yang dianggap mengancam kedudukannya. Tak sedikit para aktivis Islam, yang meminta suaka diluar negeri. Karena kekejaman yang dilkakukan oleh El Abidin.
Sekarang penjahat yang sudah melakukan kejahatan terhadap rakyatnya itu harus hidup di pengasingan Arab Saudi. Inilah akhir yang dihadapi para penguasa yang sangat dzalim dan jahat. Wallahu’alam.
Sumber: http://www.eramuslim.com

Al-Qaeda Diambang Kemenangan Atas Hubungan AS-Pakistan

Perang Libya Bagai "Kentang Panas" untuk Barat