Belajar Strategi Perang Israel Dan Cara Menghadapinya Bagian 1

Substansi rezim Zionis Israel sebagai agresor sudah tidak dapat ditutup-tutupi lagi bagi siapapun. Bahkan sejatinya rezim ini didirikan berdasarkan penjajahan Palestina. Sepanjang sejarah kita tidak akan menyaksikan sebuah kekuatan penjajah yang tidak menjadi agresor. Dengan kata lain, penjajahan hanya akan terealisasikan dengan agresi dan perang. 
Artinya, setiap kali ada penjajahan, sebelumnya pasti terjadi perang sebagai pendahuluannya. Pendeknya, penjajahan dan perang punya hubungan kausalitas. Oleh karenanya tidak diperlukan alasan untuk mengatakan bahwa rezim Zionis Israel adalah rezim agresor. Karena ketika rezim ini disebut penjajah berarti ia adalah agresor.

Adapun terkait masalah strategi militer Zionis Israel dalam melakukan perang dan prinsip-prinsip yang diterapkannya secara klasik dapat disimpulkan dalam 7 poin berikut:

1. Perang di daerah musuh
 
Rezim Zionis Israel sejak pembentukannya punya keyakinan bahwa agresi dan perang harus dimulai di mana medan pertempuran harus ada di kawasan musuh. Alasannya sederhana, karena secara strategi militer, Zionis Israel tidak memiliki luas wilayah yang besar dan dengan sendirinya tidak memiliki kedalaman strategi. Oleh karenanya, Zionis Israel tidak pernah mengizinkan pasukan musuh melewati perbatasannya dan melakukan perang di dalam wilayah Zionis Israel.

2. Kuasai informasi dan intelijen
 
Rezim Zionis Israel tidak akan memutuskan untuk melakukan agresi bila belum sampai pada kesimpulan bahwa mereka telah menguasai informasi dan intelijen musuh. Agresi yang mereka lakukan, baik itu benar atau salah, kembali pada penguasaan intelijen.

3. Serangan dadakan
 
Militer Zionis Israel senantiasa melakukan agresinya berdasarkan prinsip serangan mendadak. Ini adalah poin paling penting dalam mengidentifikasi perilaku selanjutnya dalam agresi-agresi selanjutnya. Apakah mereka dapat memulai perang baru dengan dasar serangan dadakan dan membuat musuhnya kecolongan.

4. Cepat dan dalam waktu singkat
 
Mengingat rezim Zionis Israel tidak mampu melakukan perang luas dan berkepanjangan, baik dari sisi militer dan opini publik Israel sendiri, selama ini mereka melakukan agresi cepat yang membuat musuh kecolongan dengan serangan mematikan terhadap target-target musuh dalam satu pekan. Oleh karenanya, satu pekan pertama perang operasi militer boleh dikata sudah berakhir. Benar, mungkin saja pihak musuh Israel melanjutkan perang dan itu akan berkepanjangan hingga tujuh atau sepuluh pekan. Namun operasi militer Israel sudah harus berhasil dalam pekan pertama.

5. Korban harus minim
 
Rezim Zionis Israel dalam merencanakan perangnya selalu menekankan satu prinsip ini bahwa dalam perang yang mereka lakukan hendaknya korban yang jatuh di pihak mereka sangat minim. Oleh karenanya, bila mereka merencanakan perang yang kemungkinannya bakal menjatuhkan korban yang banyak, mereka pasti tidak akan memulai serangan itu.

6. Angkatan Darat Penentu Kemenangan
 
Perang yang ditebar rezim Zionis Israel hingga sebelum perang 33 hari senantiasa bertumpu pada kekuatan angkatan darat sebagai penentu kemenangan perang. Sementara kekuatan angkatan udara hanya memainkan peran sebagai pasukan pendukung.

7. Kuasai lalu berunding gencatan senajata
 
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, rezim Zionis Israel akan berusaha sebisa mungkin agar di pekan pertama harus telah melakukan serangan mematikan ke target-target penting musuh lalu menduduki sebagian daerah musuh. Bila hal itu telah dilakukan, di pekan kedua Amerika, Barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengintervensi dan memaksa kedua pihak agar melakukan perundingan damai. Sekalipun demikian, mungkin saja pihak yang diserang Israel masih tetap melanjutkan serangan balasannya. Bila hal itu dilakukan rezim Zionis Israel seakan-akan mendapat angin dan pembenaran untuk melakukan serangan balasan. Namun biasanya mereka segera meminta dilakukannya gencatan senjata.

Mencermati kenyataan ini, gencatan senjata dalam kamus strategi perang Israel tidak bermakna perdamaian. Gencatan senjata yang diinginkan Israel berarti mereka telah merealisasikan tujuan-tujuan militernya dan aksi selanjutnya adalah menjajah daerah yang telah dikuasainya. Oleh karena itu, mereka tidak boleh menderita kerugian dan korban yang banyak, tapi dengan gencatan senjata itu mereka sebenarnya telah mengokohkan posisi barunya.

Hal menarik dalam masalah agresi Zionis Israel terkait siapa pengambil keputusan dalam melakukan perang. Ternyata para politikus di Israel yang menjadi pengambil keputusan di Israel dan bukan para komandan militernya. Di sini, para komandan militer hanya memberikan laporan dan analisa mereka kepada kabinet. Pengambilan keputusan memulai perang berada di tangan Perdana Menteri Zionis Israel dan sejumlah menteri khusus. Di Israel sendiri para pengambil keputusan di kabinet disebut �Kabinet Kecil Keamanan’ yang mencakup Perdana Menteri, Menteri Peperangan, Menteri Dalam Negeri dan beberapa menteri khusus lainnya yang bertugas membahas masalah ini. Keseluruhannya ada tujuh menteri yang ikut dalam sidang istimewa ini. Berbeda dengan sistem di negara-negara lain di mana ada Dewan Keamanan Nasional yang akan mengambil keputusan soal masalah ini, di Israel dewan ini sekalipun ada, tapi boleh dikata tidak memiliki fungsi apa-apa.
Bersambung … (IRIB/SL/MF)

Sumber: http://indonesian.irib.ir/

Jendral AS Blak-Blakan Soal Iran

Belajar Strategi Perang Israel Dan Cara Menghadapinya Bagian 2