Blackwater, Bagian Tak Terpisahkan Dari Rahasia CIA

Penjaga keamanan swasta yang bekerja untuk Blackwater USA berpartisipasi dalam serangan rahasia CIA terhadap gerilyawan di Irak dan Afghanistan, New York Times melaporkan.
Peran Blackwater menunjuk kepada hubungan yang jauh lebih dalam antara perusahaan dan agen mata-mata daripada yang sebelumnya telah diungkapkan dan menimbulkan keprihatinan atas berkenaan dengan keabsahan dalam melibatkan kontraktor dalam operasi yang paling sensitif yang dilakukan oleh pemerintah AS.
Serangan “Merebut dan mengambil” terjadi secara teratur antara 2004 dan 2006, surat kabar melaporkan, ketika pemberontakan di Irak meningkat dan keamanan di seluruh negara itu memburuk.
“Daripada hanya memberikan keamanan bagi petugas CIA, kata mereka, personil Blackwater kadang-kadang menjadi mitra dalam misi untuk menangkap atau membunuh militan di Irak dan Afghanistan, suatu praktik yang menimbulkan pertanyaan mengenai penggunaan senjata untuk penyewaan di medan perang,” surat kabar melaporkan.
Diminta untuk mengomentari laporan tersebut, seorang jurubicara CIA, George Little, tidak mengkonfirmasi peran yang Blackwater telah mainkan kepada The New York Times, tapi membela penggunaan kontraktor pada misi-misi intelijen.
“Badan ini, seperti banyak yang lainnya, menggunakan kontraktor dalam peran yang melengkapi dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja kita sendiri, seperti yang diizinkan hukum Amerika,” kata Little. “Perwira staf agensi memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan dan memikul tanggung jawab untuk hasilnya.”
Blackwater, yang berpusat di North Carolina, mengubah nama perusahaannya menjadi Xe Service setelah serangkaian penggunaan kekerasan kontroversi, termasuk penembakan September 2007 di Baghdad oleh lima penjaga keamanan yang menewaskan 17 warga sipil.
The New York Times melaporkan bahwa mantan pegawai Blackwater mengatakan mereka membantu menyediakan keamanan untuk penerbangan yang mengangkut tahanan CIA ke penjara-penjara di berbagai negara.
Seorang mantan pejabat CIA dikutip oleh koran tersebut berkata: “Ada perasaan bahwa Blackwater akhirnya menjadi perpanjangan dari badan CIA.”
Laporan datang sementara komite intelijen DPR menyelidiki CIA yang mempekerjakan Blackwater untuk menjadi bagian dari sebuah program untuk membunuh atau menangkap pemimpin al-Qaida. Program regu kematian telah memakan korban selama delapan tahun periode sebelum itu dibatalkan pada bulan Juni oleh direktur CIA, Leon Panetta. CIA mengatakan upaya itu tidak menghasilkan keberhasilan.
CIA telah mengurangi ketergantungan pada penggunaan kontraktor selama beberapa tahun.
Blackwater kehilangan kontrak untuk memberikan keamanan bagi diplomat Departemen Luar Negeri AS di Irak setelah beberapa dari penjaganya dituduh membunuh hingga 17 warga sipil Irak yang tidak bersenjata pada tahun 2007.
Serangan 9/11 terjadi setelah kontraksi CIA pada masa periode pasca-perang dingin yang memaksanya untuk menyewa kontraktor untuk perang di Afghanistan dan Irak.
Kantor berita BBC melaporkan tanggapan atas artikel New York Times oleh juru bicara Blackwater : “Blackwater USA tidak pernah di bawah kontrak untuk berpartisipasi dalam penggerebekan rahasia CIA atau personel Operasi Khusus di Irak, Afghanistan atau di tempat lain.
“Dugaan apapun yang bertentangan dengan hal ini yang dibuat organisasi berita apapun adalah salah.”
Empat pegawai Blackwater ditangkap dan akan menghadapi persidangan tahun depan.
Pada bulan Agustus, New York Times melaporkan tuduhan bahwa CIA menyewa Blackwater untuk perencanaan, pelatihan dan pengawasan sebagai bagian dari program rahasia untuk melacak dan membunuh atas tokoh-tokoh al-Qaida.
Keterkaitan antara Blackwater dan CIA memang tidak terlepas dari sosok Erik Prince, pendiri Blackwater yang juga diketahui sebagai agen mata-mata CIA.
“Saya menempatkan diri saya dan perusahaan saya sebagai alas kaki CIA untuk melakukan misi-misi yang sangat beresiko,” kata Prince kepada Vanity Fair untuk edisi Januari mendatang. “Namun, ketika sudah dirasa tidak berguna secara politik, ada seseorang yang membuang saya begitu saja.”
Prince menyamakan kasusnya dengan kebocoran identitas mantan agen CIA, Valerie Plame. Kebocoran tersebut membuat jaksa penuntut khusus membuka penyelidikan dalam kasus tersebut.
“Yang terjadi pada diri saya jauh lebih buruk,” kata Prince. “Orang-orang mengambil tindakan karena alasan politis, mereka buka hanya mengungkapkan keberadaan sebuah program yang sangat sensitif, tetapi juga turut menyeret nama saya.” (iw/bbc/gd)
Sumber: http://suaramedia.com

Awas! Israel Sadap Telepon Anda!

Menlu Inggris Bertemu Oposisi Libya