Bocorkan Rahasia, WikiLeaks Diserang Hacker

VIVAnews – Wikileaks, situs nirlaba yang memaparkan dokumen-dokumen rahasia serta fakta-fakta seputar dunia militer di dunia, mengabarkan bahwa laman situsnya baru saja digempur hacker. Penyebabnya disinyalir karena WikiLeaks merilis lagi ribuan dokumen rahasia.

Ini bukan pertama kali WikiLeaks mengumbar dokumen-dokumen rahasia yang sifatnya global. Akhir Juli, sekitar 90 ribu dokumen rahasia milik militer AS bocor ke publik.

Dokumen itu mengungkap sejumlah insiden yang tidak dilaporkan oleh militer AS selama enam tahun bertugas di Afghanistan. Termasuk sejumlah operasi militer yang menyebabkan tewasnya sejumlah warga sipil.

Selain itu, situs whistle-blower itu pernah membocorkan 400.000 data Perang Irak yang memuat puluhan ribu angka kematian warga sipil Irak dan penyebab-penyebabnya.

Namun, kali ini jalan WikiLeaks tidak terlalu mulus. Paska mengumbar dokumen-dokumen rahasia AS terbaru, situs itu langsung diterjang hacker dengan serangan DDoS (Distributed Denial of Service).

“Kami saat ini berada di bawah serangan distributed denial of service secara masif,” kata WikiLeaks (@WikiLeaks) melalui akun Twitternya, yang dikutip VIVAnews.com dari Telegraph, Senin 29 November 2010.

WikiLeaks menambahkan, sejumlah surat kabar akan segera mempublikasikan dokumen-dokumen rahasia milik AS, meski laman website-nya hancur.

Kebocoran terbaru ini menerbitkan laporan yang memaparkan dokumen-dokumen rahasia komunikasi diplomatik AS dengan sejumlah negara.

Menurut stasiun televisi BBC, Minggu 28 September 2010 waktu setempat, bocoran dokumen itu berupa kawat diplomatik yang diterima Washington dari sejumlah kedutaan besar (Kedubes) AS di sejumlah negara. Kawat diplomatik itu merupakan laporan atas sikap pemimpin atau pemerintah sejumlah negara atas berbagai isu, yang tidak boleh dipublikasikan untuk umum.

Sejumlah bocoran kawat diplomatik yang sensitif itu di antaranya adalah laporan mengenai sikap pemimpin sejumlah negara Arab -termasuk Raja Abdullah dari Arab Saudi- yang menginginkan AS agar menyerang Iran untuk mengatasi isu senjata nuklir. Hingga kini, Wikileaks mengakui baru mempublikasikan 200 dari 251.287 data. (art)
� VIVAnews

Bocoran Dokumen: Arab Khawatirkan Iran

Julian Assange: Australia Terlantarkan Saya