Bush: Dunia dalam Ancaman Serius Taliban – Al-Qaeda

Mantan Presiden George W. Bush memperingatkan pada hari Sabtu bahwa dunia akan menghadapi ancaman serius jika Taliban dan Al Qaeda dibiarkan memegang kendali di Afghanistan.
Bush berbicara di ibukota India ketika Obama berusaha memutuskan apakah akan mengirim puluhan ribu tentara ke Afghanistan. Tahun ini telah menjadi tahun paling mematikan bagi pasukan internasional dan AS sejak invasi tahun 2001 untuk memberantas Taliban, dan Presiden Hamid Karzai terjebak dalam sengketa pemilu yang telah menodai kredibilitas pemerintah Afghan dengan sangat buruk.
Meski tidak secara langsung mengomentari pilihan yang dihadapi Obama, Bush mengatakan bahwa Afghanistan yang demokratis dan damai sangat penting bagi kawasan sekitarnya.
“Misi di Afghanistan telah berjalan sangat panjang, sulit, dan memakan biaya banyak, namun saya meyakini bahwa misi itu penting bagi stabilitas dan perdamaian,” ujarnya dalam sebuah konferensi kepemimpinan di New Delhi. “Jika Taliban dan Al Qaeda dibiarkan mengambil alih Afghanistan lagi, mereka akan memiliki tempat perlindungan yang baik dan rakyat Afghan, terutama para wanita, akan kembali pada tirani brutal.
“Kawasan ini dan dunia akan menghadapi ancaman serius,” tambahnya.
Bush sangat populer di India karena mengakhiri larangan perdagangan nuklir terhadap negara ini selama tiga dekade sejak tes atomnya yang pertama di tahun 1974.
Bush menyebut pakta nuklir sipil itu sebagai paspor India ke dunia, sebuah pertanda bahwa India telah memproleh tempatnya sebagai sebuah bangsa yang hebat di panggung global.
Ia mengatakan bahwa India dan AS terikat oleh kesamaan warisan yang mereka miliki yaitu kebebasan dan demokrasi. Keduanya juga sama-sama berjuang melawan kelompok ekstremis “yang membunuh orang-orang tak bersalah untuk mengembangkan visi kegelapan dari ekstremisme dan kontrol.”
Bush juga mengekspresikan dukungan atas posisi India dalam Dewan Keamanan PBB di masa mendatang dan atast pendapat penting India dalam pembicaraan perubahan iklim di Kopenhagen pada bulan Desember.
Presiden Obama sebelumnya telah mempersiapkan diri untuk menerima keterlibatan Taliban dalam masa depan politik Afghanistan dan akan menentukan jumlah pasukan tambahan untuk dikirim ke Afghanistan hanya sekedar untuk menahan Al Qaeda.
Fokus tim Obama untuk memerangi Al Qaeda yang semakin tajam di atas tujuan lainnya, sementara penekanan terhadap Taliban semakin dikurangi, datang di tengah intensnya perdebatan tentang perang yang semakin tidak populer ini.
Bawahan Obama menekankan bahwa keputusan presiden mengenai jumlah tentara dan elemen-elemen lainnya baru akan diumumkannya dua minggu lagi, dan mereka mengatakan bahwa Obama belum membocorkan rencana dalam sejumlah rapat yang akan diteruskan di Gedung Putih pada hari Senin.
Namun pemikiran yang berasal dari porsi formulasi strategi dari perdebatan memberikan sebuah petunjuk bahwa Obama mungkin tidak akan memilih peningkatan militer dalam jumlah besar seperti yang disarankan oleh Jenderal McChrystal, dari 10.000 personel menjadi 40.000.
“Strategi Obama terhadap Taliban tidak akan mentolerir kembalinya mereka ke kekuasaan,” ujar seorang pejabat senior dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press. AS akan bertempur namun hanya untuk menahan Taliban agar tidak memperoleh kembali kekuasaan pemerintah pusat Afghanistan.
Tunduk pada realita bahwa Taliban terlalu mendarah daging dalam kebudayaan Afghanistan untuk dikalahkan, pemerintah mempersiapkan diri untuk menerima beberapa peran Taliban di sejumlah bagian di Afghanistan. Itu dapat diartikan terbukanya jalan bagi anggota Taliban yang bersedia untuk berpartisipasi dalam pemerintahan pusat. Itu bahkan dapat berarti diserahkannya beberapa wilayah negara kepada Taliban.
Obama telah mengatakan ingin menjangkau kalangan moderat dari Taliban sejak pertama kali ia mengumumkan strategi Afghanistan yang baru di bulan Maret. Itu akan seperti, lebih sulit dan lebih berat dari, keberhasilan upaya di Irak dalam membujuk kelompok Muslim untuk bekerjasama dengan pasukan AS melawan Al Qaeda yang ada di sana.
Hampir setiap hari Obama berunding mengenai perang Afghanistan, bak dengan Wakil Presiden Joe Biden maupun Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.
Pergeseran fokus AS dari Taliban ke Al Qaeda memiliki implikasi besar terhadap perdebatan perang saat ini. Di Afghanistan terdapat sekitar 100 anggota Al Qaeda, namun yang diperangi AS di sana justru Taliban yang kini didefinisikan oleh tim Obama sebagai gerakan yang berbeda dari Al Qaeda. Meskipun masih berbahaya, Taliban kini dianggap sebagai gerakan yang dilakukan oleh penduduk asli yang sepenuhnya bersifat lokal dan bertujuan teritorial serta tidak menghadirkan ancaman yang terlalu besar bagi AS.
Tim Obama meyakini bahwa beberapa elemen Taliban sejalan dengan Al Qaeda, dengan jangkauan transnasionalnya dan tujuannya untuk menyerang Barat, namun kemungkinan jumlahnya tidak mayoritas dan sebagian besar untuk alasan taktik bukan ideologis.
“Keduanya adalah kelompok yang berbeda,” ujar sekretaris pers Gedung Putih Robert Gibbs. “Taliban jelas tidak didukung oleh intelijen apa pun.”
Fokus terhadap Al Qaeda adalah kekuatan pendorong di belakang pendekatan yang disarankan oleh Biden sebagai sebuah alternatif bagi rekomendasi McChrystal untuk sebuah upaya penuh perlawanan pemberontakan di dalam Afghanistan. (rin/hp/ust)
Sumber: http://suaramedia.com

Kongres Yahudi Dunia Kecam Pengkudusan Paus Era Nazi

10 Konspirasi Dunia Paling Menghebohkan Yang Dibocorkan Wikileaks