Cara China Hadapi WikiLeaks: Blokir Situsnya

VIVAnews – Pemerintah China memblokir akses ke laman WikiLeaks, Rabu 1 Desember 2010. Beijing khawatir bahwa pengungkapan rentetan informasi, yang diklaim WikiLeaks sebagai bocoran rahasia diplomatik Amerika Serikat (AS), bisa menimbulkan kesalahpahaman yang memalukan. Pasalnya, sejumlah informasi itu mengaitkan China.

Menurut kantor berita Associated Press, jika pengguna internet di China mencoba membuka laman WikiLeaks.org atau ke  cablegate.wikileaks.org, maka di layar akan ditampilkan pengumuman bahwa koneksi ke laman yang bersangkutan telah ditolak. Ini adalah bentuk standar ketika sebuah laman internet diblokir oleh pihak berwenang.

Memiliki jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, China terkenal menerapkan sensor yang ketat di dunia maya. Sejumlah laman telah masuk daftar blokir, diantaranya Facebook, Twitter, dan YouTube. Google sempat kesal dengan China setelah situsnya di blokir dan memilih hengkang dari negara itu pada awal tahun ini.
Pengamat hubungan internasional Universitas Renmin di Beijing, Shi Yinhong, mengatakan bahwa China memiliki kekhawatiran yang sama dengan AS terhadap bocornya beberapa memo diplomatik yang sensitif. Namun, pemblokiran yang dilakukan China, menurut Shi, lebih untuk meredam rumor yang beredar daripada mencegah bocoran lebih banyak. �Situs [WikiLeaks] itu diblokir karena informasi di dalamnya sangat sensitif dan tidak dapat dibuktikan,� ujar Shi kepada AP.

Bocoran terbaru WikiLeaks berupa laporan kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat di luar negeri. Salah satu bocoran mengungkapkan sikap China terhadap sekutunya, Korea Utara (Korut).

Diantaranya adalah perkiraan bahwa rezim di Korut akan runtuh dalam tiga tahun setelah kematian Kim Jong Il, dan China akan mengakui Korea Selatan (Korsel) sebagai pemerintah tunggal Korea bersatu
Salah satu bocoran memo mengungkapkan bahwa seorang pejabat China menyebut Korut sebagai �anak kolokan� karena mencoba untuk mendapatkan perhatian AS dengan melakukan uji coba rudal.

�China mempelajari laporan tersebut. Kami harap AS dapat menangani masalah ini. Sedangkan untuk isi dokumen, kami tidak ingin berkomentar,� ujar jurubicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei.

Dokumen AS: Cina Siap Menerima Penyatuan Korea

Amerika Serikat Bantah Memata-matai PBB