Catatan Perang Yunani-Persia 2500 Tahun Yang Lalu Bagian VII

�Prajurit-prajurit Sparta! Hari ini makanlah dengan sekenyang-kenyangnya, karena malam ini kita akan bersantap malam di Hades.�
(Leonidas, hari ketiga perang Thermopylae, 480 SM)
Pengkhianatan Ephialtes
 
Saat Xerxes sedang mencari cara untuk mengalahkan pasukan Yunani, di penghujung hari kedua perang Thermopylae, datang  seorang Malia bernama Ephialtes, putra Eurydemus ke perkemahan Xerxes. Dengan imbalan uang ia bersedia memberi tahu jalan rahasia memutari gunung untuk menyerang pasukan Yunani dari belakang.
Xerxes dengan senang hati berjanji akan memberikan apapun yang diinginkan Ephialtes. Saat matahari terbenam, Ephialtes menuntun Hydarnes beserta pasukannya, The Immortal, melintasi jalur rahasia itu secara diam-diam. Pasukan Persia berjalan sepanjang malam hanya diterangi cahaya bulan purnama dan saat hampir subuh mereka sudah mencapai puncak bukit. Tetapi tiba-tiba mereka diserang oleh sekitar 1000 orang prajurit Phokia yang memang ditugaskan oleh Leonidas untuk menjaga jalur itu sekaligus melindungi negeri mereka. Pasukan Persia sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan bertemu musuh disitu. 
Awalnya Hydarnes mengira mereka adalah prajurit Sparta, tetapi Ephialtes menenangkannya karena ia tahu ciri-ciri orang-orang Sparta. Karena tidak ingin penyerangannya tertunda, Hydarnes menakut-nakuti prajurit Phokia dengan menunjukkan kekuatan pasukan Persia yang dipimpinnya. Ia menyuruh pasukannya menembakkan �hujan panah� secara bersamaan dan terbukti ampuh. Pasukan Phokia yang ketakutan mundur dari puncak bukit dan membiarkan jalan menuju Thermopylae terbuka tanpa penjagaan. Orang-orang Phokia mengira pasti akan bertempur dengan sengit, tetapi perkiraan mereka meleset. Hydarnes dan pasukannya terus berjalan menuruni bukit tanpa mempedulikan keberadaan mereka.
Sementara pasukan Yunani di Thermopylae sudah mendapatkan tanda bahaya kedatangan orang-orang Persia dari pasukan Phokia yang kembali. Dan saat itu pula Leonidas memutuskan membagi pasukannya: prajurit yang kuat tetap bertahan dan yang lebih lemah meninggalkan Thermopylae.
Sesungguhnya tidak ada pergerakan pasukan Persia yang luput dari pengamatan Leonidas. Ia telah mendapat informasi bahwa pasukan Persia akan mengepungnya. Saat Leonidas menyadari pertahanan pasukan Phokia telah jebol, ia memutuskan sebagian pasukan pulang ke negerinya masing-masing untuk mempersiapkan diri untuk perlawanan selanjutnya, tetapi ia bersama pasukan Sparta akan tetap tinggal. Leonidas berencana untuk menahan gerak pasukan Persia selama mungkin sekaligus memenuhi takdir seperti yang telah digariskan orakel sebelumnya: Kota Sparta akan musnah, atau, salah seorang raja mereka yang keturunan Herakles mengorbankan dirinya.
Semua pemimpin pasukan mematuhi Leonidas dan menarik mundur pasukannya, hanya pasukan Thespia dan Theban yang tersisa bersama pasukan Sparta menjaga Thermopylae. Pasukan Theban dipaksa tetap tinggal oleh Leonidas yang meragukan kesetiaan mereka, sementara pasukan Thespia yang dipimpin oleh Demophilus, putra Diadromes menolak untuk mundur dan membantu Leonidas yang sudah siap bertempur sampai mati.
Akhir perang Thermopylae
Dan fajar pun menyingsing. Setelah melakukan persembahan kepada para dewa, Xerxes menunggu sampai kira-kira pasukan Hydarnes telah turun dari bukit dan memulai penyerangan terlebih dahulu. Sementara pasukan Sparta yang dipimpin oleh Leonidas menyerang balik  dengan mati-matian. Kali ini kedua pasukan bertemu di tempat paling lebar dari jalur sempit Thermopylae. Pasukan Yunani bertempur dengan gigih sampai lembing-lembing mereka dipatahkan, dan walaupun dengan pedang (xiphoi) di tangan, mereka masih bisa membunuh banyak prajurit Persia. 
Dalam serangan ini dua saudara Xerxes tewas, yaitu Abrocomes dan Hyperanthes. Demikian juga, pemimpin Sparta, Leonidas, akhirnya gugur dalam pertempuran puncak ini.
Mendapat berita bahwa Hydarnes dan pasukannya, The Immortal telah turun dari bukit dan mendekati pasukan Yunani dari belakang, mereka menarik diri dan bertahan di bukit kecil Kolonos di balik tembok Phokia. Melihat pasukan Yunani makin terdesak ke arah bukit dan tanda-tanda kemenangan Persia sudah di depan mata, prajurit-prajurit Theban dengan tangan di atas menyerahkan diri kepada pasukan Persia. Tetapi malangnya beberapa dari mereka dibunuh saat berusaha mendekati pasukan Persia dan sisanya yang menyerah diberi cap kerajaan Persia dengan timah panas di tubuhnya atas perintah Xerxes.
Sementara prajurit Sparta dan Thespia yang tersisa terus berjuang dengan pedang, bahkan sebagian dengan tangan kosong dan hanya menggunakan gigi-gigi mereka. Setelah merobohkan Tembok Phokia dan mengepung pasukan Yunani di bukit Kolonos, Xerxes memerintahkan pasukannya memanah bersama-sama sekaligus yang mengakibatkan terjadinya hujan panah sehingga seluruh prajurit Yunani gugur tanpa tersisa.
Saat mayat Leonidas ditemukan orang-orang Persia, Xerxes yang murka karena kehilangan banyak prajurit memerintahkan kepalanya dipenggal dan tubuhnya disalib. Tindakan ini sangat tidak biasa dilakukan orang-orang Persia yang memiliki kebiasaan menguburkan dengan hormat musuh yang telah bertempur dengan gagah berani. Ahli arkeologi telah menemukan bukti-bukti memang pernah terjadi hujan panah di akhir pertempuran di situs Thermopylae.
Dan di tempat itu sekarang berdiri sebuah monumen yang bertuliskan:
O ?e??’, a?????e?? ?a?eda?�?????? ?t? t?de
?e?�e?a, t??? ?e???? ??�as? pe???�e???.
�Wahai orang asing yang melintas, pergilah dan sampaikan kepada orang-orang Sparta,
Bahwa disini, kami yang tunduk pada hukum Sparta, berbaring selamanya.�

Gambar 1: Salah satu prajurit The Immortal/Athanatoi
Gambar 2: Posisi Perang Thermopylae beserta jalur rahasia yang memutar gunung
Gambar 3: Beberapa mata anak panah yang ditemukan di situs Thermopylae
Gambar 4: Patung Leonidas di monumen Thermopylae

Gambar dari http://www.livius.org, http://www.iranian.com, http://monolith.dnsalias.org

Sulit Dipercaya! Tiga Tahun Pisau Menancap di Kepala Pria Ini

Catatan Perang Yunani-Persia 2500 Tahun Yang Lalu Bagian VIII