Christoffel, Si Tukang Jagal di Aceh

Letnan Dua Christoffel, perwira kesayangan Jenderal Van Heutsz dan Swart. Dia dikenal sangat kejam. Dalam operasi militer di Gayo dan Atlas (Aceh selatan), dia dicatat sebagai orang yang pertama dan paling akhir berhenti menembak.
Van Daalen, yang selalu didampingi oleh Christoffel dalam operasi militer di Aceh itu, mendeskripsikan dalam laporannya bahwa dia tidak menyukai tindakan Christoffel itu yang selalu memuntahkan peluru sebelum dia memberikan perintah.
Setelah perintah �hentikan menembak� Christoffel dan anggota pasukannya masih saja terus menembaki orang-orang Aceh�
Gubernur militer Aceh Luitenant Generaal Swart sebelumnya mendekati Christoffel dengan perintah: �Kamu usahakan untuk mengakhiri perlawanan di kawasan Aceh itu dan kamu boleh bertindak sangat keras�
�Siap. Beres jenderal!� jawab Christoffel.
Dan memang, semua akhirnya bisa dibereskan dengan banjir darah.
Dalam aksinya, Christoffel membentuk brigade sendiri dengan ciri khas sapu tangan merah dililitkan di leher mereka sebagai tanda bahwa mereka haus darah dan akan beraksi jauh lebih berdarah-darah daripada pasukan lainnya. Brigade ini dinamai Tijger Colonne brigade.
Sepuluh dua puluh tahun kemudian, para bekas anak buahnya tidak mau lagi dikait-kaitkan dengan Christoffel dan apa yang telah mereka lakukan bersama di Aceh.
Tien, twintig jaar later wilden ondergeschikten van Christoffel al niet meer herinnerd worden aan hun ex-commandant en wat zij gezamenlijk hadden ondernomen. (iae)
Sumber: http://www.nederlandsindie.com

Pembantaian Westerling: Pembantaian Meluas ke Pare-pare

3 Anak Buah Akhirnya Bicara