Dari Kairo Sampai Pemaksaan Penyatuan (Tamat)

Tentara kulit hitam AS juga terlihat dalam Perang Korea
dan tampak sedang menembakkan senapan mesin

Kegentingan hubungan kedua negara besar itu pun berakibat di Korea, yaitu semakin tidak mungkinnya Korea dipersatukan sebagai satu negara. Bahkan pemecahan negara ini mengarah semakin permanen. AS yang semakin khawatir akan dominasi komunis, menegaskan tidak akan mundur dari semenanjung ini. Komisi bersama pun terbukti telah gagal. Karena itu AS mengajukan persoalan Korea kepada PBB, mengusulkan agar Uni Soviet dan AS menyelenggarakan pemilu di wilayah pendudukan masing-masing sebelum 31 Maret 1948. Pemilu ini untuk memilih majelis nasional dan suatu pemerintahan nasional.

PBB menyetujui usulan ini dan membentuk Komisi Sementara PBB untuk Korea (UNTCOK) guna mengawasi pemilu. Namun kenyataan di lapangan berbeda sekali: Kaum kiri atau komunis juga kuat di wilayah selatan, sehingga ada ancaman bahwa AS bisa terusir dari Korea jika pemilu dimenangkan komunis. Akhirnya Washington berpendapat lebih baik ada pemerintahan sendiri di bagian selatan garis lintang ke-38, yang akan menghentikan infiltrasi dan pengaruh komunis dari utara. Dia pun mendukung Dr Synman Rhee, satu-satunya tokoh politik terkuat di selatan. Sebagian anggota UNTCOK seperti Australia dan Kanada berpendapat pemilu tak mungkin dilaksanakan secara terpisah-pisah, melainkan harus menyeluruh. Mereka masih berharap adanya Korea yang satu.
Pemisahan Korea
Meskipun muncul tentangan di kalangan UNTCOK, namun pemilu tetap dilaksanakan di selatan pada bulan Mei 1948, dengan hasil Syngman Rhee memperoleh kemenangan. Dia dengan cepat membentuk pemerintahan yang terpisah dari wilayah utara. Pemerintahan Republik Korea (RoK) atau Korea Selatan ini mengangkat Rhee sebagai presiden pertamanya.
Sementara itu di utara garis lintang, kaum komunis pun tidak tinggal diam. Mereka membuat konstitusi sendiri, dan memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Rakyat Korea atau Korea Utara, dengan Kim Il-sung sebagai perdana menteri pertama. Bulan Desember 1948, PBB yang dipengaruhi AS mengeluarkan resolusi yang hanya mengakui Republik Korea, karena di situlah UNTCOK dapat mengawasi jalannya pemilu. Tetapi kondisi politik di Selatan sendiri tak kunjung stabil, karena berbagai aksi menentang Rhee terus berlanjut.
Untuk mengakhirinya, Rhee bersikap represif dan memberlakukan keadaan darurat. Aksi kekerasan yang banyak memakan korban pun pecah, antara lain di Cheju-do, sebuah pulau di selatan semenanjung. Hanya karena dukungan Washington maka pemerintahan Syngman Rhee mampu bertahan. Rhee yang berambisi untuk menyatukan Korea, merasa tidak puas dengan skala bantuan militer dari AS yang sifat dan tujuannya hanyalah untuk defensif, bukan ofensif. Padahal Rhee menginginkan pesawat, kapal perang, dan persenjataan lainnya yang mampu melengkapi sedikitnya 100.000 pasukan. Washington setuju mendirikan Kelompok Penasihat Militer Korea (KMAG) untuk melatih militer Korea Selatan. Namun AS tidak siap bila harus membantu reunifikasi Rhee dengan menyerang Korea Utara.
Sekalipun begitu AS juga menyadari potensi pecahnya permusuhan lewat serangan oleh Korea Utara. Ironisnya, agar tidak terlibat lebih jauh, AS malah bermaksud menarik tentaranya dari Korea. AS hanya akan membantu Korea Selatan membangun kekuatan sendiri agar mampu bertahan. Sikap seperti inilah yang 20 tahun kemudan diulangi lagi di Vietnam dalam program yang terkenal dengan istilah �Vietnamisasi�, yaitu dengan mengurangi keterlibatan langsung pasukan Amerika di front dan menyerahkannya kepada pasukan Vietsel sendiri.
Sementara itu kondisi di Korsel sendiri semakin runyam. Presiden Rhee terjebak dalam pertengkaran dengan majelis nasional, serta bersikap makin keras terhadap oposisi. Washington sendiri terombang-ambing, karena politik luar negerinya waktu itu lebih mementingkan Eropa, namun untuk meninggalkan Korea juga tak mungkin sebab sudah kepalang basah. Korsel dijadikannya simbol demokrasi di Asia. Karena itu harus diselamatkan dari ekspansi kaum komunis. Perang dingin di Asia Timur pun semakin mengeras.
Di tengah suasana yang semakin tegang di Korea, Menlu Dean Acheson dalam pidato penting Januari 1950 di Washington menegaskan, bahwa perimeter pertahanan Amerika di Pasifik yang terjauh adalah Kep. Aleut, Jepang, dan Kep. Ryukyu serta Filipina. Dia tidak menyebut Formosa atau Korea Selatan sama sekali. Sehingga nantinya dia akan dipersalahkan seolah-olah telah mendorong Korea Utara untuk menyerang Selatan.
Dua-duanya berniat serupa apabila Presiden Rhee punya niat untuk mempersatukan kembali Korea dengan menyerang ke utara manakala kekuatan militernya sudah memungkinkan, maka PM Kim II-sung di Utara pun memiliki cita-cita serupa. Keduanya sama-sama nasionalis dan patriot tulen yang mendambakan Korea kembali sebagai satu negara dan satu bangsa. Persoalannya adalah perbedaan ideologi mereka, serta siapa yang lebih dulu merasa siap untuk melakukan serangan pertama. Washington sendiri memperkirakan suatu perang di Asia dalam rangka ekspansionisme komunis di Asia pasti akan terjadi. Tetapi kemungkinannya adalah di Formosa atau Indochina, bukan di Korea.
Ketumpulan analisis Washington tadi mungkin dikarenakan sejak 1945 setiap kali telah beredar isu bahwa komunis di utara akan menyerang selatan dengan dukungan Soviet. Namun itu terbukti hanya isu melulu, sehingga lama-lama kepekaan pun tergantikan oleh kekebalan terhadap isu semacam itu. Apalagi para ahli strategi Amerika juga melihat Soviet tidak menganggap Korea sebagai sesuatu yang penting, karena fokusnya lebih ke Eropa. Begitu pula karena kedekatan Seoul dengan PBB, rasanya tak mungkin jika Korsel akan diserang. Namun kenyataannya pada fajar 25 Juni, pasukan Utara tiba-tiba menyerbu ke Selatan, mengerahkan 110.000 paukan, 1.400 pucuk meriam, dan 126 buah tank.
Meski semula AS keliru dalam perhitungannya megenai kemungkinan serangan dari Utara serta pecahnya perang di semenanjung ini, namun reaksinya terhadap serbuan itu sangat cepat. Selain meminta Dewan Keamanan PBB langsung bersidang, maka kekuatan militer Amerika pun diperintahkan mengamankan wilayah antara Seoul dengan Inchon, termasuk kemungkinan bertempur dengan pasukan Korut. Tujuan ini resminya untuk mengintervensi Korut terhadap evakuasi warga Amerika dari Seoul-I hon. Namun penugasan militer AS ini diputuskan sendiri oleh Presiden Truman tanpa mengacu pada PBB sama sekali. Ini merupakan presiden yang di kemudian hari diikuti oleh presiden Amerika lainnya seperti dalam perang Vietnam dan invasi ke Irak.
Tetapi apa yang melatar-belakangi serbuan Korut itu tetap tidak jelas. Bahkan ada yang berpendapat sebetulnya Selatanlah yang mula-mula melancarkan serangan, sesuai dengan ambisi Presiden Rhee untuk reunifikasi Korea. Tetapi pendapat seperti ini dibantah dengan kenyataan tidak berimbangnya kekuatan militer kedua pihak. Penulis dan sejarawan militer terkenal, Stephen Ambrose menyatakan, ofensif Korut itu �terlalu kuat, terlalu terkoordinasi baik, dan terlalu berhasil untuk suatu ofensif balasan.�
Pada saat perang pecah, kekuatan darat Utara terdiri dari 135.000 pasukan yang terlatih dan terorganisasi baik, termasuk 29.000 pasukan berpengalaman dari Manchuria. Mereka juga memiliki 150 tank, 110 pesawat tempur, dan ribuan pucuk artileri. Sebaliknya Selatan hanya memiliki sekitar 100.000 pasukan dan persejantaannya kurang lengkap, ditambah 25.000 polisi. Mereka tidak memiliki tank, artileri medium, pesawat tempur atau pun pengebom.
Preemptive strike
Memang benar bahwa perang ini diwarnai nuansa perang dingin antara AS dengan Uni Soviet. Namun banyak pengamat menyebutkan perang ini bukanlah kepanjangan perang dingin, melainkan lebih sebagai perang saudara yang sesungguhnya. Bahkan serbuan Korea Utara itu pun mungkin tanpa sepengetahuan Soviet maupun China, meskipun banyak pejabat Amerika yang berpendapat sebaliknya. Moskwa memang telah mengantisipasi bahwa perang bisa berkobar di Korea, namun hal itu diperkirakannya baru akan terjadi pada bulan Agustus.
Ketidaktahuan Soviet itu terbukti dari statusnya yang masih memboikot PBB dalam kaitan dengan penolakan keanggotaan RRC di PBB. Sehingga semua aksi AS di PBB sehubungan dengan krisis perang Korea berjalan lancar tanpa halangan atau pun veto dari Soviet. Sedangkan RRC ketika itu masih mengharapkan terbukanya komunikasi dengan AS dalam soal Formosa. China pun punya kesan bahwa Formosa tidaklah termasuk perimeter pertahanan AS di Pasifik, sehingga ada harapan Washington tidak akan menghalangi pengambilan Formosa oleh RRC. Sebaliknya jika China berusaha merebut Formosa setelah meletusnya perang di Korea, maka dapat dipastikan AS akan menjawabnya dengan kekuatan militer.
Figur Kim Il-sung yang acap digambarkan oleh AS sekadar sebagai boneka Soviet saja, memang mengakui kepemimpinannya di Utara tak lepas dari bantuan Soviet. Namun perintahnya untuk menyerbu ke selatan, lebih disebabkan keyakinannya bahwa AS tidak akan melakukan intervensi. Selain itu dia pun merasa lebih siap dibandingkan Selatan, serta masih berharap adanya dukungan Soviet manakala dia memerlukannya.
Perintah Kim juga tak lepas dari berbagai insiden di perbatasan sejak pertengahan 1949, serta ancaman Presiden Syngman Rhee untuk menyatukan kembali Korea lewat kekuatan senjata. Berbagai krisis politik dan ekonomi yang ketika itu tengah terjadi di Korsel, menggoda Kim Il-sung untuk melancarkan preemptive strike ke selatan. Sehingga dengan sekali serangan itu, ancaman dari Rhee dapat dimatikan dan sekaligus dia pun dapat mempersatukan Korea kembali.
Tetapi impiannya gagal. PBB dan terutama AS akhirnya menghentikan rencana besar Kim 11-sung. Apakah anaknya Kim Jong-il ingin melanjutkan dan mewujudkan impian sang ayah sebagaimana halnya George W. Bush menghidupkan kembali keinginan ayahnya, Presiden Bush Sr, mengalahkan Presiden Saddam Husein dari Irak � hanya sejarahlah yang dapat membuktikannya. (rb)
Tamat
Sumber: http://sejarahperang.wordpress.com

Dari Kairo Sampai Pemaksaan Penyatuan (2)

Negeri yang Tersudut