Dunia Arab Tolak Intervensi Asing Terhadap Krisis Libya

Di tengah-tengah laporan tentang penyebaran pasukan barat di sekitar Libya, menteri luar negeri Arab menolak pada Senin (6/6) adanya intervensi militer asing untuk mengakhiri krisis politik di negara kaya minyak tersebut.
Arab mengkonfirmasi “keinginan mereka untuk tidak adanya intervensi asing” di Libya, Menteri Luar Negeri Irak Hoshiyar Zebari mengatakan dalam pembukaan pidato untuk sebuah pertemuan kementerian Arab di Kairo, kantor berita Reuters memberitakan.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh para menteri luar negeri dan perwakilan dari 22 negara anggota Liga Arab, berfokus pada kerusuhan di Libya di mana pertempuran di antara para pendukung setia dan para penentang Moammar Gaddafi telah diberitakan membunuh sekitar 2.000 orang.
Kerusuhan tersebut telah memicu Washington untuk mengirim kapal perang masuk ke Mediterania sekitar Libya.
Perdana Menteri Inggris, David Cameron juga telah mengajukan sebuah zona bebas terbang di atas negara Arab tersebut, sebuah proposal yang memenuhi oposisi dari kekuatan kunci barat.
Sebuah kerangka resolusi ditarik oleh para perwakilan Liga Arab menyebutkan bahwa penolakan Arab tentang “adanya interevensi militer asing di Libya” dan menekankan “persatuan dan integritas tanah Libya.”
Zebari meminta kepemimpinan Libya untuk mengambil keputusan berani menghentikan kekerasan dan menghormati “hak-hak sah” rakyat.
“Kami berharap bahwa rakyat Libya dapat mengatasi keadaan sulit ini, dan bahwa para pemimpin Libya mengambil sikap berani untuk menghentikan pertumpahan darah dan menghormati keinginan dan hak-hak sah rakyatnya untuk hidup di sebuah negara bebas dan demokratis,” ia mengatakan.
Menteri Luar Negeri Oman, salah satu dari negara di mana para pemrotes meledak baru-baru ini, mengatakan pada pertemuan Rabu tersebut adalah pertama kalinya dari sebuah kebangkitan Arab baru.”
Berbicara tentang Libya, Youssef bin Alawi bin Abdullah mengatakan bahwa “tidak ada seorangpun yang seharusnya mengganggu dalam urusannya”.
Pimpinan Liga Arab, Amr Moussa mengatakan bahwa situasi di Libya “menyedihkan”.
Namun, ia tidak menyebutkan adanya prospek intervensi asing dalam pidato pembukaannya pada pertemuan tersebut.
“Tidak benar bahwa kami menerimanya atau kita hidup dengannya,” kata Moussa, merujuk pada kerusuhan di negara Arab dan Afrika Utara.
“Kenyataannya adalah rakyat Libya sangat menderita dan menghadapi kekerasan dan berusaha untuk membunuh keinginannya untuk kebebasan,” ia mengatakan.
Posisi Arab datang di tengah-tengah kekuatan Barat atas sebuah kemungkinan intervensi militer di Libya.
“Kami percaya bahwa ini masih belum waktunya untuk membuat keputusan apapun atas hal tersebut,” Tommy Vietor, seorang juru bicara keamanan nasional AS, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
Ia berkomentar tentang sebuah kemungkinan oleh Perdana Menteri Inggris David Cameron untuk sebuah zona bebas terbang di atas negara Arab.
“Pendapat militer saya adalah zona bebas terbang tersebut akan menantang,” Jenderal James Mattis, komando Komando Pusat AS, mengatakan.
“Anda akan telah menyingkirkan kemampuan pertahanan udara dengan tujuan untuk memberlakukan sebuah zona bebas terbang, jadi tidak ada ilusi di sini. Akan menjadi sebuah operasi militer � tidak akan hanya mengatakan kepada orang-orang untuk tidak menerbangkan pesawat.”
Menteri Pertahanan AS, Robert Gates juga nampaknya enggan untuk menerima proposal tersebut.
“Saya akan mencatatkan bahwa resolusi Dewan Keamanan PBB tidak memberikan kewenangan apapun untuk penggunaan pasukan bersenjata.
“Tidak ada kebulatan suara di dalam NATO untuk penggunaan pasukan bersenjata.
“Dan semacam pilihan yang telah dibicarakan di dalam pers dan tempat lain juga memiliki konsekuensi mereka sendiri dan kedua � dan ketiga � efek perintah, sehingga mereka harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.”
Rusia dan Perancis juga menentang pilihan tersebut.
Sergey Lavrov, menteri luar negeri Rusia, mengatakan bahwa zona bebas terbang “tak berguna” dan bahwa kekuatan dunia harus fokus pada penggunaan sepenuhnya sanksi PBB.
Laurent Wauquiez, menteri Perancis untuk urusan Eropa, menggemakan sebuah posisi yang sama.
“Bagaimana akan berhasil? Tidakkah akan berbalik menyerang kita, dengan orang-orang mengatakan: ‘barat sedang mengambil alih karena Libya punya minyak?'”
Cina juga bergabung dalam kekuatan dunia menentang pembentukan sebuah zona bebas terbang di atas negara Arab.
“Kami memberikan sebuah perhatian yang besar pada apa yang terjadi di Libya. Kami berharap bahwa Libaya bisa kembali stabil sesegera mungkin dan masalahnya bisa terselesaikan dengan damai melalui dialog,” juru bicara menteri luar negeri Cina Jiang Yui mengatakan.
“Kami berharap bahwa komunitas internasional bisa membuat upaya membangun untuk memastikan bahwa Libya kembali stabil sesegera mungkin.” (ppt/oi)
Sumber: http://suaramedia.com

Palestina: Netanyahu Punya Satu Kesempatan Terakhir

Al-Qaeda Yaman Serukan Persiapan Perang Yahudi-Iran