Gaddafi: NATO Berusaha Keras Membunuhku!

Serangan udara NATO menargetkan pusat kursi kekuasaan Moammar Gaddafi pada Senin pagi, menghancurkan sebuah perpustakaan bertingkat dan kantor dan dengan parah merusak ruang resepsi yang biasanya digunakan untuk menjamu pejabat yang datang mengunjungi, dalam apa yang seorang pejabat pers dari pemerintah Qaddafi mengatakan merupakan upaya keras mengakhiri hidup pemimpin Libya itu.
Keberadaan Gaddafi di saat serangan terhadap pekarangan Bab al-Azizya yang luas itu terjadi tidak diketahui. Seorang pejabat keamanan di tempat kejadian mengatakan empat orang terluka ringan.
Seorang pejabat pers, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan 45 orang luka-luka, termasuk 15 orang yang serius terluka, dan beberapa masih belum ditemukan setelah serangan itu. Belum ada verifikasi independen dari jumlah korban.
Koresponden CBS News David Martin melaporkan bahwa serangan itu adalah bagian dari serangan yang telah direncanakan sebelumnya terhadap fasilitas komando dan kontrol, dan sangat tidak mungkin bahwa NATO akan tahu lokasi Gaddafi jauh sebelumnya.
Pihak berwenang mengatakan antara dua dan empat rudal besar atau bom meledak di kompleks tersebut pada Senin pagi. Bangunan, yang digambarkan sebagai lokasi di mana Gaddafi mengadakan rapat, rusak parah dengan atap dari salah satu struktur lubang
Pada awal kampanye serangan udara terhadap Gaddafi, sebuah rudal jelajah menghantam sebuah gedung administrasi di Bab al-Azizya bulan lalu, merobohkan setengah bangunan tiga lantai tersebut. Kompleks ini juga ditargetkan dalam pemboman AS pada bulan April 1986, setelah Washington meminta Libya bertanggung jawab atas ledakan di sebuah diskotik Berlin yang menewaskan dua prajurit Amerika.
Sebuah bangunan bertingkat yang oleh penjaga dikatakan menjabat sebagai perpustakaan dan kantor Gaddafi berubah menjadi tumpukan logam bengkok dan beton rusak dalam serangan pada hari Senin tersebut. Puluhan pendukung Qaddafi naik di atas reruntuhan, mengibarkan bendera hijau Libya dan nyanyian untuk mendukung pemimpin mereka.
Sebuah bangunan kedua, di mana Qaddafi menerima pejabat yang berkunjung, mengalami kerusakan parah. Pintu utama terbuka, pecahan kaca berserakan di tanah dan bingkai-bingkai foto berhamburan.
Serangan terjadi sehari setelah pasukan Gaddafi melepaskan berondongan tembakan dan roket di Misrata di akhir pekan, dan permintaan segar untuk lebih banyak tindakan agresif NATO oleh beberapa politisi Amerika.
Senator Lindsey Graham (R-SC) mengatakan pada akhir pekan: “Rekomendasi saya untuk NATO dan administrasi adalah untuk menyerang langsung pada pusatnya, pergi ke Tripoli, mulai melakukan pemboman pada lingkaran dalam Gaddafi, kompleks mereka, markas militer mereka di Tripoli.”
Karena meningkatnya kekerasan di Misrata, yang menurut para dokter itu telah sejauh ini menewaskan 32 dan puluhan luka-luka dalam dua hari, koresponden CBS News Allen Pizzey melaporkan bahwa kapal yang membawa para warga sipil menjauh dari kota yang terkepung telah menjadi penyelamat hidup yang sangat penting.
Makanan dan obat-obatan telah menjadi langka di kota, dan satu-satunya cara bagi kebanyakan orang untuk menolong dirinya sendiri adalah untuk pergi.
Pemberontak mengatakan bahwa mereka mengusir pasukan pro-pemerintah terakhir dari pusat kota Libya terbesar ketiga tersebut. Namun semangat pertempuran pasukan Gaddafi di Misrata masih tetap kuat.
Pertempuran untuk Misrata, yang telah merenggut ratusan jiwa dalam dua bulan terakhir, telah menjadi titik fokus pemberontakan bersenjata melawan Gaddafi sejak pertempuran di tempat lain menemui jalan buntu.
Sementara itu para pemimpin senior Kongres AS menggunakan penampilan di program CNN “State of the Union” kemarin (24/04) untuk menyerukan pembunuhan pemimpin Libya Moammar Gaddafi dan peningkatan besar serangan udara untuk mencapai tujuan sebenarnya dari perang tersebut, sebuah rezim boneka yang penurut.
Senator Republik dan mantan calon presiden John McCain, yang mengunjungi Benghazi Jumat lalu untuk bertemu dengan anggota Dewan Nasional Transisi, menyerukan pengakuan AS langsung akan badan pemberontak itu sehingga uang dan persenjataan dapat dikirim. McCain menyatakan bahwa mantan menteri Gaddafi, seorang tokoh yang terkait dengan CIA yang diketahui berada di dewan, “mewakili aspirasi sah rakyat Libya.”
Selain menuntut upaya meninggkatkan pelatihan dan mempersenjatai pasukan anti-Gaddafi untuk memerangi saudara mereka, McCain bersikeras bahwa kekuatan udara AS seperti AC-130 dan jet tempur Apache digunakan dengan “cara lebih berat”.
Menanggapi seruan Graham untuk pembunuhan, McCain menyatakan kesepakatan umum dengan menargetkan pemimpin Libya, tetapi menyatakan strategi AS harus didasarkan pada “memenangkan pertempuran di tanah” bukan pada “kesempatan untuk membunuhnya keluar dengan serangan udara yang beruntung.” (iw/cbsn/wsws)
Sumber: http://suaramedia.com

Serang Libya, AS Dikecam "Claudia Schiffer Afrika Utara"

Iran: Persekongkolan AS dan Israel Berencana Pecah Belah Suriah