"Israel Gunakan Kekuatan Berlebihan Hadapi Demonstran Hari Naksa"

Uri Avneri, mantan anggota Knesset dan aktivis organisasi sayap kiri Gush Shalom, mengatakan hari Minggu kemarin (5/6) bahwa pasukan IDF telah menggunakan kekuatan secara berlebihan melawan pengunjuk rasa di Dataran Tinggi Golan.
“Perilaku kekerasan sangat menonjol terutama bila dibandingkan dengan kelembutan perlakukan terhadap para pemukim Yahudi,” katanya.
Avneri mengakui bahwa suatu negara memiliki hak untuk membela perbatasannya dan mencegah orang masuk secara ilegal ke wilayahnya, namun menambahkan bahwa “agar dapat secara efektif melindungi perbatasannya, negara pertama kali harus tahu di mana perbatasan negaranya dan minta mereka diakui oleh masyarakat internasional – dan ini adalah keputusan yang telah dihindari Israel selama bertahun-tahun. “
Sebuah negara yang berbatasan dengan negara tetangga, mencuri tanah mereka dan mendirikan pemukiman di sana hanya akan membuat masalah bagi negara tersebut,” kata Avneri.
“Bertentangan dengan apa yang dikatakan Perdana Menteri Netanyahu, hanya mengakui dan menyepakati perbatasan internasional – yaitu, sebuah perbatasan berdasarkan garis batas tahun 1967 – adalah perbatasan yang wajib dipertahankan Israel.”
Sementara itu puluhan aktivis faksi Balad melakukan aksi di persimpangan Shfaram pada Minggu sore kemarin memprotes peristiwa yang terjadi di perbatasan Israel-Suriah.
Ketua Balad, Jamal Zahalka, menyebut pembunuhan demonstran oleh IDF sebagai sebuah “kejahatan perang,” dan menuduh tentara Israel sengaja menembak untuk membunuh, dengan tujuan menghalangi adanya demonstrasi serupa di masa mendatang.
“Kita harus ingat bahwa perbatasan internasional di Kinneret dan bukan di bukit dan Israel adalah salah satu pihak yang masuk tanpa izin ke perbatasan, bukan demonstran,” kata Zahalka menegaskan. (fq/hrzt)
Sumber: http://www.eramuslim.com

Yahudi Perusuh Kembali Bakar Masjid di Tepi Barat

Pakar Hukum: Masyarakat Global Tidak Punya Kemauan untuk Hentikan Israel