Hidang Maulid, yang Hilang Kala Perang

Bulan Rabiul Awal selalu istimewa bagi masyarakat Aceh. Sepanjang bulan ini, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar. Warga antarkampung saling kunjung. Di meunasah dan masjid mereka berkumpul, berpesta, dan bersilaturahmi dalam acara hidang maulid. Kebersamaan yang meriah. Sebuah kebersamaan di bulan istimewa yang sempat menghilang di kala perang.
Aceh dengan tradisinya yang kental pengaruh Islam.
Pagi di akhir pekan ini, Jafar (40), tampak sibuk meracik bumbu di sebuah tenda sederhana di sebelah masjid. ” Kalau dagingnya sudah empuk, baru bumbu ini dimasukkan,” kata dia.
Jafar bersama 14 warga sekitar masjid Baitussolihin, Desa Ulee Kareng, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, memasak kari sapi. Kari inilah yang akan jadi menu utama kenduri bersama warga se-Kecamatan Ulee Kareng dalam acara Hidang Maulid di halaman masjid Baitussolihin hari itu.
Tiga ekor sapi dewasa sudah selesai dipotong-potong menjadi serpihan kecil daging. Delapan wajan besar pun disiapkan. Sebanyak 15 juru masak, yang semuanya pria dengan terampil memasukkan bumbu ke dalam rebusan daging di wajan. “Sudah jadi tradisi, dalam acara hidang maulid yang memasak bapak-bapak. Biar nanti ibu-ibu yang menikmatinya,” ujar Jafar sambil tertawa.
Tak jauh dari tenda memasak itu, persisnya di halaman masjid, ratusan orang dari berbagai desa dan instansi, sibuk menyiapkan hidang, wadah-wadah nasi yang dihias aneka warna. Sembari menunggu juru masak selesai memasak kari, ratusan orang itu lalu berpawai keliling kampung. Suara rebana, rapai, dan serunai kalee (alat musik tiup khas Aceh) yang dimainkan pemuda dan pemudi, meningkahi pawai maulid itu.
Di antara peserta pawai tampak sejumlah anggota TNI dan kepolisian. Mereka tak sedang mengamankan, tapi juga turut sebagai peserta pawai. Tak lupa, mereka pun membawa idang nasi yang sudah dihias.
Usai pawai, mereka kembali ke halaman masjid. Setelah jeda salat Dhuhur, ribuan orang dari berbagai kampung berdatangan. Mereka membawa berbakul-bakul nasi yang dibungkus daun maupun kertas. ” Ini untuk hidang bersama,” ujar Aminah (35), warga Ulee Kareng.
Setelah itu, ribuan warga dari berbagai desa itu pun bersilaturahim. Mereka saling bersalaman sambil menyanyikan tembang salawat nabi. Hingga akhirnya, acara santap bersama pun dimulai dan menjadi penutup acara tersebut.
“Ini untuk merayakan maulid nabi. Tapi lebih dari itu juga di acara ini menjadi tempat silaturahim dan menjalin kebersamaan warga di kecamatan ini sehingga makin bersatu,” kata Jamal Yunus, ketua panitia Hidang Maulid.
Hidang Maulid sudah menjadi tradisi lama masyarakat Aceh. Sejak Islam masuk ke wilayah ini, tradisi ini muncul. Di hampir semua kabupaten dan kota di Aceh, kegiatan ini ada, terutama di desa-desa.
Bagi masyarakat Aceh, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tak hanya tepat tanggal 12 Rabiul Awal. Namun, sebulan penuh warga dapat menggelar hidang maulid. Terkadang, tiga bulan sesesuah 12 Rabiul Awal pun masih ada kampung yang menggelar. Hal ini karena tiap kampun atau desa menggelar bergiliran.
“Tiap kampung menggelar ini. Biasanya, kami selalu mengundang warga kampung lain untuk datang menikmati hida ngan yang disediakan tiap warga kami. Kami berkumpul di meunasah. Setelah tahlil, lalu menikmati kesenian tradisional, terus makan bersama. Ratusan sampai ribuan orang berkumpul. Ini seperti hari raya bagi kami,” ujar Hamzah (40), warga Ulee Kareng.
Namun, sesungguhnya, kebersamaan yang meriah dalam perayaan maulid ini baru kembali terasa 4-5 tahun terakhir, khususnya setelah tsunami. Sepanjang tahun 1980-awal 2000, kemeriahan maulid nyaris tenggelam ditelan ketakutan warga yang tercekam konflik antara TNI/Polri melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
“Jangankan merayakan maulid, mau ke pasar aja kami takut. Apalagi kumpul-kumpul orang segini banyak,” tutur Hendra Saputra (30), warga Kecamatan Idie Rayeuk, Aceh Timur.
Masa status daerah operasi militer (DOM) dan darurat militer adalah masa yang paling traumatis bagi warga Aceh saat ini, terutama di desa-desa.
“Kala itu, nyaris tak mungkin menggelar perayaan besar. Sebagian besar pemuda desa memilih merantau. Di kampung-kampung tinggal perempuan dan pria-pria lanjut usia. Kami waktu itu takut dituduh macam-macam,” kata Hendra.
Namun, perihnya bencana tsunami menjadi berkah. Sejak saat itu, konflik mereda. Setelah perjanjian Helsinki dan lahirnya Aceh yang otonom, masa damai pun teretas. Sesuatu yang sangat disyukuri warga Aceh. Ini sekaligus pelajaran bagi keindonesiaan kita; saban ekspresi ketidakpuasan daerah tidaklah harus dihadapi dengan bedil.
“Kini, kami semua damai. TNI/Polri dan masyarakat bisa kumpul bersama di hidang maulid. Sesuatu yang dulu tak mungkin terjadi,” tandas Hendra.
Sumber: http://kompas.com

Perang Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Beda Islam & Kristen: Perang, Penjarahan, Perbudakan & Pembunuhan