Inggris: Perang Irak adalah Perang Salib

Sekretaris Luar Negeri Inggris David Miliband menyatakan Pada hari minggu, 8 Mei bahwa perang Irak menciptakan prasangka terhadap negaranya sesaat ketika perang salib dan kegagalan kekuatan kolonial untuk menciptakan dua negara di Palestina.
“Keputusan yang diambil beberapa tahun yang lalu di jalan King Charles dirasa masih pada pandangan Timur Tengah dan Asia Selatan,” ia mengatakan dalam sebuah pidato kunci pada Pusat Oxford untuk Penelitian Islam (Oxcis) Pada hari minggu, 8 Mei.
“Penghancuran istana Perang Salib tetap sebagai monumen yang memilukan bagi kekejaman keagamaan dari Jaman Pertengahan.”
Perang Salib merupakan serangkaian dari kampanye militer dari sebuah karakter keagamaan yang dilaksanakan oleh banyak umat Kristen Eropa selama 1095-1291.
Kampanye tersebut, yang kebanyakan darinya disangsikan oleh paus Gereja Katolik Roma, memiliki tujuan mengambil kembali Yerussalem dan Tanah Suci dari kekuasaan Muslim.
“Garis yang ditarik pada peta oleh kekuatan Kolonial berhasil, banyak diantaranya, oleh kegagalan � harus dikatakan bukan saja milik kami � untuk mengeluarkan dua negara di Palestina,” Miliband mengatakan.
Pada 1917, kemudian Sekretaris Luar Negeri Lord Arthur Balfour mengirim sebuah surat kepada Baron Rothschild menyatakan bahwa pemerintahan Inggris menganggap dengan kebaikan hati pembentukan sebuah negara Yahudi di Palestina.
Pada 1948, Israel diciptakan di atas reruntuhan Palestina, memaksa ribuan orang keluar dari rumah mereka.
Miliband menempatkan Irak, dalam konteks yang sama seperti perang salib dan kolonialisme.
“Baru-baru ini, invasi Irak, dan akibatnya, membangkitkan sebuah perasaan kegetiran, ketidakpercayaan dan dendam. Ketika ornag-orang mendengar tentang Inggris, terlalu sering mereka berpikir tentang hal-hal tersebut,” ia mengatakan.
Peristiwa-peristiwa tersebut berhubungan dengan sebuah sejarah hubungan antara Eropa dan dunia Islam yang telah dikategorikan oleh penaklukan, konflik dan kolonialisme.”
Pada 2003, Perdana Menteri Tony Blair berpisah dengan beberapa sekutu Eropa dalam mendukung keputusan dari Presiden George Bush dalam menginvasi Irak tanpa sebuah mandat dari PBB.
Koalisi Persetujuan
Miliband menggarisbawahi bahwa kebutuhan untuk sebuah pendekatann baru untuk membangun sebuah koalisi yang lebih luas dan persetujuan antara Muslim biasa.
Ia berkeras bahwa Inggris seharusnya menemukan dasar umum dengan masyarakat Muslim dan mengerti kerumitannya.
“Untuk memperluas koalisi dan memenangkan persetujuan, kami harus mengerti dunia Muslim dengan lebih baik, atau kami akan mengambil resiko meremehkan paksaan dari argumen kita sendiri, seperti yang saya terkadang telah lakukan ketika menggunakan label moderat dan ektrimis” ia mengakui.
“Kami harus berpegang erat pada nilai-nilai kita sesndiri dan mendukung mereka yang berusaha untuk mengajukan mereka, atau kami akan menjadi bersalah atas kemunafikan dan kami membutuhkan untuk berbagi upaya-upaya untuk mengajukan keluhan-keluhan, sosio-ekonomi dan politik, yang dipersepsikan untuk membuat Muslim jatuh, dan pada faktanya memang demikian.”
Miliband meminta koalisi terbesar yang mungkin dan pergerakan politik, mengetahui hal ini berarti dipersiapkan untuk mendorong rekonsiliasi dengan organisasi dengan nilai-nilai yang berbeda.
“Koalisi terluas yang mungkin pada saatnya akan memasukkan kelompok-kelompok yang tujuan-tujuannya tidak kami bagi, yang nilai-nilainya kami temukan menyedihkan, yang metode-metodenya kami pikir meragukan. Tetapi akan menjadi tidak mungkin untuk memenangkan persetujuan dari orang-orang jika kami tidak dapat menunjukkan konsistensi dan kepastian dalam penerapan nilai-nilai kami.”
Ia meminta untuk membuat sebuah garis diantara semua perlakuan tersebut bagi politik dan mereka yang mempercayai kekerasan.
“Jika kami menghormati semua perlakuan politik tersebut, mendukung penerapan dari nilai-nilai demokratis kami sendiri dan membantu mengatasi keluhan-keluhan, termasuk atas Palestina, kami dapat memalsukan sebuah koalisi baru dan memenangkan persetujuan.”
Diplomat tingkat atas tersebut meyakini bahwa Muslim Inggris yang hampir dua juta tersebut memiliki sebuah peranan yang berharga untuk dimainkan dalam membangun persekutuan baru.
“Dalam mayoritas dari warga negara Muslim Inggris, kami memiliki sebuah sumber yang sangat besar, menggabungkan nilai-nilai yang mengikat Inggris bersama sebagai sebuah demokrasi liberal, dengan identitas keagamaan tertentu mereka,” ia menekankan.
“Dan dalam penggabungan identitas tersebut merupakan pelajaran berharga ketika kita memalsukan koalisi dalam dunia Muslim.”
Perang Salib dimulai pada tahun 1095 di Clermont di Perancis Selatan yang dideklarasikan oleh Paus Urban II yang mendesak seluruh umat Kristen untuk bersatu dibawah lambang Salib dan memerangi Muslimin untuk menyelamatkan Yerusalem dari Ras Penjahat Arab. Dia berceramah bahwa Tuhan akan mengampuni dan ditebus dosa dari masa lalu mereka jika mereka berhasil menaklukkan Tanah Suci.
Ketika kota Maarrat Numan ditaklukkan, 100.000 orang dibunuh dan kota dibakar hingga habis. Pada 15 Juli 1099, tentara Salib menaklukkan Yerussalem dan membantai 65.000 penduduk di dalam Masjid al-Aqsa. Tumpukan kepala-kepala, tangan-tangan dan kaki-kaki dapat terlihat di jalanan dan lapangan di kota tersebut
[History of the Arabs oleh PK Hitti]
Antara tahun 1095-1270, delapan perang Salib dilancarkan dan semuanya berakhir dengan kemenangan Muslimin.
Pada tahun 1917, ketika tentara Perancis memasuki Damaskus, komandan mereka melangkah ke kuburan Salahuddin dan menendangnya lalu berkata:Nous revoila, Saladin atau Kami telah kembali! Hai Saladin.
[Christian and Islam oleh John McManners hal.194]
Hampir satu Abad setelah Perang Salib di Yerussalem, muncul Perang Salib baru dengan tujuan dan alasan yang sama. Dibawah bendera Salib yang usang mereka memerangi dan membantai Muslimin di Afghanistan dan Iraq.
Sumber: http://suaramedia.com

Schermerhorn dan De Comissie-Generaal

Pasukan Keamanan Yaman Serang Demonstran Senin Ini, Lukai 10 Orang