Insiden di Pelabuhan Cirebon

hukum Piet Sanders (sekretarisnya Schermerhorn) teringat insiden keributan di Pelabuhan Cirebon menjelang Perundingan Linggardjati. Commissie-Generaal terbang ke Cirebon dengan pesawat Catalina yang bisa mendarat di air.
Sebuah kapal pemburu bertorpedo milik Belanda sudah siap di sana, sedangkan Angkatan Laut Belanda juga sudah siap siaga dengan kapalnya untuk mengawal Commissie-Generaal hingga ke darat. Namun pihak republiken menolak.
Ini wilayah republik. Sebuah kapal berbendera Belanda tidak diperkenankan masuk. Pihak republiken mengirimkan kapalnya sendiri untuk menjemput Commissie-Generaal menuju Perundingan Linggardjati. Namun sebaliknya kapten kapal pemburu bertorpedo menolak.
�Mereka berteriak, �Tidak boleh merapat�, tapi pihak anak buah kapal balik memaki, yang malah tidak meredakan situasi. Para awak kapal Belanda tidak mau dibawa bersandar dengan kapal berbendera Merah-Putih,� tulis Sanders dalam buku hariannya.
Sanders menyalahkan insiden itu akibat mentalitas kolonial yang masih dominan di pihak Belanda. Sebelumnya Sanders juga mendengar petinggi Angkatan Laut Belanda Deputi Laksamana Pinke dalam sebuah rapat mengatakan, �Laut ini, laut ini adalah milik saya,�
Bahwa ada pihak lain yang kini memiliki laut tersebut tak bisa dicerna oleh beberapa kalangan.
Dibutuhkan dialog sangat alot sebelum akhirnya sebagian dari delegasi masuk ke kapal Indonesia, dan sebagian lainnya tetap di kapal Belanda menyusul di belakang. Itulah solusi win-win yang dicapai oleh delegasi kedua pihak saat itu.
Dari Pelabuhan Cirebon perjalanan masih memakan waktu satu jam menuju Linggardjati. Pada awal rute banyak rakyat Indonesia berdiri di sepanjang jalan meneriakkan �Merdeka�dengan berapi-api.
�Kami melambaikan tangan ke arah mereka dan mereka membalas dengan tertawa,� cerita Sanders. (ni/andere tijden)
Sumber: http://www.nederlandsindie.com

Top 10 Jembatan Paling Unik dan Indah Sedunia

Soekarno Setuju, Sjahrir Murka