John McCain Desak AS Akui Pemerintah Pemberontak Libya

John McCain, senator AS, menjadi politisi senior Barat pertama yang mengunjungi Benghazi, ibukota pemberontak Libya, di mana dia menyerukan kepada Washington untuk mengakui kepemimpinan pemberontak sebagai pemerintah sah Libya satu-satunya.
Nicolas Sarkozy, presiden Perancis, mensinyalir kesediaannya untuk mengikuti McCain ke Benghazi. Seperti sang senator, dia juga mendukung seruan untuk aset-aset pemerintah Libya yang dibekukan diserahkan ke tangan pemberontak. Sumber-sumber diplomatik Perancis mengatakan bahwa David Cameron mungkin akan bergabung dengannya.
McCain, salah satu advokat intervensi militer pertama Amerika di Libya, juga menyerukan agar NATO meningkatkan serangannya terhadap militer Kolonel Moammar Gaddafi, mengatakan bahwa dia takut kebuntuan akan berakibat munculnya ekstrimis Islam.
Kunjungannya ke Benghazi memberikan suntikan moral yang signifikan bagi Dewan Nasional Transisional.
“Aku akan mendorong setiap negara, khususnya AS, untuk mengakui Dewan Nasional Transisional sebagai suara sah rakyat Libya,” ujar McCain.
“Mereka telah memperoleh hak ini dan Gaddafi menghilangkannya dengan berperang melawan rakyatnya sendiri.”
Dewan Nasional Transisional sejauh ini baru diakui oleh lima negara, di antaranya adalah Perancis dan Italia.
McCain juga menyerukan pada AS dan sekutu NATOnya untuk menyediakan senjata bagi pemberontak.
“Aku baru saja dari rumah sakit di mana aku melihat korban tewas dan sekarat, dan penting bagi kita untuk membantu mereka dan mengakhiri ini dan mengusir Gaddafi,” ujarnya.
Tapi penasihat utama militer Amerika, Admiral Mike Mullen, menepis kemungkinan itu kemarin, bersikukuh bahwa itu tidak akan terjadi. Kunjungan McCain dilakukan saat pemimpin pemberontak Libya menyambut keputusan AS untuk mengirimkan drone Predator ke Misurata, di mana pasukan pemberontak putus asa mempertahankan kota itu dari pembantaian besar oleh loyalis Gaddafi.
“Kami harap ini bisa melegakan penduduk Misurata,” ujar Mustafa Gheriani, juru bicara Dewan.
Pemberontak telah kehilangan banyak wilayah di Libya timur dalam fase awal serangan udara NATO, yang dipimpin oleh angkatan udara dan angkatan laut AS.
Meskipun kontribusi AS meningkat, Admiral Mullen mengakui bahwa ada bahaya kebuntuan yang berkembang di Libya, menimbulkan ketakutan terhadap keterlibatan militer Barat yang berlarut-larut di negara itu.
Tapi dia bersikukuh bahwa misi NATO menghasilkan keuntungan dan bahwa sepertiga dari pasukan darat Gaddafi tidak bisa beroperasi.
“Ini jelas bergerak ke arah kebuntuan,” ujarnya. (rin/tg)
Sumber: http://www.suaramedia.com

Mantan Penguasa Tunisia Ben Ali Miliki Bintang Atas Namanya Sendiri

Mesir Perpanjang Penahanan Terhadap Mubarak