Kagumi Taliban, Uskup Inggris Picu Gejolak dalam Militer

Uskup baru pasukan Inggris di Afghanistan mengungkapkan bahwa gerakan Taliban bisa dikagumi atas keyakinan mereka terhadap ajaran agama dan kesetiaan masing-masing anggota terhadap satu sama lain.
Uskup Stephen Venner menyerukan adanya pendekatan yang lebih simpatik terhadap gerakan Islam tersebut.
Uskup yang ditugaskan Gereja Inggris untuk mendampingi pasukan Inggris tersebut memperingatkan bahwa sebuah solusi damai dalam peperangan tersebut akan sulit dicapai jika gerilyawan Afghanistan tersebut dilukiskan dengan terlalu negatif.
Komentar pemuka agama tersebut dilontarkan kala Perdana Menteri Inggris mengunjungi Afghanistan dan memperingatkan pasukannya bahwa Taliban melakukan perang gerilya yang bertujuan untuk menyebabkan kerusakan maksimum. Gordon Brown menambahkan bahwa para prajurit Inggris menemukan bahan peledak setiap dua jam berselang.
Brown menginap satu malam di pangkalan sekutu di kota Kandahar, sebelah utara Afghanistan. Brown menjadi Perdana Menteri Inggris pertama yang menghabiskan malam di zona peperangan sejak Winston Churchill.
Kunjungan Brown tersebut dilakukan berselang beberapa hari pasca kematian Wakil Kopral Adam Drane, yang merupakan prajurit Inggris ke-100 yang kehilangan nyawa di medan tempur Afghanistan pada tahun ini. Kematian Drane membuat jumlah total tentara Inggris yang tewas di Afghanistan sejak invasi dimulai pada tahun 2001 menjadi 237 orang.
Uskup Venner menekankan kekagumannya terhadap pengorbanan pasukan Inggris dalam pertempuran di Afghanistan, namun ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kembali penilaian dan cara pandang terhadap Taliban.
“Sikap yang kita ambil terhadap Taliban terlampau sederhana,” kata Uskup Venner, yang baru saja menempati jabatan barunya setelah ditunjuk oleh Uskup Besar Canterbury, Dr. Rowan Williams.
“Ada banyak hal yang dikatakan dan dibela oleh Taliban, hal-hal yang tidak kita setujui, demikian halnya dengan orang-orang di barat. Namun, mengatakan bahwa segala hal yang mereka lakukan adalah hal buruk jelas tidak membantu memperbaiki keadaan, karena hal itu memang tidak jujur.”
“Taliban mungkin bisa dikagumi atas keyakinan teguh terhadap ajaran agama, ditambah dengan loyalitas mereka terhadap satu sama lain,” katanya.
Uskup tersebut menambahkan bahwa mengesankan Taliban sebagai setan tidaklah membantu upaya Inggris di medan tempur tersebut.
“Kita harus mengingat bahwa ada banyak orang yang mendukung mereka karena berbagai alasan, dan kita tidak bisa begitu saja mempersatukan mereka.”
“Mengecap mereka semua sebagai orang jahat dan menyetankan mereka sama sekali tidak membantu dalam sebuah situasi yang begitu rumit.”
Menurut Uskup Venner, semua orang di Afghanistan, termasuk Taliban, harus turut diajak berpartisipasi dalam diskusi untuk mencari solusi terhdap konflik berkepanjangan yang melanda Afghanistan.
“Pada akhirnya, kita berharap untuk dapat menemukan cara agar bisa hidup berdampingan di Afghanistan dengan keadilan dan kemakmuran untuk semua. Dan untuk melakukan hal itu, kita harus melibatkan seluruh orang di Afghanistan.”
“Dengan perdamaian sejati dan abadi, kita akan dapat membenarkan pengorbanan yang telah dilakukan oleh para prajurit kita.”
Sementara ini, kata Uskup Venner, “Pemerintah (Inggris) memiliki kewajiban moral untuk memastikan bahwa pasukan Inggris yang diterjunkan di lapangan telah mendapatkan perlengkapan yang memadai.”
Kolonel Richard Kemp, seorang mantan komandan di Afghansitan yang telah menulis beberapa artikel mengenai Taliban, mengatakan bahwa Uskup baru militer tersebut bersikap terlalu naif.
“Memang benar bahwa kita harus memahami musuh kita, tapi hal itu merupakan permasalahan militer, bukan urusan keagamaan,” katanya.
“Ada sejumlah elemen dalam tubuh Taliban yang tidak mendasarkan tindakan dari sudut pandang keagamaan. Cukup penting bagi kita untuk memahami dan melawan mereka.”
“Namun, ada banyak orang yang tidak bisa dibujuk. Mereka memandang kita sebagai pasukan penjajah kejam. Pandangan itu berasal dari politik di kawasan ekstrim, dan tidak ada banyak hal yang bisa dipuji atau dihargai.”
“Dalam banyak hal, adalah sebuah kesalahan untuk membandingkan keyakinan mereka mengenai perang suci dengan ajaran perdamaian dan saling pengertian, tidak seperti pandangan Uskup.”
Awal tahun ini, Peter Davies, walikota Doncaster, mengklaim bahwa masyarakat Inggris bisa mempelajari nilai-nilai kekeluargaan yang diusung oleh Taliban. Davies mengatakan bahwa di bawah kendali Taliban, Afghanistan memiliki sistem kehidupan keluarga yang teratur.
Bulan lalu, David Miliband, Menteri Luar Negeri Inggris, menawarkan “sebuah alternatif selain peperangan” kepada sebagian anggota Taliban. Miliband mengatakan bahwa orang-orang yang saat ini mengangkat senjata melawan pasukan Inggris harus didorong untuk duduk dalam jajaran anggota parlemen Afghanistan.
Komentar Miliband tersebut disampaikan berselang satu hari setelah sebuah strategi militer baru diungkapkan. Strategi baru tersebut menekankan pentingnya negosiasi dengan gerakan Taliban, menawarkan uang atau kekebalan hukum untuk mendapatkan perdamaian. (dn/tg)
Sumber: http://suaramedia.com

Perang Melawan Teroris Jadi Ancaman HAM

Korea Selatan Kebobolan, Rencana Perang Rahasia Dicuri