Kalah Karena Tergoda Rampasan Perang

Tsauban, maula (orang yang diperwalikan) Rasulullah saw. mengisahkan beberapa peristiwa mengandung hikmah, yang dialami bersama Rasulullah saw. Antara lain pada suatu hari, Rasulullah saw mendoakan semua keluarganya, termasuk Ali, Fatimah dan lain-lain.
Tsauban bertanya :” Ya Rasulullah, apakah saya juga termasuk yang tuan doakan bersama anggota keluarga tuan yang mulia itu ?” Ya Tsauban” jawab Rasulullah ” Selama engkau hidup mandiri, tidak berdiri di depan pintu rumah orang untuk meminta-minta dan menengadahkan tangan ke hadapan seorang amir (penguasa) untuk memohon sesuatu “
Beberapa waktu setelah terjadi Perang Uhud pada tahun ke tiga Hijriah, kaum Muslimin Madinah dilanda kesedihan mendalam. Mereka kehilangan tujuh puluh sahabat, saudara dan kenalan dekat, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib yang bergelar “Singa Allah”. Semua itu terjadi akibat sebagian pasukan Islam mengabaikan perintah Rasulullah saw, terutama pasukan artileri (pemanah) yang ditempatkan di Bukit Rumat, di sisi Padang Uhud tempat pertempuran berkecamuk.
“Siagalah disitu, menjaga pasukan musuh yang kemungkinan masuk dari arah belakang ” demikian intruksi Rasulullah saw, yang terjun langsung memimpin pasukan infanteri berlaga melawan pasukan kafir Quraisy.
Strategi ini sangat tepat, pasukan kavaleri Quraisy pimpinan Khalid bin Walid, tidak dapat masuk memberi bantuan. Mereka tertahan oleh pasukan artileri Muslim dengan tembakan panah-panahnya yang terarah ke sasaran. Bahkan ketika pasukan infanteri Quraisy terdesak ke kaki Gunung Uhud, pasukan kavaleri Khalid bin Walid tidak dapat bergerak sama sekali.
Pertempuran usai sudah dengan kemenangan pasukan Islam. Pasukan Quraisy berlarian menyelamatkan diri ke lereng-lereng Gunung Uhud. Mereka meninggalkan segala harta milik mereka, pedang, tombak, tameng, kuda, serta perhiasan dan segala simbol kemegahan militer yang lazim dibawa ke medan perang kala itu.
Sambil mengejar sisa-sisa pasukan yang masih mencoba melawan atau bertahan, pasukan Islam mengumpulkan ganimah, harta rampasan perang yang terserak-serak di antara mayat bergelimpangan dan genangan darah.
Tiba-tiba pasukan artileri di Bukit Rumat tergoda oleh limpahan ganimah. Mereka lupa terhadap kewajiban menjaga posisi belakang. Apalagi pasukan kavaleri Khalid bin Walid sudah tidak kelihatan. Mereka menduga, pasukan Khalid sudak kabur duluan setelah melihat kekalahan telak pasukan infanteri Quraisy. Maka mereka segera berhamburan turun. Ikut menyerbu ganimah. Saat itulah pasukan berkuda Khalid bin Walid, yang ternyata bersembunyi dibalik pohon-pohon kurma, datang menerjang. Pasukan Islam sangat terkejut. Kalang kabut memberikan perlawanan seadanya. Gugurlah tujuh puluh prajurit. Rasulullah saw sendiri terluka, dua giginya tanggal kena lemparan senjata.
Konsolidasi pasukan seadanya di bawah komando Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, berhasil menangkal kekalahan lebih telak. Kepulangan ke Madinah, diiringi duka cita mendalam.
Beberapa orang Muhajirin berkata, ” Seandainya kita tahu apa harta yang paling berharga daripada emas dan perak, niscaya kekalahan di Uhud tidak akan terjadi. Kita tidak akan turun dari bukit, untuk ikut memburu ganimah.”
Mendengar hal itu Umar yang berada dekat mereka menyatakan “Perbincangan kalian ini akan ditanyakan kepada Rasulullah saw”
Umar segera mencari Rasulullah saw yang sedang berjalan diringi Tsauban. Setelah bertemu, Umar menyampaikan segala apa yang dimasalahkan para Muhajirin veteran perang Uhud tadi.
Sambil tersenyum Rasulullah menjawab ” Harta yang paling berharga dari pada emas dan perak, adalah apabila kalian memiliki lidah yang selalu menyebut nama Allah, qalbu yang selalu bersyukur dan seorang istri mukminah yang mendorong kalian untuk tetap, menjadi seorang mukminin.
Sumber: Hiyatul Aulia kara Abu Nu’aim

Hernando Cortes, Sang Penakluk Meksiko

Joseph Stalin, Diktator Asal Uni Soviet