Kebencian Terhadap Israel Meningkat 300%

Agresi militer Israel ke Jalur Gaza selama 22 hari telah melahirkan perubahan persepsi secara radikal dikalangan masyarakat internasional. Selama ini, Israel dengan kemampuan yang dimilikinya berhasil memanipulasi persepsi masyarakat internasional, dan berhasil menciptakan opini bahwa ia merupakan fihak yang selalu didzalimi. Dan, Israel dengan cara mengulang-ngulang kisah yang dilakukan Nazi, yang membantai kaum Yahudi di kamp-kamp di Eropa, terutama kamp Auswichz.
Masyarakat internasional secara drastis telah berubah persepsi mereka terhadap Israel. Kampanye yang mereka lakukan selama ini, akhirnya sirna, bersamaan dengan kekejaman agresi militer yang mereka terhadap rakyat Palestina di Gaza. Aksi-aksi yang berlangsung di seluruh dunia, mengutuk tindakan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Gaza. Masyarakat internasional menilai tindakan Israel dalam perang di Gaza, lebih brutal dan kejam, bahkan di berbagai aksi penentangan terhadap Israel itu, justru Negara Zionis itu, lebih kejam dibandingkan Nazi-Hitler. Rejim Zionis-Israel telah menuai hasil yang sangat serius bagi masa depan mereka, terutama persepsi masyarakat internasional yang sudah sangat negative.
Koran Haaretz, melaporkan jumlah kelompok-kelompok gerakan anti Semit, di seluruh dunia meningkat dengan sangat drastis, di 2009 ini. Sebelumnya, pemerintah Israel, hanya mencatat sekitar 80 kelompok gerakan anti Semit, di tahun 2008. Tapi, sejak Israel melakukan agresi ke Gaza, meningkat menjadi 250 kelompok gerakan anti Semit, atau meningkat 300% di seluruh dunia. Aksi gerakan yang luas di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika Utara, Asia, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, dan bahkan di negara yang menjadi sekutu Israel pun telah terjadi aksi penentangan terhadap Israel. Hampir disetiap negara terjadi aksi yang menolak kekerasan yang dilakukan oleh Israel. Tentu, yang menarik adalah perubahan yang radikal dikalangan masyarakat tentang persepsi mereka terhadap Israel.
Ketika masih sedang berlangsung agresi militer Israel ke Gaza, di kota Toulouse, Perancis, sekolompok orang membakar mobil, yang berdekatan dengan synagogue Yahudi, yang mengakibatkan terjadinya kebakaran pintu gerbang synagogue. Di Paris seorang remaja Yahudi, di culik, dan dianiyaya. Penyerangan terhadap synagogue juga terjadi di Denis, dan Strasburg. Ini adalah peristiwa dari sikap kelompok-kelompok dalam masyarakat yang marah terhadap Israel.
Di hari yang sama di Swedia, tempat ibadah orang-orang Yahudi, sempat dirusak pintu jendelanya, dan membakar benda-benda yang didalamnya. Di Amerika, negara bagian California, di wilayah Malibu, sebuah komunitas Yahudi, dan synagogue, dindingnya telah digambari dengan lambang �swastika�, yang merupakan lambang Nazi.
Di Prancis, salah satu Negara Uni Eropa, di Negara itu terdapat jumlah penduduk muslim dan yahudi, ketegangan terus meningkat, sejak terjadinya serangan Israel ke Gaza. Ratusan ribu orang berdemonstasi di pusat kota, dan meneriakkan yel-yel anti Israel. Perdana Menteri Prancis, Prancois Fillon, mengingatkan ancaman akan terjadinya desintegrasi masyarakat Prancis akibat dari akibat agresi Israel ke Gaza. Dan, pertengahan Januari lalu, Presiden Nicolas Sarkozy, mengundang para pemimpin Yahudi, Muslim dan Katolik, dan Sarkozy meminta agar para pemuka agama itu, mendinginkan situasi yang ada di Prancis, khususnya akibat perang yang terjadi di Gaza. Bahkan, dikalangan para pemimpin negara-negara Amerika Latin, mereka telah menolak menjalin hubungan dengan Israel. Presiden Venezuela, Hugo Chavez, memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Selain itu, Presiden Bolivia, Evo Morales, juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Artinya, Israel semakin dikucilkan oleh masyarkat internasional, sebagai akibat kebiadannya.
Maka, sekarang ini komunitas Yahudi, menghadapi dilema dalam masalah keamanan mereka, akibat adanya kebencian dari kelompok-kelompok masyarakat. Mereka merasa tidak aman, dan itu sebagai perilaku dan tindakan-tindakan yang mereka lakukan. Sejarah Yahudi selalu terusir dari tempat mereka, dan mereka menjadi kelompok yang diaspora, dari satu tempat ke tempat lainnya. Di Israel, komunitas Yahudi juga tidak merasa aman. Mereka menciptakan �tembok� yang panjang membujur di sepanjang perbatasan mereka dengan Palestina. Karena, mereka merasa tidak aman dengan masyarakat Palestina. Karena, mereka menjajah, dan bersikap arogan.
Masyarakat internasional sudah sampai kesimpulan yang sama, bahwa Israel menjadi sumber kekacauan dan kekerasan. Agresi yang mereka lakukan terhadap Lebanon, tahun l982, yang berakhir dengan pembantaian terhadap rakyat Palestina, yang tinggal di kamp Sabrat dan Satila, dilanjutkan dengan agresi militer Israel terhadap Hisbullah di Lebanon Selatan, tahun 2006, dan kini terhadap Hamas, yang mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit, dan kerusakan infra struktur dan sarana umum, serta penggunaan senjata yang dilarang oleh konvensi Jenewa, yaitu senjata kimia, maka Israel harus menjadi musun bersama masyarakat internasional.
Israel bukan masyarakat yang menjadi korban dan didzalimi, tetapi Israel adalah fihak pendzalim, yang mendzalimi rakyat Palestina. Dan, masyarakat harus bangkit bersama-sama melawan kejahatan Israel, yang sudah berlangsung lama, dan berulang-ulang. (m)
Sumber: http://www.eramuslim.com

Akan Berakhirkah Perang?

Desember Hitam: Sejarah Berulangnya Pengkhianatan