Kekejaman dan Paranoid Stalin Karena Penyakit Otak?

Pada masa-masa akhir hidupnya Josef Stalin menjadi kejam dan paranoid dalam menghadapi rakyatnya, hal ini disebabkan karena kemampuan otaknya tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Hal itu diungkapkan oleh dokter pribadi Stalin.
Alexander Myasnikov mengatakan, penilaian sang diktator Uni Soviet terpengaruh oleh penyakit itu pada masa-masa akhir hidupnya.
Myasnikov mengatakan, Stalin sudah tidak mampu lagi membedakan baik dan buruk karena menderita atherosclerosis atau penumpukan lemak di pembuluh arteri otaknya.
Penyakit yang umumnya disebut pengerasan pembuluh arteri tersebut diyakini dipicu oleh kebiasaan Stalin yang merupakan perokok berat.
Seperti diwartakan Independent, dr. Myasnikov, yang dipanggil untuk memeriksa Stalin di ranjangnya saat sang diktator meninggal pada 1953, menuliskan bahwa Stalin sudah lama mengidap penyakit tersebut.
Stalin meninggal pada usia 74 tahun setelah menderita stroke berat. Sejumlah teori konspirasi menyebut Stalin diracun oleh anak buahnya. Tapi, tidak ada bukti kuat untuk membuktikan dugaan tersebut.
Sang dokter, yang juga turut hadir saat jasad Stalin diautopsi, agaknya tidak menyebutkan ada yang mencurigakan terkait kematian Stalin.
Namun, dr. Myasnikov menuliskan bahwa pengerasan pembuluh arteri di otak Stalin, yang disaksikannya sendiri pada saat autopsi, membuatnya yakin bahwa penyakit tersebut semakin memperparah kondisi Stalin yang memiliki kepribadian kompleks selama bertahun-tahun.
�Stalin mungkin sudah tidak mampu membedakan baik dan buruk, sehat dan berbahaya, hal yang diizinkan dan yang tidak diizinkan, kawan atau lawan. Kepribadian orang bisa menjadi dilebih-lebihkan, jadi seseorang yang curiga menjadi paranoid,� tulis sang dokter.
�Saya menduga kekejaman dan kecurigaan Stalin, rasa takutnya terhadap musuh-musuhnya, sebagian besarnya diciptakan oleh atherosclerosis pada pembuluh arteri otak. Akibatnya, negara (Soviet) dipimpin oleh pria yang sakit,� tambahnya.
Secara terpisah, buku harian dari salah satu tangan kanan Stalin, Lavrenty Beria, juga dipublikasikan untuk pertama kalinya. Beria dulu menjabat kepala NKVD, polisi rahasia Uni Soviet, di bawah kepemimpinan Stalin.
Dalam kisah Perang Dunia II yang menakjubkan, Beria menceritakan saat Winston Churchill mabuk bersama Stalin di Moskow saat Uni Soviet dan Inggris membentuk aliansi melawan Nazi Jerman.
Uni Soviet dan Inggris saling mencurigai satu sama lain, dan keduanya baru bekerja sama saat para pemimpinnya mabuk.
Dalam buku-buku harian tersebut, Beria mengklaim bahwa Churchill sudah sedemikian mabuknya pada perjumpaan dengan Stalin di bulan Agustus 1942 tersebut sehingga dia �kehilangan perencanaan.�
Dalam buku hariannya, Beria menuliskan bahwa dirinya sudah memberi tahu sang diktator bahwa alkohol adalah cara terbaik untuk membangun hubungan yang baik dengan sang perdana menteri Inggris dan mendapatkan kelonggaran darinya.
Beria menjadi salah satu letnan Stalin yang paling dipercayai setelah diangkat menjadi deputi kepala NKVD pada 1938.
Dua tahun kemudian, saat Nikolai Yazhov ditembak mati, Beria meneruskan kepemimpinan dan terus memimpin hingga setelah kematian Stalin pada Maret 1953. Sesaat setelah Beria ditangkap dan ditembak. (SMcom)

Mungkinkah Amerika Melepas Irak?

Nasib Perundingan Damai Palestina-Israel