Kemanunggalan Tentara dan Rakyat – Refleksi Perang Gaza dan Perang Teluk, Pelajaran untuk TNI

Awal abad ke-21 ini kita menyaksikan beberapa agresi yang dilakukan oleh beberapa negara kepada negara lain dengan berbagai macam alasan, dari perselisihan tapal batas, pembasmian teroris, dan yang paling gres adalah agresi militer Israel ke Palestina dengan alasan penumpasan pejuang Hamas.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyoroti bagaimana, di satu sisi efektifitas kemanunggalan antara pejuang HAMAS dan rakyat Gaza dalam melawan agresi militer Israel dan di sisi lain kehancuran tentara Iraq era Saddam Hussain karena ditinggal oleh rakyatnya.
Apabila kita sandingkan antara kekuatan HAMAS dan Tentara Iraq era Saddam Hussain, maka sama saja antara membandingkan antara bumi dan langit. Kekuatan HAMAS hanya beberapa ribu pejuang yang dimotori oleh Brigade Izzudin Al-Qassam dan dilengkapi dengan senapan ringan dan berat eks-milisi Fatah dan selundupan. Sedangkan Tentara Iraq, pada waktu itu, dilengkapi dengan ratusan pesawat tempur dan pembom, ribuan artileri dan tank, dan senjata-senjata berat lainnya. Namun efektifitas kekuatan ini dalam menangkal suatu agresi atau invasi sangatlah mencengangkan. Dengan kesederhanaan persenjataannya, HAMAS, hingga sekitar kurang lebih 3 minggu agresi militer Israel ke Gaza, tetap eksis dan melakukan perlawanan yang efektif kepada Militer Israel, yang merupakan salah satu kekuatan militer terkuat di Timur Tengah, kalau tidak bisa dikatakan di dunia. Berita terakhir yang diterima dari dokter asal Jordania yang merupakan sukarelawan medis di Gaza bahwa hingga detik ini Israel masih tertahan di pinggiran kota Gaza dan beberapa kali dipukul mundur ketika memasuki kota Gaza. Ratusan bahkan ribuan ton bom, roket, peluru yang dijatuhkan oleh Israel, tidak mampu memaksa pejuang HAMAS untuk menaikkan bendera putih untuk menyerah hingga detik ini.
Di sisi lain, bila kita bandingkan dengan Iraq, maka Iraq yang dengan persenjataan yang begitu kuat dan modern sama sekali tidak mampu memberikan perlawanan yang efektif, kalau bisa dikatakan tidak ada sama sekali, terhadap invasi Amerika dan sekutunya ke Iraq. Dari hasil penulusuran penulis, tidak ada pertempuran masif antara tentara Iraq dan Amerika, selain hanya pertempuran sporadis di beberapa tempat. Hatta, Garda Republik, sebagai kekuatan elit tentara Iraq, hampir tidak bersuara dalam menghadapi gempuran dari Amerika dan sekutunya.
Fakta di atas sangat menggelitik penulis untuk berkesimpulan bahwa hatta dalam era peperangan modern ini, persenjataan yang canggih dan kekuatan yang besar tidak menjamin kemenangan suatu angkatan perang. Perang Gaza menunjukkan suatu bentuk kemanunggalan yang sempurna antara tentara dan rakyat. Pemboman yang bertubi-tubi yang mengakibatkan ratusan warga sipil syahid dan ribuan terluka, leaflet dari tentara Israel yang meminta warga Gaza untuk menyerahkan pejuang HAMAS tidak serta merta membuat warga sipil Palestina untuk memaksa Hamas menyerah, malah membuat dukungan kepada Hamas semakin besar untuk melanjutkan perlawanannya terhadap Israel.
Penulis melihat kemanunggalan ini tidak serta merta diraih tetapi didapat melalui 2 hal yang utama seperti terpapar di bawah ini:
1. Adanya shared values and same vision. Adanya kesamaan visi dan nilai-nilai yang dianut oleh Hamas dan kebanyakan warga Palestina, yaitu kemerdekaan Palestina berdasarkan nilai-nilai Islam. Values dan vision ini tidak sebatas hanya slogan atau retorika tetapi betul-betul dilaksanakan dari level tertinggi Hamas sampai level terendah sehingga rakyat percaya dan mengikutinya.
2. Kebaikan-kebaikan yang dilaksanakan secara berterusan kepada masyarakat, baik dalam bentuk layanan kesehatan, pendidikan, ekonomi, dsb, sehingga tertanam budi baik di kalangan rakyat Palestina kepada Hamas.
Sistem Pertahanan Semesta (SISHANTA) adalah doktrin yang dianut oleh Tentara Nasional Indonesia dalam melawan agresi ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Doktrin ini dalam pengertian penulis adalah pelibatan seluruh warga negara Indonesia untuk bahu membahu secara aktif bersama TNI dalam melawan setiap agresi. Doktrin ini juga adalah sama dengan doktrin yang diterapkan oleh pejuang Hamas dalam melawan agresi militer Israel.
Dalam hemat penulis, TNI harus belajar banyak dari pejuang Hamas dalam penerapan SISHANTA tersebut. Adalah mustahil bagi TNI untuk menerapkan SISHANTA secara efektif bila tidak ada shared values dan vision dengan rakyat Indonesia, adanya sebagian oknum TNI yang menyakiti hati rakyat, dsb. Setiap anggota TNI dari level paling atas sampai paling bawah harus sadar bahwa mereka adalah tentara rakyat yang lahir dari rakyat. Kesadaran ini tidaklah cukup hanya sebatas sebagai retorika tapi harus juga ditunjukkan melalui sikap dan perilaku sehari-hari dan dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Apabila arogansi dan kesewenang-wenangan yang ditonjolkan, maka doktrin diatas tidak akan berjalan dan TNI akan ditinggalkan oleh rakyatnya sendiri.
Semoga dikemudian hari, dengan segala keterbatasannya, TNI menjadi kekuatan yang disegani lawan namun dicintai dan didukung oleh rakyatnya.
Oleh: Prihtiono Sejati, B.Eng., Kontributor TANDEF
Sumber: http://www.tandef.net

Analisa Konflik Thailand dan Kamboja

Analisis Perang Vietnam: Latar Belakang dan Kronologis (1)