Kisah Warga Sipil Libya yang Menjadi Pembuat Senjata untuk Lawan Gaddafi

Aref Abu Zeid sebelumnya bekerja menjadi seorang insinyur alat berat di perusahaan baja Libya. Sekarang dia menjalankan sebuah tim yang terdiri dari 80-pria yang bekerja selama 12 jam sehari untuk membuat roket dan senjata mematikan untuk memerangi pasukan Muammar Gaddafi.

Di kubu pemberontak di barat Libya, insinyur sipil, mekanik dan pedagang berusaha membuat materi untuk mempersenjatai pemberontakan melawan kekuasaan Gaddafi yang saat ini telah menjadi perang sipil.

“Tak satu pun dari kita di sini ada hubungannya dengan militer,” kata Abu Zeid, 50 tahun. “Kebutuhan kami adalah untuk melindungi rumah kami, kehidupan kami dan kota kami sehingga memaksa kami turut berperan dalam perang ini.”

Misrata, kota terbesar ketiga di negara itu yang terletak 125 mil (200 kilometer) sebelah tenggara ibukota, adalah rumah bagi perusahaan baja terbesar Libya dan logam selalu tersedia di sini.

“Pemilik pertukangan dan pasokan gudang mekanik selalu akan membuka pintu mereka untuk kami,” kata Abu Zeid. “Mereka mengatakan kepada kami ‘Ambillah apa yang Anda inginkan.” Lainnya membawa kami tumpukan uang untuk membeli apa yang kami butuhkan.”

Pada awal perang di Misrata, para mekanik memperbaiki senjata di rumah dan garasi mereka. Tapi karena perang semakin membesar, para insinyur menyadari bahwa mereka membutuhkan operasi besar dan kekuatan yang lebih terorganisir.

Saat itulah sekitar delapan sekolah di seluruh kota berubah menjadi bengkel senjata. Relawan membanjiri bengkel-bengkel senjata tersebut untuk membantu.

Bengkel abu Zeid ini – yang dulunya bengkel keterampilan untuk kampus – adalah bengkel yang luas dengan dilengkapi dengan peralatan las dan mesin di mana para mahasiswa sebelumnya belajar teknik dan membuat mesin.

Sekarang bengkel ini telah menerima formulir permintaan dari garis depan pertempuran yang meminta dibuatkan mesin perang tertentu dan senjata.

Dentang logam dan tukang las mengisi bengkel utama tersebut. Lantainya penuh dengan kabel listrik dan besi tua. Poster instruksional masih menggantung di dinding, mengingatkan bahwa bengkel ini dulunya adalah bengkel untuk kampus.

Dua orang bekerja pada roket Grad memasang roket tersebut di belakang sebuah truk pickup.

Truk itu sendiri adalah salah satu dari truk yang digunakan ratusan pemberontak untuk melawan pemerintahan Gaddafi. Truk ini adalah truk tiruan buatan Cina dari model 4-wheel drive yang populer disebut Toyota Highlander Chao Yung.

“Tanpa mobil-mobil Cina ini kami tidak akan memenangkan perang di Misrata,” kata Abu Zeid.

Setelah dilengkapi dengan senjata, truk dicat hitam – kemudian ditulis kalimat “Revolusi 17 Februari” yang disemprot cat putih. Bendera pemberontak tiga warna dipasang di sisi kendaraan.

Dalam bengkel lain, potongan senapan otomatis AK-47 diperbaiki dan diganti.

Di seberang bengkel, ada mekanik, insinyur, dan tukang las melakukan pengujian senjata yang mereka buat, yang telah mengubah pengetahuan sipil mereka menjadi senjata dan amunisi dan desain lintasan roket.

“Kami tidak punya waktu untuk belajar, kami hanya menjadi lebih kreatif,” kata Ali Ibrahim, yang sekarang bekerja membangun roket.

Dia mengatakan bahwa pada awalnya, pembuat senjata pemberontak hanya bekerja dari intuisi. Sekarang mereka dapat menyalin dan mengambil ide dari Soviet dan bekas senjata dari Blok Timur Rusia yang diambil dari tentara Gaddafi.

Namun kebanyakan dari para laki-laki yang ada dibengkel ini tidak ada hubungannya dengan mekanika atau rekayasa mekanik sama sekali.

Sebelum perang dimulai, Muhammad al-Ahmar menjalankan sebuah toko pakaian wanita yang disebut Istana Para Putri di jalan kota Tripoli. Beberapa pertempuran sengit antara pemberontak dan tentara Libya pro Gadhafi membuat dirinya menjadi pekerja pembuat senjata kubu pemberontak.

“Pasukan Gaddafi menghancurkan toko saya dan saya kehilangan 12 teman dalam pertempuran,” katanya. “Bagaimana saya bisa memperbaiki dan membuka toko saya lagi dan kembali ke bisnis?” tanyanya.

Al-Ahmar, 38 tahun, mengatakan ia ingin menghormati kenangan teman-temannya yang sudah meninggal. Jadi akhirnya ia bergabung dengan pemberontak dalam melakukan pekerjaan di bengkel untuk membuat senjata.

“Orang-orang di sini ramah dengan saya. Mereka tahu kemampuan saya yang terbatas dalam pekerjaan semacam ini, sehingga mereka mengajari saya sesuatu yang baru setiap hari. Saya melakukan hal-hal kecil seperti mengelas dan memotong logam ,” ujarnya. “Saya pasti akan kembali ke bisnis pakaian secepatnya setelah Gaddafi jatuh.” (fq/ap)

Sumber: http://www.eramuslim.com

Obama: Israel dan Amerika Selamanya Akan Menjadi Sekutu Kuat

Surat Az-Zarqawi Sebelum Tewas di Irak