Korban Perang "Dicuekin", Julian Assange Beberkan 400.000 Dokumen Rahasia AS Dan Inggris

HAMPIR 400.000 dokumen rahasia Amerika Serikat mengenai perang di Irak, kembali dibeberkan di situs Wikileaks. Sebelumnya situs yang sama membeberkan dokumen perang AS di Afganistan. Pendiri situs yang menerbitkan bocoran dokumen itu, Julian Assange, 39, menegaskan, keputusannya mengungkap �rincian mendalam� mengenai konflik ini disebarluaskan dalam upayanya menguak kebenaran mengenai perang tersebut.

Menurut BBC, dokumen yang dibeberkan itu, tepatnya sebanyak 391,832 laporan yang diterbitkan 1 Januari 2004 hingga 31 Desember 2009 � antara lain adanya bukti-bukti terjadinya penyiksaan dan rincian kematian ribuan warga Irak yang diabaikan oleh Amerika Serikat.

Amerika Serikat dan Inggris kontan berang dan mengecam publikasi dokumen-dokumen rahasia yang terbesar dalam sejarah militer Amerika Serikat itu. Baik Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton maupun Menteri Pertahanan Inggris mengisyaratkan bahwa penerbitan itu hanya membuat nyawa orang-orang terancam.

Lebih jauh jurubicara Pentagon menilai dokumen-dokumen itu adalah �pengamatan mentah� dari unit-unit taktis yang isinya berupa cuplikan peristiwa-peristiwa tragis dan biasa. Disebutkan pula penyebaran dokumen-dokumen ini sebagai sebuah �tragedi� yang membantu musuh-musuh negara Barat.

Para pengamat menyebut, dokumen-dokumen rahasia milik militer AS yang dibocorkan Wikileaks merupakan �kebocoran dokumen militer terbesar sejak Perang Vietnam�, yang dianggap akan membahayakan keamanan pasukan maupun publik AS.

Sebelumnya ada 90.000 dokumen perang di Afghanistan diterbitkan Wikileaks awal tahun ini dan Julian Assange, aktifis anti perang yang juga programmer komputer berdarah Australia ini, mengklaim, tak satu orang pun yang dilaporkan jadi korban sebagai akibatnya.

KEBERANIAN BISA MENULAR

Julian Assange mengaku tidak mau menyerahkan dokumen-dokumen itu pada lembaga penyelidik kejahatan perang internasional, dengan alasan mempublikasikannya di situs internet dan menarik perhatian banyak orang lewat media massa lebih efektif daripada menyerahkan dokumen itu pada lembaga investigasi internasional dan mendesak mereka untuk menindaklanjuti bukti dalam dokumen-dokumen rahasia yang dimiliknya.

�Dari pengalaman kami, bahwa keberanian itu bisa menular,� kata Assange, penyandang gelar Ph.D bidang fisika itu. Satu hal yang ia khawatirkan adalah �Kami tidak bisa menegakkan keadilan atas materi-materi yang telah kami berikan.�

Wikileaks mulai menarik perhatian publik AS ketika situs itu mempublikasikan rekaman video tentang penembakan yang dilakukan tentara angkatan udara AS terhadap warga sipil di Baghdad dari atas helikopter Apache.

Rekaman itu menghebohkan publik AS dan membuat berang militer AS, karena dalam rekaman video tersebut terdengar tentara-tentara yang menembaki warga sipil tertawa-tawa di atas helikopternya.

Walau begitu ketika berbicara dalam sebuah konferensi pers di London untuk membela tindakannya, Assange mengatakan dokumen-dokumen itu sudah diedit untuk menghilangkan informasi-informasi yang berpotensi membahayakan seseorang dan menambahkan cuplikan peristiwa setiap hari itu menawarkan gambaran �skala manusia� dari konflik itu.

Julian Assange mengatakan kematian satu atau dua orang itu yang akhirnya bertumpuk menjadi �jumlah luar biasa� korban yang tewas di Irak.(dms)

Sumber: http://www.poskota.co.id/

Pejabat Korea Utara Membelot Ke Korea Selatan

Barat Salah Menilai Saddam Hussein