Korban Termuda Di Perang Dunia II

LONDON � Anak tersebut berbohong tentang umurnya hanya agar dapat masuk menjadi tentara, dan keberaniannya pun diberikan penghargaan dengan kematian yang lebih awal. Kini, disaat usianya yang mungkin saja bisa mencapai 82 tahun, Reginald Earnshaw akhirnya diakui menjadi bagian dalam sejarah kelam Perang Dunia II. Komisi Pemakaman Korban Perang secara resmi mengumumkan bahwa ia menjadi korban termuda yang tewas dalam Perang Dunia II dari pihak Inggris.

Anak tersebut hanya hidup selama 14 tahun dan 152 hari. Ia tewas ketika pesawat Jerman menyerang kapal SS Devon, di lepas pantai timur Inggris pada tanggal 6 Juli 1941. Saat itu Earnshaw baru mengabdi di dinas militer Inggris selama beberapa bulan.

Para pejabat terkait lambat untuk mengetahui status anak tersebut karena tidak adanya catatan kelahiran. Minimnya catatan menyebabkan kesulitan untuk membuktikan apakah usianya memang lebih muda dari Raymond Steed, yang meninggal pada usia 14 tahun dan 207 hari.

Menjalani tugas kemiliterannya, Earnshaw berperan sebagai petugas kabin. Saat itu ia mengaku bahwa usianya 15 tahun, usia minimum yang diperbolehkan untuk bergabung. Kebohongan Earnshaw ini dilakukannya semata-mata karena ingin mengabdi kepada negaranya.

Pengakuan atas status pejuang muda tersebut diperoleh dari sang adik, Pauline Harvey. Perempuan yang kini berusia 77 tahun tersebut membawa bukti catatan kelahiran dari Earnshaw. Catatan kelahiran ini yang membuahkan pengakuan remaja tersebut, sebagai korban tewas termuda dalam Perang Dunia II. Demikian diberitakan Associated Press.

Harvey sendiri awalnya kesulitan mencari makam dari kakaknya tersebut, mengingat jenazahnya dikubur dalam makam yang tidak memiliki nisan. Namun semuanya berubah saat rekan Earnshaw saat Perang Dunia II, Alf Tubb, berusaha mencari makam rekan mudanya tersebut di Edinburgh, Skotlandia.

Pencarian Tubb banyak menemui kendala karena Komisi Pemakaman Korban Perang tidak pernah memberi tahu dimana Eranshaw dikuburkan. Namun setelah sekian lama, komisi tersebut akhirnya mampu menemukan makam berdasarkan informasi dari Tubb. Komisi itu pun menaruh batu nisan di atas makam pahlawan perang tersebut.

Kini Harvey yang berusia sembilan tahun saat kakaknya meninggal, bisa memilih tulisan diatas nisan kakaknya tersebut.

Lusitania: Peradaban Romawi Kuno

Peristiwa Madiun 1948, Konspirasi Politik Kaum Kolonialis / Imperialis MELIKUIDASI RI