Laporan: Amerika Melanjutkan Kontak Resmi Dengan Ikhwanul Muslimin

Amerika Serikat memutuskan untuk melanjutkan kontak formal dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir, seorang pejabat senior AS mengatakan pada Rabu kemarin (29/6), dalam sebuah langkah yang mencerminkan berkembangnya politik kelompok Islam tersebut, tetapi hampir pasti akan menimbulkan kemarahan dari Israel dan pendukungnya.
“Pemandangan politik di Mesir telah berubah,” kata pejabat senior, yang berbicara dalam kondisi anonimitas. “Ini adalah kepentingan kami untuk terlibat dengan semua partai yang bersaing dalam pemilu parlemen atau presiden Mesir.”
Pejabat itu berusaha menggambarkan adanya pergeseran yang merupakan evolusi halus dari sebuah perubahan dramatis dalam sikap Washington terhadap Ikhwan, sebuah organisasi yang didirikan pada tahun 1928 yang bertujuan untuk mempromosikan visi ‘konservatif’ Islam di dalam masyarakat.
Di bawah kebijakan sebelumnya, diplomat AS diizinkan untuk berurusan dengan anggota parlemen Ikhwan yang memenangkan kursi sebagai calon independen – sebuah fiksi diplomatik yang memungkinkan mereka untuk tetap menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.
Sebelumnya diplomat AS hanya berhubungan dengan anggota Ikhwan dalam peran mereka sebagai anggota parlemen, dan hal itu telah berlangsung sejak tahun 2006, dan mereka sekarang akan berurusan langsung dengan pejabat tingkat rendah partai Ikhwan.
Tidak ada larangan hukum terhadap AS untuk berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin itu sendiri, yang telah lama meninggalkan aksi kekerasan sebagai sarana untuk mencapai perubahan politik di Mesir dan tidak dianggap oleh Washington sebagai organisasi teroris asing.
Namun kelompok-kelompok yang terkait Ikhwan lainnya, seperti Hamas, yang mengidentifikasi Ikhwan sebagai panduan spiritual mereka, Washington tidak berusaha menjalin kontak formal dengan mereka.
Perubahan sikap AS terhadap Ikhwan telah menjadi dilema bagi pemerintahan Obama. Mantan pejabat dan analis mengatakan AS memiliki sedikit pilihan namun harus terlibat langsung dengan Ikhwan, mengingat berubahnya kondisi politik setelah jatuhnya mantan Presiden Hosni Mubarak pada 11 Februari lalu.
Presiden AS Barack Obama sudah pasti akan menghadapi kritik atas keterlibatan pemerintahannya berhubungan dengan Ikhwan.
Howard Kohr, direktur eksekutif dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), sangat skeptis langkah pemerintah AS tersebut dalam berhubungan dengan kelompok yang anti Israel tersebut.
“Sementara kita semua berharap bahwa di Mesir akan muncul transisi politik yang saat ini akan berfungsi, dan berorientasi demokrasi Barat, namun faktanya adalah kekuatan terbaik yang terorganisasi politik di Mesir saat ini adalah Ikhwanul Muslimin – yang tidak mengakui Israel,” kata Kohr.
“Kita memang tidak akan mendapatkan pemilu yang bebas dan adil serta demokratis kecuali kita bersedia untuk berbicara dengan semua orang yang merupakan bagian dari demokrasi itu,” kata Edward Walker, mantan duta besar AS untuk Mesir dan Israel yang kini mengajar di perguruan tinggi Hamilton.
“Namun langkah Washington ini hanya akan membangkitkan iblis,” tambahnya. “Anda punya banyak sekali orang yang tidak senang dengan apa yang telah Ikhwan lahirkan. Masih banyak orang yang tidak akan menerima bahwa Ikhwan memiliki karakter baru atau berbeda dengan sebelumnya.” (fq/reu)
Sumber: http://www.eramuslim.com

Untuk Pertama Kalinya Amerika Gunakan Drone Serang Pejuang Shabaab Somalia

Senat AS: Putuskan Bantuan Jika Palestina Ngotot Minta Pengakuan Negara di PBB