Militer Amerika Selidiki Kasus Penarikan Massal Helm Cacat

Sebuah penyelidikan Departemen Kehakiman AS mengenai dugaan jalan pintas yang diambil sebuah kontraktor militer yang berbasis di Ohio dalam memproduksi helm tentara berakibat pada penarikan massal di Angkatan Darat AS.
Para pejabat Angkatan Darat AS pada Senin waktu setempat mengatakan, mereka meminta masing-masing prajurit memeriksa apakah helm yang mereka kenakan adalah bagian dari 44.000 helm produksi ArmorSource LLC, jika benar, mereka diminta segera mengembalikannya.
Brigadir Jenderal Peter Fuller, yang bertugas mengawasi kontrak perlengkapan prajurit untuk Angkatan Darat, mengatakan bahwa sejauh yang ia tahu, belum ada kasus cedera akibat helm yang diduga cacat produksi tersebut, meski ia menambahkan bahwa ia meragukan helm tersebut.
Helm-helm tersebut, yang didistribusikan kepada tentara AS di seluruh dunia, termasuk di Afghanistan, sebelumnya telah menjalani uji balistik. Tapi, setelah mengetahui bahwa Departemen Kehakiman menyelidiki ArmorSource pada musim gugur lalu, Angkatan Darat AS menghelat uji coba kedua.
Dari hasil uji tersebut, ditemukan bahwa helm-helm tersebut mungkin tidak mampu melindungi prajurit dari “skenario terburuk” diberondong tembakan senjata pada sudut tertentu, meski hal itu amat jarang terjadi.
“Kami tidak melihat hasil yang konsisten,” kata Fuller.
ArmorSource, yang dulu dikenal dengan nama Rabintex USA dan bermarkas di Hebron, Ohio, adalah satu dari empat produsen utama helm tempur Angkatan Darat. Perusahaan tersebut juga menjadi subkontraktor untuk helm pasukan Marinir AS.
Angkatan Darat AS menerima hasil uji tersebut minggu lalu dan memerintahkan penarikan tersebut pada hari Kamis malam, namun menunggu 24 jam sebelum mengumumkan keputusan tersebut kepada publik.
Para pejabat AD mengatakan bahwa pengungkapan diam-diam tersebut � setelah minggu kerja berakhir dan pasar keuangan ditutup � dilakukan karena mereka ingin terlebih dulu memberitahu Kongres dan para pejabat senior militer AS.
Departemen Kehakiman merujuk pada pertanyaan investigasi kantor jaksa AS di sebelah timur Texas. Seorang juru bicara wanita di sana mengkonfirmasikan bahwa ada investigasi yang tengah berlangsung, namun ia menolak membeberkan rincian lebih lanjut, termasuk apakan kasus yang diselidiki tersebut termasuk kasus kriminal atau bukan.
Dalam sebuah pernyataan yang dipasang di situs internetnya, ArmorSource mengatakan bahwa pihaknya telah dibertahu mengenai keputusan AD untuk menarik helm-helm buatan perusahaan tersebut dan tidak ada informasi lebih lanjut. Perusahaan tersebut mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan seluruh penyelidikan pemerintah.
The Army Ties, sebuah surat kabar yang khusus mengupas masalah militer, pada edisi Senin mengutip sebuah pesan internal AD yang menyatakan bahwa ArmorSource telah lalai.
“Ada bukti bahwa (helm-helm produksi) ArmorSource dan Rabintex dibuat dengan menggunakan praktik-praktik produksi yang tidak dibenarkan, menggunakan materi yang cacat, dan menerapkan prosedur kualitas yang tidak layak yang dapat mengurangi perlindungan balistik dan pecahan,” demikian menurut pernyataan tertanggal 14 Mei tersebut.
Pada 2006, Angkatan Darat memercayai perusahaan tersebut untuk mengirimkan 102.000 helm. ArmorSource telah menjadi pemasok sebagian besar helm ketika AD mengeluhkan mengenai cat yang rusak. Meski hanya bersifat kosmetik, AD menganggap hal itu termasuk pelanggaran kontrak dan membatalkan kesepakatan dengan perusahaan tersebut pada bulan Februari.
Pada saat itu, dari 102.000 helm yang dimiliki AD, 99.000 di antaranya adalah buatah ArmorSource. Dari jumlah sebanyak itu, 44.000 di antaranya sudah telanjur dikirimkan kepada para prajurit di seluruh dunia dan 55.000 lainnya diletakkan di tempat penyimpanan.
Penyelidikan Departemen Kehakiman telah berlangsung. Investigasi tersebut awalnya menyelidiki kesepakatan perusahaan tersebut dengan Marinir. Pada Januari lalu, investigas berkembang ke arah kontrak AD dengan ArmorSource.
Fuller mengatakan AD memutuskan melakukan uji ulang ketahanan helm atas desakan Departemen Kehakiman.
Para pejabat AD mengatakan mereka berniat menghancurkan helm-helm cacat tersebut dan mungkin mendapatkan kompensasi setelah investigasi Departemen Kehakiman rampung.
Helm-helm yang ditarik kembali tersebut berjumlah sekitar 4 persen dari total inventaris helm Angkatan Darat AS. (dn/ms)
Sumber: http://suaramedia.com

�September, Selalu Mengerikan Di Timur Tengah�

Benteng-benteng Warisan Peninggalan Kerajaan Islam