Militerisasi Bantuan, Akal Busuk Pasukan AS di Afghanistan

Kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan yang bekerja di Afghanistan menuding AS tengah berupaya melakukan militerisasi di negara tersebut dengan cara mencantumkan berbagai persyaratan sebagai embel-embel bantuan dan subsidi yang dikucurkan oleh negara adi daya tersebut.
Sejumlah organisasi bantuan kemanusiaan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka menolak pemberian bantuan dana yang berasal dari AS, karena uang tersebut memiliki keterkaitan erat dengan operasi militer.
Salah satu persyaratan yang diajukan adalah “pembersihan medan tempur”, yang mengharuskan kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan untuk bekerja langsung di bawah konstruksi tim rekonstruksi militer.
Anne Richard, dari Komite Penyelamat Internasional, mengatakan kepada kantor Berta Al Jazeera: “Kadang-kadang, para pemimpin militer langsung menarik asumsi, hanya karena kami berada di tempat yang sama (Afghanistan), maka tujuan kami juga serupa.”
“Tujuan kami adalah untuk membantu rakyat Afghanistan, dan � idealnya � mereka (AS) membantu diri mereka sendiri. Tujuan militer adalah untuk berperang dan mengamankan keadaan.”
“Mereka termotivasi oleh kepentingan nasional AS, sementara kegiatan kami didorong oleh masalah-masalah dan prinsip kemanusiaan.”
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa pada tahun 2011, uang yang digalang kurang $200 juta dibandingkan dengan yang mereka butuhkan untuk memberikan bantuan terhadap rakyat Afghanistan.
Namun, William Frej, direktur misi bantuan kemanusiaan USAID, berkata: “Militerisasi bantuan kemanusiaan adalah sebuah “cerita menyesatkan” dari apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.”
“Tanpa adanya dukungan militer, ada banyak lembaga bantuan kemanusiaan � seperti Oxfam � yang mengemukakan keluhan semacam itu tidak akan dapat memasuki wilayah-wilayah yang dulunya dikuasai oleh para pemberontak.”
Selain resiko dihubung-hubungkan dengan militer, organisasi-organisasi bantuan kemanusiaan juga mengatakan bahwa cara mereka memberikan bantuan jauh lebih baik dibandingkan militer.
“Saya rasa militer tidak perlu menyebarkan kebohongan kepada warga Amerika dan mengatakan bahwa jika ada yang ingin bekerja dalam bidang bantuan kemanusiaan, mereka harus bergabung dalam kemiliteran,” kata Richard.
“Menurut saya, jika warga Amerika � bahkan mungkin para veteran � ingin melakukan kegiatan positif, maka mereka sebaiknya bergabung dengan organisasi kami.”
Beberapa waktu yang lalu, sejumlah laporan menyebutkan bahwa dana dalam jumlah besar dihambur-hamburkan oleh agen-agen bantuan asing untuk memanjakan para staf mereka di Afghanistan, sementara pada saat yang bersamaan, rakyat Afghanistan didera gelombang kemiskinan yang deras.
Harian Independent pada hari Jumat melaporkan bahwa para konsultan asing di Kabul, yang gajinya diambilkan dari dana bantuan internasional, menerima sekitar $250.000 hingga $500.000 pertahun, sementara pemuda Afghanistan hanya dibayar $4 oleh Taliban dan gaji bulanan polisi Afghanistan hanya $70, yang jelas tidak cukup untuk biaya hidup jika polisi tersebut tidak menerima uang suap.
Para agen penerima dana bantuan menghamburkan sejumlah besar uang untuk menyewa rumah � jumlahnya bisa mencapai $30.000 pe bulan di kota Kabul � dan juga untuk biaya pengamanan, membuat mereka menjalani gaya hidup elit di Kabul.
“Saya sedang berada di propinsi Badakhstan, sebelah Selatan Afghanistan, yang jumlah penduduknya mencapai 830.000 orang. Dimana kebanyakan dari mereka menggantungkan hidup dari bertani,” kata Matt Waldman, kepala bidang kebijakan dan advokasi untuk Oxfam di Kabul. Jumlah dana keseluruhan dari departemen pertanian, irigasi dan peternakan � yang merupakan kebutuhan primer para petani Badakhstan � hanya berjumlah $40.000. Jumlah tersebut hanya cukup untuk membayar konsultan ekspatriat di Kabul selama beberapa bulan.” (dn/aj)
Sumber: http://suaramedia.com

Dihimpit Ketegangan, Korut-Korsel Gelar Pertemuan Rahasia

Armada Penakluk Lautan di Era Kejayaan Islam