MRAP, Upaya Baru Amerika Selamatkan Pasukan Dari Kematian

Militer AS telah mulai menerjunkan model kendaraan tempur generasi baru. Kendaraan berpelindung baja tersebut ringan dan mampu menjelajah segala medan. Sementara pelindung yang terpasang cukup untuk melindungi pasukan dari ledakan bom pinggir jalan yang mematikan, kendaraan tersebut juga tidak terlalu berat untuk jaringan jalan Afghanistan yang masih belum dikembangkan.
Penggunaan kendaraan baru tersebut menjadi upaya terbaru AS dalam mengurangi tingkat kematian tentara AS di medan tempur Afghanistan yang terus menunjukkan tren peningkatan kala Presiden Barack Obama mempertimbangkan untuk mengirimkan puluhan ribu orang pasukan tambahan.
Bermula di Irak beberapa tahun lalu, ketika para gerilyawan pertama kali mempergunakan bom pinggir jalan terhadap High-Mobility Multipurpose Wheeled Vehicle, atau disingkat HUMVEE, kendaraan utama yang dipergunakan militer AS.
Para prajurit dan marinir AS kemudian dengan cepat menyadari bahwa HUMVEE yang berbobot ringan tidak memiliki pelindungan yang cukup untuk menangkal ledakan bom, militer AS kemudian menambahkan sejumlah pelindung. Pelindung tersebut cukup membantu, namun dianggap masih kurang, dan pada saat yang sama, ukuran bom yang ditanam bertambah besar. Pihak militer kemudian menciptakan kendaraan lapis baja yang baru, semacam pesilangan antara HUMVEE dan tank, yang disebut MRAP (Mine Resistant Ambush Projet Vehicle). Militer AS mengklaim bahwa kendaraan tersebut telah menyelamatkan ratusan, mungkin ribuan nyawa prajurit AS di jalanan Irak.
“MRAP adalah penyelamat jiwa,” kata Asisten Menteri Pertahanan, Ashton Carter. Namun, dia menambahkan bahwa MRAP tidak berfungsi dengan begitu baik di Afghanistan.
“Medan Afghanistan berbeda dengan Irak, (Afghanistan) lebih tidak rata, jalanannya tidak mudah untuk dijelajahi. Oleh karena itu, kami harus menciptakan sebuah versi segala medan untuk MRAP,” katanya.
Bagi para perancang, yang menjadi tantangan adalah menciptakan sebuah kendaraan dengan perlindungan sekokoh MRAP, namun denga bobot 25 persen lebih ringan. Dan setelah itu, akronim demi akronim militer terus dilahirkan, misalnya M-ATV, atau MRAP All Terrain Vehicle.
“Kendaraan ini akan menjadi pelindung nyawa di Afghanistan,” tambahnya.
Dan AS memang memerlukan kehadiran “penyelamat” di Afghanistan. Korban jatuh dari kubu AS terus melonjak naik, mulai dari 40 orang per bulan hingga bulan Juni silam, menjadi 70 orang atau lebih perbulannya. Para pejabat mengatakan bahwa yang menjadi “algojo” utama adalah bom pinggir jalan.
Berdiri di luar gedung Pentagon pada hari Senin waktu setempat, di hadapan salah satu kendaraan berwarna kuning pasir yang dirancang untuk melindungi pasukan AS dari ledakan pinggir jalan, Asisten Menteri Carter memuji-muji M-ATV.
“Tingkat keselamatannya lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan lain yang ada di Afghanistan saat ini, jauh lebih tinggi. Dan percaya atau tidak, kendaraan ini amat mudah dikemudikan. Kesimpulannya, kendaraan ini adalah kendaraan yang hebat dan akan menjadi penyelamat jiwa,” katanya.
Meski berukuran lebih kecil dari MRAP, M-ATV masih tetap terhitung berat, dengan tinggi hanya seukuran rata-rata tinggi orang, beratnya mencapai 18 metrik ton.
Tampak luarnya seperti jip Perang Dunia II yang berukuran ekstra besar, namun terlindungi, dengan jendela anti ledakan berukuran kecil, sebuah posisi penembak senjata mesin di atas dan bermacam perlengkapan berteknologi tinggi di dalam dan di luar.
Militer AS membeli lebih dari 6.000 unit M-ATV, dengan harga nyaris mencapai 1 juta dollar per unitnya, termasuk seluruh perlengkapannya, suku cadang dan biaya angkut ke Afghanistan. AS mengatakan bahwa negara-negara lain yang menempatkan pasukan di Afghanistan juga ingin membeli kendaraan tersebut.
Direktur proyek MRAP dan M-ATV, Brigadir Jenderal Korps Marinir, Michael Brogan, mengatakan bahwa kendaraan baru tersebut akan melindungi pasukan di jalanan Afghanistan, tanpa harus menghancurkan jalanan atau “tersangkut” di jalanan.
Dia mengatakan bahwa kendaraan tersebut akan memungkinkan pergerakan pasukan menjadi lebih sulit dibaca, dan menghindar dari area-area dimana bom ditanam.
“Kendaraan ini benar-benar dirancang untuk melintasi jaringan jalan raya, untuk menaklukkan segala medan, pergi ke tempat-tempat yang tidak mampu dijangkau oleh HUMVEE berpelindung, bahkan di gurun pasir Afghanistan.”
“Rodanya lebih besar dibandingkan HUMVEE, jadi tekanan ke tanah tidak terlalu berbeda dibandingkan HUMVEE berpelindung,” kata Brogan. “Dengan jumlah tenaga kuda yang dihasilkan mesin dan karakteristik yang mirip HUMVEE, kendaraan ini menjadi sebuah kendaraan yang baik,” tambahnya.
Demi alasan keamanan, para pejabat tidak menyebutkan seberapa besar ukuran bom yang mampu ditahan oleh M-ATV. Namun dengan pengiriman ratusan � dan nantinya ribuan � unit kendaraan tersebut, AS berharap untuk dapat menekan angka kematian pasukan. (dn/va)
Sumber: http://suaramedia.com

Sejarah Revolusi Amerika

Bandara Misratah Berhasil Diambil Alih Pasukan Oposisi Libya