Mullen: Perang di Libya Mendekati Remis

Kepala Komite Staf Gabungan Amerika Serikat, Laksamana Mike Mullen, memperingatkan bahwa perang di Libya menuju ke arah remis, meski serangan udara yang dilakukan AS dan NATO sudah menghancurkan 30 hingga 40 persen pasukan darat Libya.
Berbicara di hadapan para prajurit Amerika di Irak, Laksamana Mullen mengatakan bahwa kelompok-kelompok radikal mungkin berusaha mengambil keuntungan dari kerusuhan di Libya, namun ia menambahkan, “Kami sudah mengawasinya, berhati-hati dan saya hanya belum pernah melihat begitu banyak. Bahkan, saya tidak melihat ada perwakilan al-Qaeda di sana sama sekali.”
Amerika Serikat memberikan izin penggunaan pesawat drone Predator di atas Libya untuk memberikan “akurasi.”
Bulan lalu, seorang komandan NATO mengatakan bahwa intelijen AS mendapati “tanda-tanda” aktivitas al-Qaeda di antara pemberontak.
Sementara itu, Senator John McCain mengunjungi markas pemberontak di Benghazi, McCain merupakan pejabat AS paling senior yang melakukan hal tersebut sejak pertempuran di Libya diawali bulan Februari lalu.
Ia meminta semua negara mengakui Dewan Transisi Nasional yang dikendalikan pemberontak sebagai “suara resmi rakyat Libya” serta menawarkan persenjataan dan pelatihan.
Selama berminggu-minggu, pasukan Kolonel Gaddafi membombardir Kota Misrata yang merupakan kawasan utama pemberontak di bagian barat Libya.
Paramedis mengatakan, lebih dari 1.5000 orang meninggal sejak pertempuran dimulai, banyak korban yang jatuh karena tembakan penembak jitu.
BBC menyebutkan bahwa ada bukti telah dipergunakan bom tandan oleh pasukan pro-Gaddafi di Misrata, sebuah tudingan yang hingga sejauh ini dibantah.
Juru bicara pemerintah Libya, Moussa Ibrahim, memperingatkan pasukan asing agar tidak masuk ke Misrata. Ia mengatakan bahwa pemerintah Libya akan memberikan neraka jika pasukan asing masuk ke kota itu.
AS berharap pesawat-pesawat tanpa awak yang terbang rendah akan mampu menarget pasukan Gaddafi dengan lebih akurat di kawasan seperti Misrata yang memiliki kemungkinan besar jatuhnya korban sipil.
Pentagon mengatakan bahwa serangan drone pertama terjadi pada hari Kamis, namun dibatalkan karena cuaca buruk.
Paul Adams, koresponden BBC di Washington, mengatakan bahwa penggunaan pesawat tanpa awak, yang dikendalikan dari sejumlah pangkalan di AS, memungkinkan AS menepati kata-katanya untuk tidak mengerahkan pasukan darat di Libya.
Tapi, Adams menambahkan bahwa drone bukan tanpa cela. Sudah ada kesalahan-kesalahan mengerikan yang terjadi saat pesawat tanpa awak dipergunakan di Pakistan, Yaman, dan Afghanistan.
Pengiriman drone disambut oleh pemberontak, namun deputi menteri luar negeri Libya memperingatkan bahwa penggunaan drone hanya akan meningkatkan korban sipil dan tidak akan mengubah hasil akhir peperangan.
“Pesawat-pesawat itu akan membunuh lebih banyak warga sipil, dan hal ini amat menyedihkan,” kata Khaled Salim kepada BBC. “Rakyat Libya yang harus menentukan nasib, bukan dengan pengiriman lebih banyak pasukan atau serangan udara, atau uang dan persenjataan untuk pemberontak.”
“Menurut saya, yang mereka (negara-negara asing) lakukan tidak demokratis dan tidak sah. Saya harap mereka akan membalikkan keputusan mereka.” (dn/nk/bbc)
Sumber: http://suaramedia.com

WikiLeaks Bocorkan Bualan Israel di Balik Palestina

"Amerika-Israel Rancang Revolusi Palsu Dunia Arab"