Mungkinkah Amerika Melepas Irak?

Seiring dengan kian dekatnya batas waktu penarikan tentara AS dari Irak, Washington kini mulai bergerilya lagi untuk memperpanjang masa kehadiran militernya di Negeri Kisah 1001 Malam ini. Dalam pernyataan terbarunya, Menteri Pertahanan AS Robert Gates menandaskan, �Jika Irak masih menginginkan tentara AS, maka Pentagon pun terpaksa akan sesegera mungkin mempersiapkannya�. Tentu saja, pernyataan Gates tersebut sangat kontras dengan kehendak pemerintah dan rakyat Irak yang menuntut diakhirnya secepat mungkin kehadiran militer AS setelah tahun 2011 nanti.
Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani AS dan Irak di penghujung tahun 2008, seluruh tentara AS harus meninggalkan Irak selambat-lambatnya hingga 31 Desember 2011. Tak heran jika dalam satu-dua tahun belakangan, Pentagon terpaksa memangkas jumlah tentaranya di Irak dari 150 ribu serdadu menjadi 50 ribu. Dengan demikian, masih tersisa waktu 8 bulan lagi bagi AS untuk menarik seluruh tentaranya dari Irak sampai akhir tahun ini.
Kendati begitu, sampai sekarang masih terbersit beragam keraguan soal komitmen AS terhadap kesepakatan tersebut. Sepanjang sejarah pendudukan AS di berbagai negara dalam beberapa dekade terakhir, sulit sekali ditemukan suatu kasus di mana Washington menarik total seluruh kekuatan militernya dari negara taklukannya. Meski Perang Dunia II sudah lebih dari setengah abad berlalu, namun sampai kini puluhan ribu tentara AS masih bertahan di Jepang, Korea Selatan, dan Jerman. Meski Jerman terbilang sebagai anggota NATO, sementara Jepang dan Korea Selatan menjalin hubungan strategis dengan AS, namun Gedung Putih masih saja memandang dirinya sebagai pemenang sementara ketiga negara itu sebagai negara taklukan.
Melihat rekam jejak semacam itu, tidak mustahil kiranya jika AS bakal terus mempertahankan cengkaraman militernya di Irak dengan pelbagai alasan dan kedok. Sejumlah bukti menunjukkan, Pentagon berusaha mengendalikan secara tak langsung aksi-aksi teror yang dilancarkan kelompok-kelompok ekstrimis di Irak. Situasi tersebut sengaja dipertahankan AS sebagai dalih untuk mempertahankan kehadiran militernya. Sebab jika kondisi di Irak terus-menerus didera kekerasan dan instabilitas, maka mau tak mau pemerintah Irak pun terpaksa bakal meminta bantuan sehingga tentara AS kembali hadir layaknya sang juru selamat.
Dalam situasi seperti sekarang, kehadiran militer AS di Irak masih sangat strategis bagi kepentingan Gedung Putih di Timur Tengah. Terlebih dengan kian meningkatnya gerakan revolusi rakyat di dunia Arab, Washington pun tak ingin kehilangan lagi sekutu-sekutu dekatnya di kawasan, seperti yang menimpa Mesir dan Tunisia. Tak syak, kalau saja revolusi rakyat di negara-negara Arab seperti Bahrain, Yaman, Yordania, dan Arab Saudi berhasil menumbangkan rezim-rezim sekutu Washington, niscaya kehadiran militer Pentagon di Irak menjadi semakin strategis dan vital bagi kepentingan AS di kawasan.(irib)

Amerika Kuasai 43Persen Anggaran Militer Dunia

Kekejaman dan Paranoid Stalin Karena Penyakit Otak?