Peranan Media Massa Dalam Revolusi di Dunia Arab

Saat menulis artikel ini, dunia sedang mencermati bagaimana akhir gerakan revolusi di dunia Arab. Berawal dari Tunis kemudian Mesir, yang berhasil menjatuhkan kedua penguasa di negeri itu. Bangsa Arab dan umat Islam masih was-was bagaimana revolusi di Libia, Yaman dan Suriah akan berakhir? Masing-masing negeri memiliki situasi dan kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang berbeda. Namun membicarakan media dan perannya dalam gerakan revolusi ini, semuanya hampir mirip meski ada perbedaan dalam hasil yang terkadang tidak sampai pada memunculkan revolusi dalam beberapa kasus. Penulis berusaha meringkas tentang situasi dan kondisi di dunia Arab dan peranan media massa atas revolusi:

Sikap Media Terhadap Gerakan Revolusi
Tak ada perbedaan pendapat bahwa gerakan revolusi Arab saat ini mulai banyak melakukan perubahan dalam kehidupan politik dan budaya bahkan bidang sosial di dunia Arab. Termasuk perubahan wajah media di kawasan Arab. Media pemerintah yang sebelumnya menjadi corong penguasa dan partainya, kini harus berubah. Media telah terpengaruh oleh revolusi dan media � sebagiannya � memberikan pengaruh kepada revolusi. Ketika revolusi Tunis meletus, kemudian Mesir, publik yang mengamati 600 chanel televise di dunia Arab, ratusan koran dan majalah akan menemukan keterbelahan secara jelas seperti berikut:
1. Media pemerintah atau yang pro pemerintah yang melawan gerakan revolusi: Pemerintah Mesir memiliki puluhan chanel televisi. Ketika jutaan warga Mesir keluar ke jalan-jalan berunjuk rasa dan menuntut presiden Mundur, di chanel-chanel itu seakan tidak terjadi apa-apa. Mereka tetap membela status quo (penguasa) dan meremehkan para pengunjuk rasa dengan cara yang mungkin menggelikan, karena tidak sekali-kali melibatkan pemirsa. Lebih buruk lagi terjadi di Tunis sebab partai penguasa Zainuddin Bin Ali yang sama sekali tidak memberikan suara oposisi atau suara sosok independen.
Politik rezim Mesir dan Tunisia terhadap media diwarnai dengan pemutar balikan fakta. Itu dilakukan selama revolusi terjadi dan tidak mempedulikan perubahan yang terjadi. Seakan penulis “sedang membaca” contoh nyata pernyataan Ibnu Umar, “Delegasi Allah adalah para haji. Dan Delegasi setan adalah kaum yang dikirim oleh penguasa kepada rakyatnya untuk bertanya tentang kondisi mereka. Maka kaum itu mengabarkan bahwa rakyat rela padahal mereka tidak rela.” Dalam At-Tamhid, Ibnu Abd Al-Barri Al-Qurthubi mengatakan, dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Delegasi setan adalah kaum yang datang kepada penguasa, mereka berjalan dengan menjelek-jelekkan orang dan menebarkan kebohongan. Dengan tindakan itu, kaum tersebut mendapatkan imbalan dan hadiah.”
Media pemerintah Libia masih berperan membela pimpinan Libia Muammar Qadafi. Padahal sudah banyak hal yang diungkap oleh kaum oposisi di sana tentang manipulasi dan kebohongannya. Demikian halnya dengan media pemerintah Suriah yang berusaha meyakinkan bahwa Suriah berbeda dengan Negara Arab lainnya dan bahwa revolusi yang muncul sekarang di sejumlah Negara tidak akan menemukan “tanah subur”nya di Suriah. Walaupun begitu, aksi unjuk rasa dan protes terus berlangsung. Masih banyak kejadian misterius yang menjadi pertanyaan jutaan orang tentang apa yang terjadi di Suriah dan akan diungkap pada beberapa bulan atau tahun mendatang.
2. Media pemberitaan yang mendorong revolusi: Peran media ini mengganggu kepentingan penguasa.
Dalam hal ini Aljazeera menjadi contoh, termasuk chanel lainnya disamping media asing seperti koran Inggris yang berpengaruh karena mengungkap sejumlah peristiwa dan investigasi penting yang membuat murka publik Mesir dalam detik-detik terakhir revolusi. Misalnya, temuan puluhan milyar uang hasil korupsi keuangan pemerintah, temuan rencana pejabat lama untuk menciptakan fitnah “provokasi” antara kaum Muslimin dan Kristen. Berita-berita semacam ini seakan menjadi minyak bahan bakar yang dituangkan ke tempat api kemarahan kelompok revolusi.
Meski kritikan sebagian pihak terhadap liputan Al-Jazeera dalam beberapa peristiwa, namun perannya masih menjadi yang terpenting. Hal itu jelas ketika terjadi revolusi Mesir di mana layar TV Aljazeera menjadi “laboratium politik hidup”. Anomalinya, ketika presiden Hosni Mubarak berkunjung ke kantor Aljazeera akhir tahun 1990an merasa heran, karena semua revolusi media dan anti status quo “politik dan budaya” yang diciptakan Aljazeera ternyata tidak sebesar kantor chanel milik pemerintah. Ia menyebut kantor Aljazeera hanya sebesar “kotak korek api”.
Namun begitu, “kotak korek api” yang dia ejek ini berperan dalam menjatuhkan kekuasaannya, saat meliput detik-detik gerakan revolusi pemuda dan rakyatnya. Penulis yakin di tahun-tahun medatang akan ada banyak studi dan riset baik tingkat disertasi atau tesis akan membahas pengaruh Aljazeera dalam gerakan revolusi. Mungkin itu akan dilakukan oleh para pemuda yang terlibat dalam menggerakkan revolusi Arab itu sendiri. Berikut ini adalah artikel yang ditulis oleh majalah Layalina Amerika khusus hubungan Arab � Amerika yang menganalisis realita media dan politik Arab.
3. Media eletronik modern menjadi koordinasi gerakan revolusi: Yang penulis maksud adalah situs jejaring sosial, jika itu kita asumsikan sebagai media massa dan bukan sekedar “media komunikasi antar individu saja”.
Situs-situs internet pemberitaan milik sejumlah gerakan pemuda, partai nasional dan agama, situs pemberitaan oposisi atau independen memiliki peran dalam membentuk opini public di kalangan para pemuda dan kaum cendikiawan. Situs jejaring Facebook, Twitter dan Youtube memudahkan komunikasi antar pemuda yang tergabung dalam gerakan revolusi. Situs jejaring ini juga mengirimkan banyak informasi dan gambar ketika para wartawan yang sedang meliput dilarang oleh aparat rezim ke tempat kejadian. Namun Terlalu sederhana dalam analisis sosio politik jika kita sebut revolusi itu diciptakan oleh media eletronik.
Namun revolusi Facebook dan Twitter mengajarkan kepada pakar sosiologi dan pemerhati sunnah ilahiyah yang terjadi para bangsa-bangsa bahwa revolusi rakyat memiliki timing yang sudah saatnya tiba. Ini meletus karena sejumlah faktor:
– Faktor-faktor terkait politik penguasa, kediktatoran penguasa, kezhaliman yang sampai pada titik tak tertahankan. Ketika kehidupan rakyat dipenuhi dengan kezhaliman, mayoritas rakyat mengalami berbagai bentuk ketidakadilan, kehilangan syura, persamaan, kebebasan, mereka sebenarnya menunggu “timing revolusi” yang akan meletus dalam beberapa dekade yang disulut oleh kejadian tertentu. Di samping faktor-faktor ini juga ditambah sejumlah situasi ekonomi, kehidupan sosial, kemiskinan, pengangguran akibat korupsi, eksploitasi kekayaan rakyat. Kondisi seperti masih membuat rakyat sabar, namun suatu saat akan menjadi “bahan bakar” kemarahaan mereka adalah saat revolusi.
– Faktor-faktor terkait kesadaran dan kecerdasan kolektif umat dan terkait dengan gerakan politik, agama, sosial dan taraf intelektual politik di kalangan rakyat atau elit mereka. Bahkan ini berlaku di Negara yang tidak ada partai atau gerakan setelah dilarang oleh penguasa seperti di Libia dan Tunis. Pasti di sana ada kelompok tertentu di kalangan pemuda yang menciptakan dan menyulut kesadaran umat. Faktor ini jelas berlaku dalam revolusi Mesir yang tanpaknya paling matang secara politik di banding contoh lain, paling tidak hingga sekarang.
– Kemudian faktor-faktor terkait situasi kawasan dan pengaruh global. Keberhasilan revolusi Tunis dan kaburnya presiden Ben Ali mendorong rakyat Mesir untuk menjatuhkan Hosni Mubarak. Padahal Mesir lebih dulu dibanding Tunis dalam hal gerakan opisisi agama, pemuda, dan sosial. Karenanya, banyak pemuda-pemuda Mesir meneriakkan “syukron Tunis” (Terimakasih Tunis).
Sebab mereka yang di Mesir telah lama berjalan dalam gerakan perubahan namun belum mampu mewujudkannya. Maka revolusi Tunis menjadi motivator dan batu lompatan serta kondutor bagi faktor situasi di kawasan dan bagi faktor psikis, dan ini yang terpenting. Tunis telah “melepaskan baju ketakutan” dari pemuda Arab. Disinilah rahasiannya. Jika faktor-faktor di atas, maka ketakutan itu hilang dan jutaan pemuda dan warga turun ke jalan-jalan.
Namun faktor regional dan global juga memiliki wajah negative lain. Dunia barat yang tidak ikut dalam mengekang kendali kaum revolusioner Tunis dan Mesir kini berusaha � dalam waktu mendatang mungkin akan terungkap hakikatnya � ikut mempengaruhi hasil revolusi di Libia, Suriah dan Yaman dan berusaha memetik hasil revolusi dengan sekenario kepentingan tertentu.
– Menurut penulis, media eletronik dan jejaring sosial ikut menjadi “batu lompatan” mempercepat mewujudkan hasil revolusi di Tunis dan Mesir, namun mereka bukan “pencipta” revolusi itu. Tanpa media itu, barangkali revolusi tidak akan berhasil secepat itu di Tunis dan Mesir. Sebaliknya, meski ada faktor media, revolusi di Yaman dan Libia menghadapi banyak penghalang karena kondisi internal dan sejumlah pengaruh luar.
4. Media yang menyediakan ruang terbatas bagi revolusi: yakni media yang tidak anti revolusi namun tidak konsen dengan peristiwa politik, misalnya chanel khusus program hiburan film, nyanyian dan ragam-ragam lainnya.
Namun dalam beberapa acara memberikan ruang bagi informasi peristiwa revolusi kemudian melanjutkan programnya.
5. Media negative yang hanya sibuk dengan program hiburan dan intertain: Media ini hanya menyiarkan programnya tanpa menyinggung revolusi seperti chanel film, nyanyian, sinetron, chanel olah raga. Media ini di luar analisis tentang peran media terhadap revolusi.
(Oleh :Sohaib Jassim/Kepala Perwakilan Aljazeera di Jakarta)
Sumber: http://www.eramuslim.com

Turki-Rusia, Poros Baru Kekuatan Dunia?

Leila Trabelsi Istri Ben Ali Ternyata Agen Mossad