Perancis Desak Sekutu untuk Turunkan Pasukan Darat

Ketua Komite urusan luar negeri Perancis, Axel Poniatowski, telah mendesak sekutu untuk menempatkan pasukan darat di tanah di Libya, sebuah laporan mengatakan. Poniatowski juga mengatakan bahwa Perancis harus mengerahkan pasukan komando ke Libya untuk memandu serangan udara. Pernyataan Poniatowski dibuat sementara pasukan pemberontak mengatakan mereka telah mendapatkan posisi di Misrata, tetapi pasukan pro-Gaddafi terus menekan kota yang dikuasai pemberontak dari Ajdabiya di timur.
“Penggunaan eksklusif atas kekuatan udara, seperti yang ditetapkan oleh resolusi Dewan Keamanan PBB 1973, telah terbukti memiliki keterbatasan dalam menghadapi target yang bergerak dan sulit untuk dilacak,” kata Poniatowski. Dia mengatakan pilot NATO sering menemukan kesulitan untuk membedakan antara pasukan pro-Gaddafi dan pemberontak dari udara.
“Tanpa informasi dari tanah, pesawat terbang koalisi akan buta dan meningkatkan resiko insiden tembakan salah sasaran,” katanya. Konvoi pemberontak telah secara keliru dibom oleh pesawat NATO setidaknya pada dua kesempatan. Pontiakowksi berpendapat bahwa pasukan khusus bisa memiliki misi terbatas untuk membimbing serangan udara sekutu menentukan targetn daratya tanpa melanggar “roh” dari resolusi PBB.
Perancis adalah negara pertama yang ikut campur tangan di Libya dan melaksanakan serangan udara pertama. Ini bertentangan dengan perkataan Perdana Menteri Perancis Francois Fillion pada bulan Maret lalu bahwa mengirim pasukan darat ke Libya tidak akan menjadi pilihan, menegaskan bahwa mereka akan membatasi operasi militer dalam kisaran resolusi PBB 1973 tentang Libya.
“Ini bukan perang melawan Libya. Ini sebuah operasi perlindungan sipil yang termasuk melindungi Libya secara terbuka dengan mengecualikan pengiriman pasukan untuk menduduki tanah,” kata perdana menteri itu kepada para deputinya dalam Majelis Nasional.
“Penggunaan kekuatan merupakan hasil dari serangkaian tindakan diplomatik yang bertujuan untuk menghentikan kekerasan Gaddafi. Kami selalu menjelaskan bahwa tujuan intervensi ini bertujuan untuk melindungi warga sipil,” tegas Fillion.
Kritikus mengatakan intervensi militer di Libya yang dimulai oleh Perancis sebagai langkah untuk melindungi warga sipil adalah hanya di atas kertas, tetapi pada realitasnya itu merupakan upaya untuk membiarkan kekuatan asing meletakkan tangan mereka di situs strategis negara minyak itu. Perancis adalah negara pertama yang mengakui Dewan Transisi Nasional Libya dan dikatakan memiliki kontak rutin dengan anggota-anggota badan politik pemberontak tersebut. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 1973 dukungan untuk memberlakukan zona larangan terbang di Libya dan “semua tindakan yang diperlukan” untuk melindungi warga sipil, tapi tidak memberikan peluang untuk pasukan darat asing untuk masuk ke Libya.
Akan tetapi, beberapa dari sekutu telah bersikap keras kepala dengan mendesak penempatan pasukan darat dan mungkin untuk mempersenjatai para pemberontak Libya. Pejabat Perancis baru-baru ini mengecam NATO karena tidak berbuat cukup banyak di Libya dan mendorong sekutu lain untuk meningkatkan serangan udara terhadap Gaddafi. Meskipun ada seruan untuk memberikan tekanan lebih lanjut pada Kolonel Gaddafi, pertemuan Berlin baru-baru ini juga berakhir dengan tidak adanya komitmen dalam masalah ini.
NATO tampaknya bertindak hati-hati untuk menghindari untuk terlihat seperti kekuatan udara dari pemberontak Libya. Juru bicara pemerintah Libya sebelumnya telah berpendapat bahwa mereka yang mengangkat senjata tidak bisa lagi disebut sebagai warga sipil. NATO memimpin di Libya setelah Presiden Barack Obama berada di bawah tekanan oleh politisi Amerika menuduh dia tidak mampu menentukan misi AS di Libya. Beberapa negara lain, terutama Rusia mengatakan NATO tidak boleh melebihi mandatnya di Libya. Itu terjadi sementara bentrokan masih berlangsung dan para pemberontak telah mengklaim mereka telah mendapatkan beberapa keuntungan di Misrata yang berada di bawah desakan mundur dari pasukan Gaddafi.
Misrata tetap di bawah pengepungan dan situasi kemanusiaan telah dilaporkan memburuk. Pasukan pemerintah juga telah menekan bagian timur kota Ajdabiya. Inggris baru-baru ini bersumpah untuk membantu para pekerja migran yang terdampar untuk melarikan diri dari kota. Pertempuran semakin bertambah setelah upaya baru-baru ini oleh delegasi perdamaian Uni Afrika yang dipimpin oleh Presiden Afrika Selatan gagal mencapai suatu kesimpulan positif. (iw/tn/bbc/xn)
Sumber: http://www.suaramedia.com

Terjunkan Pasukan ke Libya, Inggris Terjebak Konflik Ala Vietnam

Pertempuran Bukit Ortigara