Pertempuran Balikpapan (1942)

Kapal pemburu USN menyerang posisi Jepang
di Balikpapan
Pertempuran Balikpapan terjadi antara tanggal 23-24 Januari 1942, lepas pantai kota dan pelabuhan produsen minyak utama, Balikpapan, Borneo, Hindia Belanda. Setelah menduduki ladang minyak di Tarakan dalam Pertempuran Tarakan, angkatan Jepang di bawah pimpinan MayJen Shizuo Sakaguchi dari Detasemen Sakaguchi bergerak maju ke Balikpapan dengan harapan ladang minyak itu belum hancur.
Pertahanan di Daerah Balikpapan
Pasukan Belanda di Balikpapan berjumlah sekitar 1.100 jiwa, di bawah komando LetKol C. van den Hoogenband dari KNIL. Kota itu sendiri terlindung dengan deretan pesisir, anti-pesawat, dan ladang. Pintu masuk pelabuhan dilindungi oleh daerah ranjau yang ditanam oleh sebuah kapal ranjau Soemenep (Lt. T. Jellema). Pada tanggal 18 Januari, komandan Belanda menginstruksikan menghancurkan ladang minyak di Balikpapan dan mulai mengevakuasi para staf ke Samarinda. Namun, penghancuran itu tidak parah; kerusakan serius hanya pada tangki, pipa, dan dermaga khusus di daerah pelabuhan.
Sejak tanggal 22 Januari, armada Jepang terlihat bergerak ke selatan, formasi ke-24 dari pengebom Belanda menyerang konvoi itu. Meskipun dibom pada tanggal 24 Januari sekitar pukul 20:00, kesatuan Jepang berhasil mendarat sekitar 5 kilometer (3 mil) tenggara lapangan udara Balikpapan. Satuan penyerang mendarat tanpa bertemu perlawanan musuh dan, dari subuh, telah menduduki lapangan udara. Gerakan ke selatan berjalan lambat karena jembatan telah dihancurkan, dan unit itu mencapai pinggiran utara Kota Balikpapan pada malam 25 Januari. Pasukan garnisun Belanda telah ditarik ke pedalaman Borneo, dan Jepang masuk kota tanpa perlawanan.
Setelah Balikpapan diduduki, detasemen infantri baru yang dipimpin oleh LetKol Kume diperintahkan melindungi ladang minyak. Pasukan dan armada utama yang dipimpin oleh Sakaguchi bergerak ke selatan untuk menyerang Banjarmasin di Kalimantan Selatan, yang kaya akan minyak, karet, kayu, dan batu bara. Banjarmasin akan dibangun sebagai basis penyerangan lebih lanjut Jawa. Balikpapan tetap di bawah kendali Jepang hingga bulan Juli 1945 saat unit Jepang dikalahkan oleh pasukan Australia.
Serangan Balasan Darat dan Laut Belanda
Pada siang 23 Januari, 9 pengebom Martin Model 166 (B-10) Belanda menyerang konvoi Jepang. Kapal pengangkut Tatsugami Maru dirusak dan Nana Maru tenggelam. Dekat Balikpapan, kapal selam Belanda K-XVIII di bawah Letnan Komodor van Well Groeneveld, menyerang dan menenggelamkan kapal pengangkut lain Tsuruga Maru dan dilaporkan menenggelamkan perahu patroli P-37 tengah malam.
Serangan US Navy
Saat angkatan penyerang Jepang mendarat di Balikpapan, menjelang penghujung malam tanggal 24 Januari sekitar pukul 02:45, Sekutu (ABDACOM) dari Divisi Pemburu Angkatan Laut ke-59 di bawah pimpinan Laksamana Muda William A. Glassford dan Komandan Paul H. Talbot menyerang pasukan kawal AL Jepang yang dipimpin oleh Laksamana Muda Nishimura Shoji sekitar 4 jam. Divisi Pemburu AS terdiri atas USS Paul Jones, USS Parrott, USS Pope dan USS John D. Ford, dan terutama menyerang 12 kapal pengangkut. Setidaknya 3 kapal pengangkut (Kuretake Maru, Sumanoura Maru, Tatsukami Maru) dan 1 kapal patroli (P-37) tenggelam akibat serangan torpedo.
Tindakan ini merupakan keterlibatan pertama U.S. Navy di Asia Tenggara sejak Pertempuran Teluk Manila (1898). Namun kebanyakan torpedo yang diluncurkan oleh kapal pemburu Sekutu kehilangan sasaran atau tidak meledak. Karena pendaratan itu terjadi sekitar pukul 21:30, serangan itu agak terlambat untuk menghentikan pendudukan Balikpapan.
Pendudukan Banjarmasin
Serangan di Banjarmasin dilakukan dengan memusatkan perhatian ke angkatan darat di bawah Kolonel Kyohei Yamamoto dengan dukungan angkatan laut di bawah Kapten Yoshibumi Okamoto dari resimen infantri ke-146. AD mulai bergerak pada tanggal 30 Januari saat AL telah berlayar pada tanggal 27 Januari. Meski AD telah melintasi hutan lebat serta menghadapi panas dan hujan tropis, mereka cepat menduduki beberapa tempat seperti Moeara Oeja, Bongkang, Tandjoeng, Amoentai, Barabai, Kandangan dan Rantaoe. AL hanya bergerak di malam hari dan melancarkan serangan mendadak ke Kotabaru di Pulau Laut. Setelah menduduki lapangan terbang Martapura, pada tanggal 10 Februari, Banjarmasin diduduki tanpa perlawanan. Unit Belanda di bawah komando LetKol H. T. Halkema telah menarik diri untuk mempertahankan lapangan udara Kotawaringin di Kalimantan Tengah.
Sumber: http://id.wikipedia.org

Menelusuri Sejarah Perang Salib

Pertempuran Balikpapan (1945)