Polisi Usut Bocoran WikiLeaks Soal Amrozi cs

VIVAnews – Mabes Polri akan menyelidiki infomasi kemungkinan serangan balasan teroris terkait eksekusi mati atas pelaku Bom Bali, Amrozi cs pada 2008 lalu yang dimuat dalam situs WikiLeaks.


Tampilan depan laman WikiLeaks (wikileaks.ch)

�Ya pasti kami selidiki, kan Densus punya intelijen,� Kepala Bagian Humas Polri Komisaris Besar Boy Rafly Amar saat dihubungi, Minggu 5 Desember 2010.

Dalam laporan bocoran dari kantor perwakilan Amerika Serikat (AS) di Jakarta itu memuat laporan Komite Aksi Darurat (Emergency Action Comittee/EAC) Jakarta akan yang akan bertemu pada 30 Oktober untuk membicarakan implikasi dari eksekusi atas para pelaku Bom Bali bagi keamanan.

Menurut laporan itu, muncul rumor di Jakarta bahwa tidak tertutup kemungkinan bakal ada serangan balasan dan demonstrasi oleh mereka yang mendukung para tereksekusi.

Meskipun EAC Jakarta tidak mendapatkan informasi yang spesifik atau kredibel mengenai rencana serangan-serangan itu, namun salah satu laporan menyebut kemungkinan serangan pengebom bunuh diri atas sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta, terutama mal Kelapa Gading, Jakarta Utara.

�Tapi kami meminta masyarakat jangan panik,� tambahnya.

Pengamanan di tempat perbelanjaan pun tetap dilakukan seperti biasa karena masing-masing sudah memiliki prosedur pengamanan sendiri. �Tapi tetap wasapada,� tambahnya.

Sejak mulai diunggah ke domain publik pada 28 November 2010 hingga Minggu pagi, 5 Desember 2010, rentetan bocoran informasi dari WikiLeaks itu belum mengungkapkan laporan khusus dari Kedutaan Besar AS di Jakarta. WikiLeaks, menurut indeks yang dimuat harian The Guardian, memiliki 3.059 laporan dari Kedubes AS di Jakarta dari November 1990 hingga Februari 2010.
WikiLeaks sendiri mengklaim memiliki 251.287 bocoran memo diplomatik AS dan hingga kini baru mengunggah 821 dokumen.

Sementara itu, Amrozi Cs dieksekusi mati pada Minggu, 9 November 2008, pukul 00.15 WIB. Mereka dieksekusi di Nusakambangan. Ketiga terpidana divonis mati setelah dinyatakan bersalah merencanakan dan melakukan aksi teror meledakkan dua bom di kawasan Legian, Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002. Bom pertama meledak di Paddy�s Irish Bar sedangkan bom kedua meletup di dekat Sari Club. Akibatnya, 202 orang tak berdosa tewas dan 305 lainnya luka-luka–termasuk sejumlah warga Indonesia dan umat Muslim. Bom ketiga meledak di dekat kantor Konsulat Amerika Serikat di Denpasar, namun tak ada korban jiwa.

Ketiga gembong teror itu disidang secara terpisah. Amrozi divonis hukuman mati pada 7 Agustus 2003, Imam Samudra dipidana mati pada 10 September 2003, dan Mukhlas, yang merupakan kakak Amrozi, dijatuhi hukuman mati pada 2 November 2003. Sebelum ditembak, ketiganya ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan, Bali, namun kemudian dipindahkan ke LP Batu, Nusakambangan.
� VIVAnews

Bagaimana Rasanya Menelan Gigi Palsu?

Swiss Tolak Usir WikiLeaks