Raja Yordania: Israel-Palestina Takkan Bisa Berdamai

Raja Yordania Abdullah II menyatakan, peluang perdamaian antara Israel dan Palestina sangat kecil karena berbagai insiatif perdamaian yang diupayakan selalu menemui jalan buntu.

Surat kabar AS Washington Post mengutip pernyataan Raja Abdullah II yang mengungkapkan bahwa, pergeseran politik di Palestina yang cenderung ke “sayap kanan” membuat pemerintah rezim Zionis Israel tidak mau berkompromi dalam upaya perdamaian dengan Palestina.
Menurutnya, revolusi yang terjadi di berbagai negara Arab memberikan harapan baru bagi negosiasi damai antara Israel-Palestina. Tapi setelah inisiatif yang dilakukan AS, Prancis dan Uni Eropa menemui kegagalan, makan pintu perdamaian akan segera tertutup.
Seperti diberitakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak seruan Presiden AS Barack Obama agar negosiasi perdamaian dengan Palestina berdasarkan perjanjian perbatasan tahun 1967. Netanyahu berdalih Israel tidak bisa lagi mempertahankan kesepakatan perjanjian itu.
Raja Abdullah memprediksi kebencian terhadap Israel di negara-negara Timur Tengah akan makin meningkat, dan pemerintahan baru di kawasan Timur Tengah akan mengeksploitasi kebencian terhadap rezim Zionis itu.
“Saya kira, tahun 2011 akan menjadi tahun yang sangat buruk bagi perdamaian,” ujar Raja Abdullah II.
Ia menambahkan, situasi konflik kemungkinan akan makin penuh kekerasan karena ada status quo yang kerap memicu konfrontasi militer. “Sementara rakyat Palestina melihat upaya perdamaian makin jauh, mereka melihat kesempatan untuk melakukan pemberontakan makin terbuka lebar,” tukas Raja Abdullah.
“Meski kita terus berusaha membawa kedua belah pihak (Israel dan Palestina) ke meja perundingan, sayalah yang paling pesimis, saya sudah mengurusi masalah ini selama 11 tahun,” sambungnya.
Prediksi itu bisa jadi benar, karena Netanyahu sendiri mengungkapkan kekhawatirannya akan pecahnya gerakan Intifada–perlawanan frontal rakyat Palestina terhadap rezim Zionis Israel–yang ketiga, seperti perlawanan Intifada yang terjadi pada tahun 1980-an dan tahun 2000 lalu. (kw/PalNews)
Sumber: http://www.eramuslim.com

Mengapa Intelijen Pakistan Menahan Informan Amerika?

Inilah Pernyataan Al-Qaidah yang Nyatakan Al-Zawahri Pengganti Bin Ladin