Refleksi Terhadap Kematian dan Penghormatan Korban Perang

Secara eksistensial, kematian adalah suatu yang menakutkan. Namun tahukah anda, bahwa di negara yang termasuk paling maju di dunia sekalipun, masih merayakan kematian leluhurnya dengan cara mereka sendiri? Apa makna perayaan terhadap kematian? Mari kita simak!
Kematian adalah suatu misteri, karena tidak ada seorangpun yang memiliki pengetahuan definit, mengenai apa yang terjadi setelah itu. Satu-satunya informasi yang tersedia secara lengkap, hanyalah berasal dari agama atau spiritualitas. Sains tidak pernah berkata apa-apa mengenai paska kematian.
Satu hal yang mengejutkan, dan sering lupa disinggung banyak orang, adalah di negara majupun ritual yang berhubungan dengan kematian juga masih ada. Tentu bukan di Eropa atau dunia barat, dimana sains dan rasionalitas sudah menguasai segala aspek kehidupan. Namun di dunia timur. Banyak orang yang lupa, bahwa Jepang sekalipun, yang memiliki teknologi transportasi lebih baik daripada barat, dan juga memiliki pemenang nobel sains, masih percaya dengan penghormatan terhadap leluhur. Sementara itu, agama-agama semit, Yahudi, Kristen, dan Islam, selalu menekankan bahwa setelah kematian, ada kehidupan lagi.
Jepang dan Ritual Penghormatan Shinto
Pada perang dunia II, prajurit Jepang dikirim oleh rezim militer ke seluruh asia pasifik, dalam rangka menghadapi serbuan sekutu. Selama perang pasifik tersebut, ratusan ribu tentara Jepang gugur, dan total 2,1 juta rakyat Jepang, baik sipil atau militer, yang gugur selama perang dunia II berlangsung. Setelah perang selesai, pihak Jepang menuliskan nama keseluruh total rakyat Jepang yang meninggal tersebut di sebuah kuil di kota Tokyo, yaitu kuil Yasukuni (kuil perdamaian). Awalnya, kuil tersebut didirikan kaisar Meiji, untuk keperluan perang Boshin. Namun setelah perang dunia II, kuil tersebut dijadikan tempat persemayaman rakyat Jepang yang gugur selama perang. Pembangunan kuil tersebut, adalah sesuai dengan Shintoisme, dimana agama ini percaya, jika seorang meninggal, maka arwahnya akan menjadi kami (dewa), dan bersemayam di kuil tersebut. Shintoisme memang sangat kuat dipengaruhi oleh budaya dan agama yang berasal dari China, terutama oleh Taoisme.
Kuli Yasukuni ini menjadi sangat kontroversial, sewaktu Perdana Mentri Jepang, Junichiro Koizumi, mengunjunginya. Kunjungan tersebut diprotes keras oleh pihak China dan Korea. Mengapa demikian? Di kuil tersebut, disemayamkan nama-nama Jendral Jepang, seperti Hideki Tojo, yang menurut pihak China dan Korea bertanggung jawab atas imperialisme Jepang selama perang dunia II. Menurut mereka , dengan mengunjungi kuil Yasukuni, maka berarti memberi penghormatan kepada para penjahat perang dan pelopor imperialisme. Namun, Koizumi tidak berpikir demikian. Menurut Koizumi, kunjungan dia ke kuil tersebut tidak ada hubungannya dengan imperialisme. Kunjungan tersebut hanya bermaksud untuk menghormati dan mengenang jasa para patriot Jepang, yang berjuang demi negerinya, selama berlangsungnya perang. Masalah kunjungan tersebut sempat membuat hubungan diplomatik Jepang dan China menjadi memanas. Namun, setelah Koizumi mundur, pemerintahan Jepang yang selanjutnya mengambil langkah bijak. Shinzo Abe, pengganti Koizumi, tidak mengunjungi kuil Yasukuni tersebut, namun hanya mengirim karangan bunga ke sana. Hal tersebut dilakukan demi memperbaiki hubungan kedua negara.
Kemajuan Jaman, dan Mengenang Jasa Para Pendahulu
Apa yang terjadi di Jepang sudah membuktikan, bahwa semaju-majunya suatu bangsa, penghormatan terhadap jasa baik leluhur tetap bisa dilakukan. Bangsa Jepang, seperti juga Bangsa China dan Korea, sembari mengadopsi sains dan teknologi barat, tetap memilih untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya terhadap pendahulu dan/atau leluhur mereka. Penghormatan tersebut, juga bisa berlangsung emosional, ditengah kemajuan teknologi yang sangat rasional. Berbeda dengan barat, penghargaan terhadap leluhur di budaya barat, hanya terbatas pada mengupas ajaran-ajarannya belaka. Aspek emosionalnya sudah dinegasikan oleh instrumentalisme rasional. Akhirnya penghargaan terhadap leluhur di kultur barat menjadi sangat kering. ‘Drama diplomatik’ karena kunjungan ke Kuil Yasukuni, seperti yang kita saksikan dalam sengketa antara Jepang dan China, akan sukar sekali kita cari ekivalensinya di barat. Dalam tradisi Islam, juga dikenal adanya tradisi tahlilan, terutama oleh Islam tradisional. Baik Kuil Yasukuni atau tahlilan, Penghormatan tersebut akan menjadi katarsis yang baik, untuk mengingat jasa baik pendahulu kita. Dengan demikian, mereka selalu akan hidup didalam hati dan memori kita, untuk memberikan garam dan terang bagi kehidupan ini.
Sumber: http://netsains.com

Saat Manusia "Berjibaku" Mengatasi Krisis Energi

Bioterorisme, Ketika Sains Diselewengkan untuk Kejahatan