Sejarah Berdirinya Mesjid Raya Al-Mashun di Medan

Sudah satu abad lebih Mesjid Raya Al Maksun berdiri kokoh di tengah-tengah kota Medan. Tepatnya sudah 103 tahun usianya kini. Mesjid Raya Al-Mashun mulai dibangun pada tahun 1906. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Sultan Makmun AI-Rasyid pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H) jam 8 pagi.
 Foto Mesjid Raya Al-Mashun

Kesultanan Deli merupakan pemerintahan monarki tradisional di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Medan dan sekitarnya dengan corak agama Islam yang sangat kental. Atas dasar itulah, mesjid menjadi bangunan yang sangat penting bagi Kesultanan Deli. Kesultanan yang sangat berpengaruh pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 di Medan.
Bagi Kesultanan Deli, komplek kesultanan ataupun suatu ibukota tidak akan lengkap tanpa kehadiran mesjid di wilayah tersebut. Seperti halnya di Labuhan Deli, pola tata ruang ibukota Kesultanan Deli (sebelum dipindahkan ke Medan) selalu ada mesjid di dekat istana. Selain sebagai tempat ibadah, mesjid juga berfungsi sebagai alat pemersatu rakyat dengan sultannya yang merupakan simbol kekuasaan sultan.
Arsitek yang berjasa dalam pembangunannya adalah seorang berkebangsaan Belanda yang didatangkan langsung dari Amsterdam bernama J.A. Tingdeman. Ada beberapa perbedaan tentang siapa yang membangun mesjid raya ini, beberapa sumber menyebutkan bahwa Van Erp lah yang membangun Mesjid Raya Al-Mashun (orang terakhir ini tercatat yang telah membangun istana Maimun juga berkebangsaan Belanda).
Namun Van Erp diketahui pada tahun 1906 sudah mendapat tugas menangani restorasi Candi Borobudur di Muntilan, Jawa Tengah. Jadi bisa disimpulkan pendapat yang menyebutkan Van Erp sebagai arsitek dibalik pembangunan mesjid raya menjadi gugur karena pekerjaan merestorasi Candi Borobudur adalah pekerjaan yang sangat berat, sehingga tidak mungkin Van Erp dapat membagi tugas merancang Mesjid Raya Al-Mashun.
Rentang waktu pembangunan antara Istana Maimun dan Mesjid Raya yakni 15 tahun sehingga membuat Sultan membutuhkan waktu cukup lama pula untuk mengumpulkan dananya. Biaya pembangunan Mesjid Raya Al-Mashun tergolong cukup mahal untuk ukuran masanya yakni tidak kurang dari FI 1.000.000. Menurut beberapa sumber menyebutkan sepertiga pembangunan mesjid ini disumbang oleh saudagar kaya Tjong A Fie.
Hal ini tampak tidak mustahil karena pada saat periode pembangunan ini Tjong A Fie dan Sultan Deli dua orang sosok yang bersahabat. Pada saat ini Tjong A Fie banyak mendapatkan keuntungan dari pembangunan kota Medan. Pasar, garam, perkebunan, perumahan adalah usaha yang dimonopoli oleh Tjong A Fie. Wajar jika sedikit keuntungannya didonasikan untuk pembangunan mesjid.
Mesjid Raya Al-Mashun dibangun dengan jarak sekitar lima ratus meter dari Istana Maimon. Dibangun diatas lahan seluas 13.200 meter persegi. Komplek Mesjid Raya Al-Mashun terdiri atas bangunan mesjid, gerbang, tempat wudhu, menara dan areal pemakaman bagi Sultan Deli dan kerabatnya. Luas bangunan adalah 874 meter persegi, dan areal pemakamannya seluas 5.000 meter persegi.
Arsitektur Mesjid Raya Al-Mashun
Al-Mashun artinya Yang Terpelihara. Nama ini diberikan oleh Sultan Makmun Al-Rasyid. Secara umum bangunan Mesjid Raya Al-Mashun dipengaruhi oleh arsitektur Eropa, Moghul, dan Timur Tengah. Namun unsur arsitektur tradisional Melayu juga masih terdapat disini, meski terbilang sangat sedikit. Dan dari periode masanya, arsitektur Mesjid Raya Al-Mashun digolongkan sebagai arsitektur modern klasik. Karena bangunan mesjid ini sudah menggunakan teknologi beton bertulang, serta memakai konsep-konsep arsitektur modern. Sementara unsur klasiknya dapat ditemukan pada pemakaian jendela kaca patri berwarna, ornament abstrak geometris dan floralistis, bentuk oktogonal dan bentuk kubah bergaya klasik dari Moghul.
Bentuk yang oktagonal merupakan empat serambi yang memenuhi gaya bangunan dengan tiga diantaranya memiliki pintu keluar masuk Mesjid Raya Al Mashun. Ketiga serambi yang memiliki pintu keluar masuk mesjid, memiliki ambang pintu yang berbentuk melengkung.
Koridor Mesjid Raya Al-Mashun adalah suatu ruangan yang setengah terbuka yang menghubungan tiap-tiap serambi. Koridor-koridor ini berada di sisi utara, timur, selatan, dan barat. Tiap koridor memiliki satu pintu masuk ke ruangan utama mesjid.
Di tengah ruangan utama Mesjid Raya Al-Mashun terdapat delapan pilar yang terbuat dari marmer berwarna kuning gading yang berasal dari Italia. Italia terkenal dengan marmer dan keramik yang bermutu tinggi. Pilar ini berfungsi sebagai penyangga kubah utama mesjid. Tiap-tiap pilar dihubungkan dengan bagian atasnya satu sama lain oleh lengkungan berbentuk ladam kuda.
Cerita yang perlu dikaji kebenarannya
Ada satu tradisi lisan yang menyebutkan bahwa Sultan Deli biasanya sudah berada di ruangan serambi ini sebelum salat Jum’at dimulai, sementara tidak ada satupun orang yang melihat Sultan Deli masuk ke dalam mesjid dari arah luar, sehingga ada dugaan yang menyebutkan bahwa di ruangan serambi ini terdapat sebuah jalan menuju terowongan yang menghubungkan Mesjid Raya Al-Mashun dengan Istana Maimon. Cerita ini memang perlu dikaji lagi kebenarannya. Namun yang sangat menarik adalah bahwa di ruangan serambi terdapat sebuah lubang berbentuk persegi yang diberi penutup yang terbuat dari beton. Lubang ini tidak begitu besar ukurannya, namun cukup bagi seseorang keluar masuk kedalamnya. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa lubang itu dulunya adalah jalan masuk menuju terowongan bawah tanah yang masih menjadi misteri keberadaannya, tapi tidak bisa dipastikan lubang apakah itu?

Sampai saat ini belum ada penelitian yang lebih dalam lagi mengenai lubang itu. Hal ini disebabkan karena izin untuk meneliti lubang itu sulit didapatkan. Kemungkinan ada beberapa hal, pertama Mesjid Raya Al-Mashun adalah bangunan yang dilindungi sebagai situs sejarah, kedua izin diberikan hanya kepada instansi tertentu, ketiga jika izin itu didapat harus disetujui lagi oleh pihak Kesultanan Deli dan kenaziran Mesjid Raya Al-Mashun.

Perang Narkoba di Meksiko Lampaui 30.000 Orang Tewas

Tahun 2050 Suasana di Bawah Tanah Belanda Akan Amat Penuh