Sejarah Muslim dalam Perang Dunia Kobarkan Semangat Pemuda

BIRMINGHAM � Seringkali disebut “Paki” dan “Teroris” oleh para kelompok rasis, Harun Bin Khaled menghabiskan masa remajanya dalam penolakan sebagian besar masyarakat Britania.
Namun pemuda Muslim ini menemukan jawaban tak terduga ditengah-tengah “pengucilan” dirinya dari masyarakat, sebuah cerita tentang keberanian dan kegigihan bala tentara Muslim Britania dalam perang dunia kedua, bertempur melawan kekejian Nazi.
Sejenak, Harun tertegun dan tak mampu berkata-kata mendapati kenyataan bahwa nenek moyang Muslimnya turut terjun menegakkan kemenangan, dan sedikit demi sedikit mengikis pemikiran bahwa rakyat Britania benar-benar membencinya karena agama yang dianutnya.
“Sejujurnya, kenyataan tersebut sungguh sangat menyentuh mengetahui nenek moyang kami (Muslim) turut membela mati-matian demi kemerdekaan negaranya,” pemuda berusia 21 tahun ini menuturkan.
“Saya yakin semangat pemuda Muslim di Britania akan berkobar jika mengetahui kisah ini, karena Muslim tidaklah berbeda dengan golongan rakyat lainnya, dan berusaha memperbaiki citra Muslim di mata masyarakat yang telah terlanjur dikotori media Barat, terutama oleh konspirasi kejadian 11 September,” ungkap Harun.
Harun merupakan salah satu dari sekian banyak pemuda yang ikut berpartisipasi dalam sebuah seminar yang diselenggarakan seorang anggota akademi Islam bernama Jahan Mahmud yang membahas mengenai jasa-jasa Muslim selama Perang Dunia II, dan menjadikannya teladan bagi pemuda Muslim Britania agar menghilangkan kekhawatiran munculnya tindakan ekstrimisme.
Jahan menjelaskan bahwa seminar yang diselenggarakannya bertujuan merubah pandangan-pandangan keliru masyarakat Barat mengenai Muslim, sekaligus untuk menghindarkan kesalahpahaman antar umat beragama yang seringkali mencap Muslim sebagai “teroris”.
Pemuda Muslim lainnya yang turut menghadiri seminar tersebut adalah Sabil Sadiq, 19 tahun, yang masih seringkali merasa Britania belum 100 persen sungguh-sungguh menerimanya.
“Saya selalau merasa bahwa komunitas Muslim selalu dikucilkan,” katanya dalam sebuah wawancara di distrik Sparkbrook, rumah bagi Muslim Pakistan.
“Kami seringkali berpikir, mengapa kami disebut teroris? Dan pertanyaan itu berulangkali berputar dalam benak kami,” katanya.
“Ketika gedung WTC diserang, dan negara-negara Barat menuding Muslim sebagai pelakunya, kami tak tahu harus melakukan apa, namun ketika sejarah para tentara Muslim dibuka dihadapan kami, kami tahu kami para pemuda Muslim harus bersatu dalam memerangi Islamfobia yang menyebar seperti virus dalam masyarakat Barat.”
Kini Sadiq merasa lebih memiliki Britania, sebagaimana yang dilakukan para pendahulunya. Dia berharap masyarakat Britania juga mengikuti seminar tersebut agar pandangan mereka terhadap Muslim akan berubah.
“Kami umat Muslim juga merupakan bagian dari negara ini, karena nenek moyang kami dulu turut berjuang dengan berani. Ketika anda merasa tidak memiliki negara ini, berarti anda belum mengetahui sejarah ini.”
Bash Arab Najib, seorang penasehat muda di wilayah Barat Bromwich, menyebut seminar yang diselenggarakan Jahan tersebut merupakan langkah yang benar benar positif, dan mendapat tanggapan yang bagus dari pemuda Muslim Britania.
Dalam seminar tersebut, para pemuda Muslim juga dihimbau agar turut bergabung dalam militer Britania sebagaimana yang dilakukan pendahulu mereka.
Menurut penelitian Jahan, sejauh ini jumlah tentara Muslim hampir mendekati sepertiga jumlah keseluruhan tentara Britania.
Sejak lama Muslim Barat seringkali mengalami tindakan pelecehan dari masyarakat Barat, terutama oleh kelompok Neo-Nazi yang dikenal sangat rasis.
Tidak jarang, mereka juga melakukan pelecehan terhadap makam-makam para veteran pejuang Muslim. (al/too)
Sumber: http://suaramedia.com

Amerika-Israel Berupaya Halangi Persatuan Palestina

Osama Bin Laden Perang Melawan Uni Soviet