Serangan Predator, Clinton Dikeroyok Massa Pakistan

Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton pada hari Jumat berhadapan dengan kemarahan warga Pakistan atas serangan udara oleh drone AS di wilayah kesukuan sepanjang perbatasan Afghanistan, sebuah strategi yang dikatakan oleh pejabat AS telah berhasil membunuh pemimpin Taliban.
Dalam serangkaian penampilan publik pada hari terakhir dari kunjungan tiga hari yang ditandai dengan temu bicara, Clinton menolak untuk membahas topik yang melibatkan operasi rahasia CIA ini.
Dia hanya mengatakan bahwa “ada perang yang terjadi”, dan administrasi Obama berkomitmen untuk membantu pakistan menghadapi para pejuang yang dituding mengancam stabilitas sebuah negara yang bersenjata nuklir tersebut.
Clinton mengatakan dia tidak bisa mengomentari “taktik atau teknologi tertentu” yang digunakan dalam serangan mematikan di daerah tersebut.
Penggunaan pesawat drone Predator, dipersenjatai dengan peluru kendali, dipuji oleh para pejabat AS karena dianggap telah menghabisi pemimpin senior kelompok Taliban tahun ini yang menggunakan wilayah kesukuan Pakistan sebagai tempat berlindung di luar jangkauan kekuatan darat AS di Afghanistan. Meski demikian, lebih banyak warga sipil yang juga menjadi korban serangan tersebut
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan langsung di Pakistan dengan beberapa pembawa acara TV wanita terkemuka, di hadapan penonton yang didominasi ratusan wanita, satu anggota dari penonton mengatakan serangan Predator itu adalah “eksekusi tanpa pengadilan” bagi mereka yang terbunuh.
Yang lain menanyakan pada Clinton bagaimana ia akan mendefinisikan terorisme.
“Apakah itu pembunuhan orang-orang dalam serangan drone?” ia bertanya. Perempuan itu kemudian bertanya apakah Clinton menganggap serangan drone dan pemboman yang menewaskan lebih dari 100 warga sipil di kota Peshawar awal pekan ini adalah tindak terorisme.
“Tidak,” jawab Clinton.
Sebelumnya, dalam memberi dan menerima dengan sekitar selusin penduduk di wilayah kesukuan, satu orang menyinggung secara tidak langsung atas serangan drone, mengatakan dia mendengar bahwa di AS, pesawat tidak diizinkan untuk lepas landas setelah 11 malam, untuk menghindari mengganggu penduduk.
“Itu adalah jenis perdamaian yang juga kita inginkan bagi rakyat kita,” katanya melalui penerjemah.
Orang yang sama mengatakan pada Clinton bahwa administrasi Obama harus lebih mengandalkan kearifan dan mengurangi daya tembak untuk mencapai tujuan-tujuannya di Pakistan.
“Kehadiran kalian di daerah tersebut tidak baik untuk perdamaian,” katanya, mengacu pada militer AS. “Karena hanya menimbulkan frustrasi dan iritasi di antara orang-orang dari daerah ini.” Pada saat lain dia mengatakan pada Clinton, “Maafkan saya, tapi saya ingin mengatakan bahwa kita sudah terlibat dalam perang Anda.”
Masalah serupa dibahas oleh Sana Bucha dari Geo TV selama siaran langsung wawancara.
“Ini bukan perang kami,” katanya kepada Clinton. “Ini adalah perang anda.” Dia disambut oleh ledakan tepuk tangan ketika ia menambahkan, “Anda punya satu 9/11. Kami mengalami 9/11 setiap harinya di Pakistan.”
Menangkap perasaan yang telah didengar Clinton berkali-kali selama kunjungannya, seorang perempuan di antara para penonton berkata, “Seluruh dunia berpikir bahwa kita adalah teroris.” Wanita itu berkata dia berasal dari daerah Waziristan Selatan di mana tentara Pakistan terlibat dalam pertempuran dengan Taliban, dan di mana drone AS dengan efek yang mematikan telah dijatuhkan berkali-kali.
Tentara Pakistan pada hari Jumat mengatakan pasukannya telah menewaskan 14 pejuang dalam 24 jam dan mendekati kubu Taliban sementara ofensif di daerah terpencil terus berjalan.
Pesan utama Clinton pada hari Jumat adalah bahwa AS ingin menjadi mitra dengan Pakistan, bukan hanya di depan militer, tetapi juga di bidang perdagangan, pendidikan, energi dan sektor-sektor lain. Dia menekankan, bagaimanapun, bahwa Pakistan perlu untuk melakukan bagiannya dalam menunjukkan komitmen nyata untuk demokrasi.
Clinton juga ditanya tentang ucapannya pada hari Kamis bahwa ia merasa sulit untuk percaya bahwa pejabat Pakistan tidak tahu di mana para pemimpin kelompok Taliban yang bersembunyi di Pakistan.
Pada hari Jumat ia mengatakan, “Saya tidak tahu apakah ada yang tahu, tapi kami di AS akan sangat ingin melihat akhir kepemimpinan al-Qaeda, dan keterangan terbaik kami adalah bahwa mereka di suatu tempat di Pakistan.”
Dalam wawancara yang disiarkan hari Jumat di “Good Morning America,” Clinton ditanya tentang keterusterangan dari komentarnya.
“Kepercayaan adalah dua arah. Ada defisit kepercayaan,” katanya. “Itu tidak akan cukup untuk mencapai tingkat keamanan yang pantas didapatkan Pakistan jika kita tidak mengejar orang-orang yang masih mengancam bukan hanya Pakistan, tetapi Afghanistan, dan seluruh dunia. Dan kami ingin menunjukan itu. Dan saya pikir itu penting bagi kita untuk melakukannya.”
Ketika ditanya apakah ia berpikir Pakistan menyembunyikan teroris, Clinton menjawab, “Saya tidak merasa begitu … Tapi saya pikir ini akan menjadi sebuah kesempatan yang hilang dan kurangnya pengakuan terhadap tingkat ancaman, jika mereka tidak menyadari bahwa apa pun tempat aman bagi Taliban di mana pun itu, mengancam mereka, mengancam kita, dan harus segera ditangani.”
Setelahnya, Clinton terbang ke Abu Dhabi di Teluk Persia untuk bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang dijadwalkan pada hari Sabtu. (iw/afp)
Sumber: http://suaramedia.com

Pecinta Zionis-Israel adalah Pecinta Terorisme

Amerika dan Kekuatan Barat, Pemasok Utama Senjata Para Diktator