Studi Tentang Dampak Perang Irak

Perang Amerika Serikat dan sekutunya di Irak diduga kuat akan melahirkan sebuah generasi baru Muslim radikal. Itulah salah satu faktor penyebab ancaman teror meningkat sejak Peristiwa 11 September 2001. Demikian simpul laporan rahasia dinas intelejen Amerika CIA yang diungkap harian The New York Times. Lihat perang Irak
Kesimpulan tersebut merupakan kebalikan dari pernyataan Presiden George W. Bush yang berulangkali menyatakan sejak itu ancaman teror menurun. Dalam peringatan mengenang 11 September 2001 baru baru ini, pemerintah Amerika mengatakan, kelompok teroris menyalahgunakan perang di Irak sebagai propaganda. Laporan rahasia tersebut pertama kali menyajikan peta bumi terorisme global. Laporan tersebut disusun berdasarkan kerjasama antara 16 instansi intelijen Amerika.
Apa yang menarik dari berita di atas, saya mungkin bisa paparkan beberapa point yang bisa Anda renungkan:
1. Logika laporan tersebut bisa diterima karena hubungan kausatifnya cukup jelas dan meyakinkan, yaitu ketika sebuah negara diperangi/dijajah maka tidak mengherankan bila kebencian pada negara yang memerangi terus meningkat. Hanya saja penekanan pada faktor kelahiran Muslim radikal sangat tendensius, bisa jadi laporan intelijen sengaja dibuka ke media massa untuk memelihara keyakinan publik Amerika Serikat tentang ancaman teror dari Muslim radikal.
2. Perbedaan pernyataan antara Bush dan Intelijen hanya retorika propaganda dimana pada ujungnya hanya akan melahirkan kesepakatan bersama dalam bentuk kebijakan luar negeri Amerika yang akan memperpanjang perang melawan teror dan penguasaan sumber-sumber energi di Irak. Sementara informasi lahirnya gerakan Muslim radikal hanyalah sebagai alat justifikasi yang akan membuat publik Amerika mengamini kebijakan pemerintah Amerika.
3. Laporan intelijen tersebut juga memiliki dampak lain yang lebih luas ke dunia Islam global, dimana sangat diharapkan reaksi-reaksi keras dari kalangan Muslim untuk menjadi bukti akan definisi ancaman dari gerakan Muslim radikal. Sementara itu, saya bisa menduga bahwa pendekatan kepada gerakan Muslim radikal oleh operasi rahasia CIA yang seolah-olah bersimpati pada penderitaan kaum Muslim terus berjalan. Operasi rahasia itu bentuknya berupa proses pembodohan agar supaya kaum Muslim mendefinisikan dunia secara hitam putih, dimana anarkisme yang dikuasai kelompok kapitalis liberal hanya bisa dirubah melalui aksi teror. Mereka yang mendefiniskan ramadhan sebagai penghancuran misalnya, sangat jelas merupakan agen-agen CIA. Pencitraan dunia Islam yang disadari ataupun tidak tersebut telah mencoreng kemuliaan agama Islam sendiri.
4. Upaya melekatkan label radikal pada kaum Muslim merupakan salah satu tujuan agar intelijen Amerika tetap memiliki “musuh” dan bisa bekerja dengan anggaran yang besar. Tentu saja kalangan elit kapitalis mengerti ini dan juga mendesak intelijen agar dalam setiap operasi tidak melupakan pentingnya penguasaan sumber-sumber ekonomi strategis. Terciptalah sinergi elit intelijen, elit politik dan politik ekonomi yang saling menguntungkan. Sementara yang menjadi korban adalah rakyat Irak yang menjadi semakin miskin dan sulit serta terus dibodoh-bodohi dengan segala cerita tentang terorisme dan fakta penindasan serta perlawanan dengan kekerasan.
5. Manfaat yang tidak kalah pentingnya dari poin-poin di atas adalah bahwa laporan intelijen semacam itu juga bisa menjadi dasar bagi sebuah alternatif kebijakan untuk keluar dari persoalan Irak (semacam exit strategy). Secara bertahap setelah penguasaan sumber-sumber ekonomi semakin mantap dan militer Amerika bisa menjamin keamanan di wilayah ekonomi strategis, maka akan ada semacam upaya untuk keluar tanpa kehilangan muka. Keluar dari Irak dengan cerita sukses. Memberikan sisa persoalan yang rumit kepada rakyat Irak dengan obat “mujarab” demokrasi. Sementara konsentrasi keamanan tetap di sumber-sumber ekonomi penting. Percayalah bila ada diantara saudara yang berkesempatan ke wilayah Irak akan mengerti situasinya.
Sumber: http://intelindonesia.blogspot.com

Rezim Yaman Ciptakan Banjir Darah

Suka Duka Seorang Peacekeeper