Syiah Irak Takut Berkuasanya Kekuatan Sunni di Suriah Pasca Jatuhnya Assad

Meskipun pernah mengalami pengalaman mengerikan dengan partai Baathnya Saddam Hussain, blok politik Syiah Irak prihatin atas kemungkinan jatuhnya partai Baath Suriah dan kelompok fundamentalis masuk ke kekuasaan, para pakar mengatakan kepada Al Arabiya.
Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki, seorang Syiah, mengatakan bahwa tirani dan penindasan lah yang membenarkan aksi protes rakyat melanda dunia Arab dari Maroko hingga ke Suriah.
Tapi tokoh politik Syiah di Irak lainnya lebih berhati-hati dalam dukungan mereka terhadap aksi demonstran yang menyerukan kebebasan dan demokrasi di dunia Arab.
Syaikh Jalal Eddin Al-Saghir, seorang pemimpin puncak di Dewan Agung ‘Islam’ Irak (SCIRI), menjelaskan perbedaan antara partai Baath yang berkuasa di Suriah dan partai Baathnya Saddam Hussein.
“Suriah telah berdiri dengan oposisi di Iraq … dan kami tidak bisa bicara tentang dua partai itu dengan cara yang sama. Ada perbedaan antara rezim kriminal yang digunakan untuk memerintah di Irak atas nama partai Baath dengan partai Baath yang ada di Suriah,” katanya.
Saghir menambahkan, “Kami harus mempertimbangkan bahwa Irak akan menjadi negara yang paling terpengaruh oleh ketidakstabilan di Suriah.”
Sementara itu, Khalid al-Asadi, seorang anggota dari Aliansi Nasional, mengatakan bahwa pihak asing yang telah menghasut kerusuhan di Suriah, ia menyangkal aksi protes di Suriah didorong oleh permintaan yang tulus untuk reformasi dan kebebasan.
“Kerusuhan di Suriah adalah masalah yang sangat sensitif bagi Irak dan kami tidak harus membandingkannya dengan pemberontakan negara Arab lainnya,” kata Asadi.
Latif al-Amidi, seorang sarjana di Sekolah ‘Islam’ di Najaf, mengatakan ia “takut fundamentalis Sunni menduduki kekuasaan di Suriah jika Presiden Bashar al-Assad dengan partai Baathnya berhasil digulingkan.”
Hamid Fadil, seorang profesor ilmu politik di Universitas Baghdad mengatakan bahwa Syi’ah, yang menunggu selama 80 tahun untuk menduduki kekuasaan di Irak, sangat khawatir dikelilingi oleh rezim Sunni di kawasan itu.
Michel Aflaq, seorang Kristen, dan Salah al-Bitar, seorang Muslim, mendirikan partai Baath Suriah pada tahun 1947. Partai sekuler, yang menggabungkan nasionalisme Arab dan sosialisme, berkuasa di Suriah pada tahun 1963 dan di Irak pada tahun 1968. (fq/aby)
Sumber: http://www.eramuslim.com

NATO Klaim Berhasil Tewaskan Tokoh Kunci Al-Qaidah di Afghanistan

Itali dan Perancis Boikot Minyak Gaddafi