Taruhan 51:49 Tony Blair Berdampak Kematian Jutaan Warga Irak

Istri mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengatakan bahwa keputusan untuk menginvasi Irak adalah sebuah pertaruhan seberapa pun meyakinkannya Blair memperlihatkan hal yang sebaliknya, surat kabar the Independen melaporkan pada hari Minggu.
Keputusan untuk bergabung dalam invasi pimpinan AS tahun 2003 itu memiliki perbandingan “51:49”, meskipun suaminya berusaha keras memperlihatkannya sebagai “70:30”, ujar Cherie Blair seperti yang dikutip ketika ia menghadiri Festival Cheltenham Literary di Inggris barat daya.
Komentar itu keluar sehari setelah suaminya � yang menjabat selama 10 tahun sejak 2007 � dicela keras memiliki “tangan yang berlumuran darah” dan dituduh sebagai “penjahat perang” oleh seorang ayah yang kehilangan anak laki-lakinya di awal kampanye militer di Irak.
“Seringkali pilihan-pilihannya tidak terlihat jelas,” ujar Cherie Blair.
“Tidak bersifat hitam dan putih. Daripada berposisi 80:20, banyak dari pilihan itu yang sebenarnya lebih ke 51:49.”
“Ketika mengambil keputusan itu, Tony mampu mengambil langkah mundur, menyerap semua informasi dan kemudian memilih.”
“Ia juga sangat pandai dalam meyakinkan orang-orang bahwa selama ini keputusannya adalah 70:30.”
“Saya rasa invasi ke Irak adalah salah satu dari banyak pertanyaan yang bersifat 51-49.”
Ratusan ribu orang di Inggris memprotes invasi Irak di awal perang terjadi.
Invasi tahun 2003 itu dipandang oleh para kritikus sebagai sebuah aksi agresi yang melanggar hukum internasional.
Kebijakan okupasi AS menyebabkan negara tersebut mengalami kekacauan dan hampir terjerumus dalam perang sipil.
Sekitar 1.3 juta orang Irak terbunuh sebagai akibat dari invasi tersebut, sementara jutaan lainnya melarikan diri dari negara itu.
Kritikus berargumen bahwa stabilitas baru-baru ini di Irak tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk kejahatan menginvasi Irak, dan menyerukan diadilinya arsitek perang atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, disebut memiliki tangan yang “bersimbah darah” oleh ayah seorang prajurit Inggris yang kehilangan nyawanya dalam invasi ke Irak. Kecaman tersebut dilontarkan kepada Blair setelah acara peringatan bagi para prajurit yang tewas dalam invasi Irak, di ibukota Inggris, London.
Mantan perdana menteri tersebut bergabung dengan Ratu Elizabeth II, Presiden Irak Jalal Talabani, Perdana Menteri Gordon Brown dan para prajurit serta kerabatnya dalam sebuah upacara peringatan untuk mengenang 179 orang prajurit Inggris yang terbunuh setelah menginvasi Irak.
Cercaan tersebut terjadi dalam acara resepsi di Katedral Saint Paul yang digelar setelah upacara peringatan. Kala itu, Uskup Besar Canterbury mengkritik para pembuat kebijakan karena tidak mempertimbangkan benar-benar mengenai nyawa yang harus dibayarkan di medan perang Irak.
Peter Brieley, ayah Shaun, 28, yang kehilangan nyawa pada bulan Maret 2003, menolak untuk menjabat tangan Blair meski sang mantan perdana menteri sudah mengulurkan tangannya. Dengan ketus, ia mengatakan kepada Blair, “Saya tidak akan menjabat tangan Anda yang berlumuran darah.”
“Menurut saya, Tony Blair adalah seorang penjahat perang. Saya tidak sudi berada satu ruangan dengannya. Saya bahkan tidak percaya bahwa dia diundang ke acara resepsi ini,” tambahnya seusai acara resepsi di kawasan London tengah. (rin/me/sm)
Sumber: http://suaramedia.com

Tolak Turuti Ambisi Amerika, Tentara Inggris Dihajar Hukum

"Amerika adalah Negara Pecandu Minyak yang Gila Perang"